Agama
Beranda » Berita » Khutbah Jumat: MERAJUT PERBEDAAN MENJADI HARMONI PERSATUAN

Khutbah Jumat: MERAJUT PERBEDAAN MENJADI HARMONI PERSATUAN

Khutbah Jumat: MERAJUT PERBEDAAN MENJADI HARMONI PERSATUAN

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَنَا مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَجَعَلَنَا شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِنَتَعَارَفَ، وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَجَعَلَ الْوَحْدَةَ وَالْمَحَبَّةَ سَبِيْلًا إِلَى الْفَلَاحِ وَالنَّجَاةِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ،فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Ketakwaan bukan hanya diwujudkan dalam ibadah individual, tetapi juga dalam bagaimana kita memperlakukan sesama manusia. Orang yang bertakwa akan berusaha menjaga lisan, menghormati perbedaan, menjauhi permusuhan, serta menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.

Jawara Depok Gandeng Bank Jakarta Syariah, Buka Akses Modal UMKM hingga Rp2 Miliar

Pada kesempatan Jumat yang penuh keberkahan ini, marilah kita merenungkan sebuah tema yang sangat penting dalam kehidupan kita bersama, yaitu “Merajut Perbedaan Menjadi Harmoni Persatuan.”

Tema ini menjadi sangat relevan karena kita hidup di tengah masyarakat yang begitu beragam.

Perbedaan merupakan kenyataan yang tidak mungkin kita hindari, sehingga yang harus kita pikirkan bukan bagaimana menghapus perbedaan, melainkan bagaimana mengelola perbedaan agar menjadi kekuatan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

LF PBNU Tetapkan 1 Rabiul Akhir 1448 H pada 13 September 2026, Ini Jadwal Ayyamul Bidh’i

Kita adalah bangsa yang sangat majemuk. Indonesia terbentang luas dari Sabang sampai Merauke dan terdiri atas ribuan pulau, dengan jumlah penduduk mencapai ratusan juta jiwa yang hidup dalam berbagai latar belakang sosial dan budaya.

Di negeri ini terdapat ratusan kelompok suku bangsa, ratusan bahasa daerah, beragam adat istiadat, kesenian, pakaian tradisional, rumah adat, makanan khas, serta berbagai bentuk tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Badan Bahasa mencatat ratusan bahasa daerah yang digunakan masyarakat Indonesia. Sementara itu, data geospasial nasional juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ribuan pulau yang tersebar dari barat hingga timur.

Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-41: Mengikuti Hawa Nafsu dengan Syariat

Kemajemukan tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang dibangun dari keseragaman, melainkan bangsa yang dipersatukan di tengah keberagaman.

Kita berbeda dalam bahasa dan logat bicara. Kita berbeda dalam suku, adat, budaya, makanan, pakaian, kesenian, dan kebiasaan sosial. Bahkan Allah menciptakan manusia dengan warna kulit dan bentuk fisik yang berbeda-beda, tetapi semua perbedaan itu tidak menghalangi kita untuk hidup berdampingan sebagai satu bangsa.

PERBEDAAN ADALAH SUNNATULLAH

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Islam mengajarkan bahwa perbedaan merupakan bagian dari sunnatullah. Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai bentuk, warna, bahasa, karakter, dan latar belakang, bukan tanpa tujuan.

Lewat Program Umrah Happy, Tamsy Tour Buka Jalan Produk UMKM Depok Mendunia

Di balik keberagaman tersebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah yang seharusnya membuat manusia semakin mengenal, menghargai, dan mensyukuri ciptaan-Nya.Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa-bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 22)

Perhatikanlah ayat tersebut dengan hati yang jernih. Allah menyebut perbedaan bahasa dan warna kulit sebagai ayat atau tanda kebesaran-Nya. Maka ketika kita melihat manusia dengan bahasa, warna kulit, bentuk fisik, dan budaya yang berbeda, seharusnya kita semakin mengagungkan Allah, bukan merendahkan sesama manusia.

MTQ Nasional XXXI di Semarang Makin Inklusif, Teman Tuli Ikut Tampilkan Tilawah dan Kitabah Al-Qur’an

Kalau semua manusia mempunyai bahasa yang sama, warna kulit yang sama, budaya yang sama, dan kebiasaan yang sama, tentu kehidupan manusia akan kehilangan sebagian dari keindahannya.

Allah justru menunjukkan kekuasaan-Nya melalui keberagaman ciptaan. Karena itu, menghina perbedaan berarti kita gagal membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di hadapan kita.

BERBEDA SUKU UNTUK SALING MENGENAL

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Jurnalis Depok Gelar Doa Bersama untuk Lima Wartawan yang Hilang di Selat Sunda

Allah SWT juga menjelaskan bahwa keberagaman suku dan bangsa merupakan bagian dari kehendak-Nya. Allah tidak menciptakan manusia hanya dalam satu kelompok, tetapi menjadikannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tujuannya bukan agar manusia saling membanggakan kelompoknya, melainkan agar manusia saling mengenal. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ada satu kata yang sangat penting dalam ayat ini, yaitu لِتَعَارَفُوا — lita‘ārafū, agar kalian saling mengenal. Allah tidak mengatakan bahwa perbedaan itu untuk saling menghina, saling bermusuhan, atau saling merasa paling unggul. Allah justru menjadikan perbedaan sebagai pintu untuk membangun hubungan, persaudaraan, kerja sama, dan saling memahami.

Karena itu, orang Jawa tidak boleh merasa lebih tinggi hanya karena Jawanya. Orang Sunda tidak boleh merasa lebih mulia hanya karena Sundanya, demikian pula orang Batak, Bugis, Madura, Minang, Banjar, Dayak, Bali, Papua, Betawi, dan suku-suku lainnya.

Semua manusia sama-sama berasal dari Adam dan Hawa, sedangkan kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh suku, keturunan, warna kulit, maupun bahasa, tetapi oleh ketakwaan.

KEMULIAAN BUKAN KARENA SUKU DAN WARNA KULIT

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan umatnya agar tidak membangun kemuliaan berdasarkan ras, suku, warna kulit, atau keturunan.

Dalam Islam, manusia tidak menjadi mulia hanya karena lahir dari keluarga tertentu atau berasal dari kelompok tertentu. Ukuran kemuliaan yang sebenarnya adalah iman, ketakwaan, dan akhlak yang baik. Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan ketakwaan.” (HR. Ahmad)

Hadis ini merupakan prinsip penting dalam membangun kehidupan yang harmonis. Perbedaan suku dan warna kulit tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.

Seorang Muslim harus mampu melihat manusia sebagai sesama makhluk Allah yang mempunyai kehormatan dan hak untuk diperlakukan secara adil.

PERBEDAAN JANGAN MENJADI SUMBER PERPECAHAN

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Masalahnya bukan pada adanya perbedaan, karena perbedaan memang merupakan sunnatullah. Masalahnya adalah ketika perbedaan disertai kesombongan, fanatisme buta, kebencian, saling merendahkan, dan keinginan untuk memenangkan kelompok sendiri dengan cara apa pun. Pada saat itulah perbedaan yang seharusnya menjadi keindahan berubah menjadi sumber perpecahan.

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini mengajarkan bahwa persatuan membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi daripada kepentingan kelompok. Kita boleh mempunyai identitas yang berbeda, tetapi kita harus mempunyai titik temu yang menyatukan.

Sebagai umat Islam, kita memiliki iman kepada Allah, mengikuti Rasulullah ﷺ, dan mempunyai kewajiban bersama untuk menjaga persaudaraan serta kemaslahatan masyarakat.

JANGAN SALING MENGHINA

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Allah SWT juga memberikan peringatan yang sangat jelas agar perbedaan tidak berubah menjadi penghinaan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok.”(QS. Al-Hujurat: 11).

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang, terutama ketika media sosial membuat setiap orang begitu mudah berkomentar. Jangan karena berbeda suku kemudian kita menghina, jangan karena berbeda budaya lalu kita merendahkan, dan jangan karena berbeda pandangan kemudian kita memutuskan persaudaraan.

Lisan dan jari-jari kita harus menjadi sarana menyebarkan kebaikan, bukan menjadi alat untuk menyebarkan kebencian.

Seorang Muslim harus menjadi penyejuk, bukan penyulut. Seorang Muslim harus menjadi jembatan, bukan tembok, serta menjadi perekat, bukan pemecah. Inilah akhlak yang sangat dibutuhkan di tengah masyarakat yang majemuk seperti Indonesia.

MERAJUT PERBEDAAN SEPERTI MENENUN KAIN

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Cobalah kita perhatikan sebuah kain tenun. Kain yang indah tidak hanya terdiri atas satu benang dan satu warna, tetapi tersusun dari banyak benang yang berbeda dan dirajut menjadi satu kesatuan. Setiap benang mempunyai posisi dan fungsi masing-masing, namun ketika semuanya dirajut dengan baik, lahirlah kain yang kuat sekaligus indah.

Demikian pula kehidupan bangsa kita. Perbedaan suku, bahasa, budaya, dan tradisi adalah seperti benang-benang yang menyusun kain Indonesia. Jika benang-benang itu saling menarik dan merusak, kain akan robek, tetapi jika dirajut dengan baik, perbedaan justru menghasilkan keindahan dan kekuatan.

Karena itu, jangan bertanya, “Bagaimana agar semua orang menjadi seperti saya?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Bagaimana kita yang berbeda-beda dapat hidup bersama dalam kebaikan?”

Inilah sikap dewasa yang harus kita bangun, yaitu mampu berbeda tanpa bermusuhan, mampu tidak sepakat tanpa saling membenci, dan mampu menjaga persaudaraan meskipun memiliki latar belakang yang berbeda.

TIGA SIKAP MERAWAT PERSATUAN

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Pertama, jangan merasa paling tinggi karena identitas kelompok.

Jangan merasa lebih mulia karena suku, keturunan, jabatan, kekayaan, pendidikan, organisasi, maupun kelompok sosial kita. Semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah pemberian Allah dan sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh-Nya.

Kedua, perbanyak ta’aruf atau saling mengenal.

Banyak prasangka muncul karena kita tidak mengenal orang lain dengan baik, sehingga kita mudah menilai hanya berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Dengan saling mengenal, kita akan memahami bahwa di balik perbedaan terdapat banyak persamaan dan banyak kebaikan yang dapat kita bangun bersama.

Ketiga, kuatkan persaudaraan di atas perbedaan.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”(QS. Al-Hujurat: 10).

Persaudaraan tidak berarti semua orang harus sama dalam segala hal. Persaudaraan berarti kita mampu menjaga kasih sayang ketika menemukan perbedaan, mampu menghormati ketika tidak sepakat, dan mampu bekerja sama dalam perkara yang baik.

INDONESIA ADALAH RUMAH BERSAMA

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Indonesia adalah rumah kita bersama. Rumah ini terlalu luas untuk hanya dimiliki oleh satu suku, terlalu indah jika hanya memiliki satu budaya, dan terlalu kaya jika hanya mengenal satu warna. Karena itu, tugas kita bukan menghapus keberagaman, melainkan merawatnya agar menjadi kekuatan.

Jangan wariskan kepada anak-anak kita budaya kebencian. Wariskan kepada mereka budaya saling menghormati, saling mengenal, saling menolong, dan saling menjaga. Ajarkan kepada generasi berikutnya bahwa orang yang berbeda bukanlah musuh, melainkan sesama manusia yang harus dihormati dan diperlakukan dengan adil.

Mari kita jadikan masjid sebagai tempat bertemunya hati. Dan mari kita jadikan lingkungan kita sebagai ruang untuk saling menghormati dan membantu. Mari kita jadikan perbedaan sebagai jalan untuk semakin mengenal kebesaran Allah dan semakin kuat membangun persaudaraan.

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Kita tidak harus menjadi sama untuk menjadi bersatu. Selain itu, kita boleh berbeda bahasa, berbeda suku, berbeda budaya, dan berbeda latar belakang, tetapi kita dapat berjalan bersama dalam kebaikan. Kita boleh mempunyai perbedaan, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita orang-orang yang mampu merajut perbedaan menjadi harmoni, mengubah keberagaman menjadi kekuatan, dan menjadikan persatuan sebagai jalan menuju kemaslahatan.

Dan semoga Allah menjaga negeri kita dari segala bentuk fitnah, perpecahan, kebencian, dan permusuhan. Kita juga berharap, semoga Allah menjadikan Indonesia negeri yang aman, damai, bersatu, adil, makmur, serta diberkahi Allah SWT.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ وَحْدَةَ الْأُمَّةِ لَا تَعْنِيْ إِلْغَاءَ الِاخْتِلَافِ، وَلٰكِنَّهَا تَعْنِيْ أَنْ نَجْعَلَ الْاخْتِلَافَ سَبَبًا لِلتَّعَارُفِ وَالتَّعَاوُنِ، لَا سَبَبًا لِلتَّبَاغُضِ وَالتَّنَازُعِ

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Mari kita pulang dari masjid hari ini dengan membawa satu kesadaran penting. Kita boleh berbeda, tetapi jangan bermusuhan; kita boleh tidak sama, tetapi tetap bersama; kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.

Inilah wajah Islam yang membawa rahmat dan inilah akhlak yang harus kita hadirkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar persaudaraan kita senantiasa dijaga. Semoga Allah menyatukan hati kita, memperbaiki hubungan di antara kita, dan menjauhkan bangsa kita dari segala bentuk perpecahan yang merusak persatuan.

اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.

و اجْعَلْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيْسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا مُتَّحِدًا، مُتَرَاحِمًا، مُتَعَاوِنًا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى. واَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَوَحِّدْ صُفُوفَنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.

يا الله، اَللّٰهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيْسِيَا مِنَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلَهَا وَشَعْبَهَا، وَاحْفَظْ عُلَمَاءَهَا وَقَادَتَهَا وَمُجْتَمَعَهَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا سَبَبًا فِي الْوِئَامِ، وَلَا تَجْعَلْنَا سَبَبًا فِي الْخِصَامِ.اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا جُسُورًا لِلتَّقَارُبِ، وَلَا تَجْعَلْنَا جُدْرَانًا لِلتَّفَرُّقِ.اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *