Doa
Beranda » Berita » Doa Has-shantukum, Dzikir Perlindungan yang Sarat Makna: Dari Al-Adzkar Imam Nawawi hingga Istighotsah KH Romli Tamim

Doa Has-shantukum, Dzikir Perlindungan yang Sarat Makna: Dari Al-Adzkar Imam Nawawi hingga Istighotsah KH Romli Tamim

Kiai Lukman Nursalim memimpin acara Istighotsah dalam rangka Satu Abad Masehi Nahdlatul Ulama di kantor PCNU Kota Depok, Jumat (30/1/2026) malam. (dok. sajada.id)

SAJADA.ID— Dalam tradisi dzikir dan doa kaum Muslimin, terdapat bacaan yang dikenal dengan sebutan Has-shantukum. Bacaan ini berisi permohonan perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai keburukan.

Bacaan tersebut tidak hanya dikenal dalam tradisi istighotsah. Jejaknya juga dapat ditemukan dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi. Kemudian, bacaan ini menjadi bagian dari rangkaian istighotsah yang disusun KH Muhammad Romli Tamim di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang.

Lafaz Doa Has-shantukum

Bacaan yang masyhur dalam rangkaian istighotsah tersebut adalah:

Doa Belajar dan agar Mendapat Ilmu yang Bermanfaat

حَصَّنْتُكُمْ بِالْحَيِّ الْقَيُّومِ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ أَبَدًا، وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوْءَ بِأَلْفِ أَلْفِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Ḥashantukum bil-Ḥayyil-Qayyūmilladzī lā yamūtu abadan, wa dafa‘tu ‘ankumus-sū’a bi-alfi alfi lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘aliyyil-‘aẓīm.

“Aku memohonkan perlindungan bagi kalian dengan Dzat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, yang tidak akan pernah mati. Aku menolak dari kalian segala keburukan dengan sejuta kali bacaan lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm.”

Dalam sejumlah susunan istighotsah yang beredar, bacaan tersebut dilakukan tiga kali. Ada pula versi yang mencantumkan tambahan pengulangan pada bagian alfi alfi. Karena itu, redaksi hendaknya mengikuti kitab atau ijazah wirid yang menjadi pegangan jamaah.

Kitab Al-Adzkar Imam Nawawi

Menariknya, bacaan Has-shantukum bukan semata-mata muncul dalam tradisi istighotsah Nusantara. Imam Nawawi juga mencantumkannya dalam Al-Adzkar.

PCNU Kota Depok Kembali Gelar Kegiatan Malam Selasa Kliwon

Dalam pembahasan mengenai bacaan ketika seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan pada dirinya, anaknya, atau orang lain, Imam Nawawi menukil keterangan Imam Abu Muhammad al-Qadhi Husain.

Dikisahkan, seorang nabi melihat jumlah kaumnya yang banyak dan merasa kagum. Kemudian sebagian mereka tertimpa kematian. Nabi tersebut kemudian mendapat petunjuk agar melakukan perlindungan dengan membaca:

حَصَّنْتُكُمْ بِالْحَيِّ الْقَيُّومِ الَّذِي لَا يَمُوتُ أَبَدًا، وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوءَ بِلاَ حَوْلٍ وَلاَ قُوَّةٍ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

Imam Nawawi menukil bahwa kebiasaan al-Qadhi Husain ketika melihat para sahabat atau muridnya dan merasa kagum terhadap keadaan mereka adalah membacakan doa tersebut sebagai bentuk perlindungan.

Wirid dan Zikir: Rutinitas Lisan atau Revolusi Kesadaran?

Al-Adzkar, Imam Nawawi, dalam pembahasan tentang bacaan ketika melihat sesuatu yang mengagumkan. Dalam salah satu edisi, bagian ini tercantum sekitar halaman 320.

Namun, kisah yang menjadi dasar nukilannya tidak boleh langsung disebut sebagai hadis Nabi Muhammad SAW.

Dalam Tharh at-Tatsrib, al-Hafizh al-Iraqi juga membahas riwayat tersebut. Keterangan yang tersedia menyebut riwayat kisah itu datang tanpa sanad dan dipandang sebagai cerita yang kemungkinan diterima dari tradisi Bani Israil.

Mengapa Disebut Bacaan Perlindungan?

Kata حَصَّنْتُكُمْ (ḥashantukum) berasal dari akar kata yang bermakna menjaga, melindungi, atau membentengi.

Hajat Terkabul, Salah Satu Keutamaan Istighotsah

Dengan demikian, inti bacaan ini adalah memohon agar seseorang berada dalam penjagaan Allah SWT.

Yang menjadi sumber perlindungan bukan kekuatan manusia. Bukan pula benda tertentu, tempat tertentu, atau kekuatan gaib selain Allah.

Bacaan tersebut langsung menyebut:

Doa Khusus Bagi Mayit, Arab, Latin, dan Terjemahnya

بِالْحَيِّ الْقَيُّومِ

Bil-Ḥayyil-Qayyūm.

Yakni berlindung kepada Allah Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus seluruh makhluk.

Dua nama Allah ini memiliki makna yang sangat dalam. Allah adalah Al-Hayy, Dzat Yang Mahahidup dan tidak pernah mengalami kematian. Allah juga Al-Qayyum, Dzat yang berdiri sendiri dan menegakkan serta mengurus seluruh kehidupan makhluk.

JATMAN Depok Gelar Istighotsah Sambut Satu Abad Masehi NU

Karena itu, doa tersebut sebenarnya mengajarkan satu prinsip tauhid: perlindungan sejati hanya berasal dari Allah SWT.

Perlindungan dari Keburukan

Bagian berikutnya berbunyi:

وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوْءَ

Wa dafa‘tu ‘ankumus-sū’a.

Aku menolak dari kalian segala keburukan.”

Kata as-sū’ memiliki cakupan luas. Ia dapat dipahami sebagai berbagai bentuk keburukan yang menimpa manusia.

Namun, doa tidak mengajarkan manusia untuk merasa kebal dari ujian. Seorang Muslim tetap harus berikhtiar, berhati-hati, menjaga kesehatan, menjaga keamanan, dan menghindari sebab-sebab keburukan.

Dzikir menjadi bagian dari ikhtiar batin seorang hamba.

Kekuatan Kalimat La Haula wa La Quwwata Illa Billah

Bagian akhir doa mengandung kalimat yang sangat agung:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘aliyyil-‘aẓīm.

“Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Kalimat ini mengajarkan manusia agar tidak menggantungkan keselamatan kepada kemampuan diri sendiri.

Manusia boleh memiliki ilmu, harta, jabatan, jaringan, teknologi, dan kekuatan. Namun semua itu pada hakikatnya tetap berada di bawah kehendak Allah SWT.

Karena itu, Has-shantukum bukan sekadar doa agar seseorang terhindar dari bahaya. Ia juga merupakan pendidikan tauhid agar manusia menyadari keterbatasannya.

Istighotsah KH Romli Tamim

Dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama, bacaan Has-shantukum kemudian sangat dikenal melalui rangkaian istighotsah yang disusun KH Muhammad Romli Tamim. Kitab tersebut dikenal dengan judul Al-Istighatsah bi Hadrati Rabbil Bariyyah.

KH Muhammad Romli Tamim merupakan ulama kelahiran Bangkalan, Madura, yang kemudian menjadi salah satu tokoh penting Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang. Beliau adalah mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Susunan istighotsah tersebut ditulis pada 1951. Sepuluh tahun kemudian, pada 1961, kitab tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh putranya, KH Musta’in Romli.

Dalam rangkaian tersebut, Has-shantukum ditempatkan setelah bacaan Yasin dan takbir yang memohon pertolongan Allah. Susunan ini menunjukkan hubungan makna yang kuat: setelah mengagungkan Allah dan memohon pertolongan-Nya, jamaah memohon perlindungan kepada Dzat Yang Mahahidup dan Mahamengurus seluruh makhluk.

Dari Tradisi Tarekat hingga Tradisi Istighotsah

Menurut catatan sejarah pesantren, istighotsah KH Romli Tamim pada mulanya telah lama diamalkan di lingkungan murid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Kemudian amalan tersebut semakin luas di kalangan masyarakat Nahdliyin. Di Jawa Timur, salah satu ulama yang berperan dalam mempopulerkannya adalah KH Imron Hamzah, yang pernah menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur.

Saat ini rangkaian istighotsah tersebut telah menjadi bagian dari tradisi doa bersama di banyak pesantren, majelis taklim, lembaga pendidikan, dan kegiatan warga Nahdlatul Ulama. Rangkaian susunan istighotsah KH Romli Tamim yang mencantumkan bacaan Has-shantukum dibaca sebanyak tiga kali.

Keutamaan

Ada beberapa hikmah utama yang dapat diambil dari bacaan ini.

Pertama, meneguhkan tauhid.Seorang Muslim diarahkan untuk menggantungkan perlindungan kepada Allah SWT.

Kedua, mengingatkan kelemahan manusia. Manusia tidak mempunyai daya dan kekuatan mutlak. Semua kekuatan pada akhirnya berasal dari Allah.

Ketiga, membangun sikap tawakal. Dzikir mengajarkan agar ikhtiar lahir disertai ketergantungan hati kepada Allah.

Keempat, menjadi doa perlindungan.Isi bacaan secara jelas memohon agar berbagai keburukan dijauhkan dari seseorang.

Kelima, menjaga hati dari rasa kagum berlebihan.

Keterangan yang dinukil Imam Nawawi berkaitan dengan keadaan ketika seseorang melihat sesuatu yang mengagumkan pada diri sendiri, anak, murid, atau orang lain.

Jangan Sampai Dzikir Berubah Menjadi Kesombongan

Ada pelajaran yang sangat halus di balik bacaan ini.

Manusia terkadang merasa kagum terhadap dirinya sendiri. Ia kagum terhadap kesehatan, kecantikan, kekayaan, keberhasilan, anak-anak, ilmu, jabatan, bahkan banyaknya pengikut.Padahal, semua itu adalah karunia Allah.

Karena itu, ketika melihat sesuatu yang mengagumkan, seorang Muslim tidak berhenti pada rasa kagum. Ia mengembalikannya kepada Allah dengan doa dan dzikir.

Dengan demikian, Has-shantukum bukan hanya doa perlindungan dari keburukan yang datang dari luar. Ia juga dapat menjadi pendidikan batin agar manusia tidak terlena oleh nikmat yang dimilikinya.

Antara Ikhtiar, Dzikir, dan Tawakal

Mengamalkan Has-shantukum hendaknya tidak dipahami sebagai pengganti ikhtiar.

Orang yang ingin terhindar dari penyakit tetap harus menjaga kesehatan. Juga orang yang ingin aman tetap harus menjaga keselamatan. Orang tua tetap harus mendidik anak. Seorang Muslim tetap harus menghindari sebab-sebab kemudaratan.

Dzikir menjadi penguat hati dalam menjalani semua ikhtiar tersebut. Inilah makna tawakal yang benar: berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh pengharapan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Warisan Ulama yang Perlu Dijaga dengan Ilmu

Perjalanan Has-shantukum dari nukilan dalam Al-Adzkar Imam Nawawi hingga menjadi bagian dari istighotsah KH Romli Tamim menunjukkan bagaimana khazanah doa dan dzikir diwariskan melalui tradisi keilmuan ulama.

Namun, kecintaan terhadap amalan para ulama juga harus disertai ketelitian ilmiah.

Kita boleh mengamalkannya sebagai doa dan wirid yang memiliki makna baik. Tetapi kita juga perlu jujur dalam menjelaskan kedudukannya.

Ia tercantum dalam Al-Adzkar, dinukil dari al-Qadhi Husain, kemudian menjadi bagian dari susunan istighotsah KH Romli Tamim. Namun, kisah yang menjadi dasar nukilannya tidak layak langsung disebut sebagai hadis Nabi SAW yang sahih.

Dengan sikap seperti itu, tradisi dzikir tetap terjaga, sementara amanah ilmiah juga tetap dipelihara.

Pada akhirnya, inti Has-shantukum adalah sebuah pengakuan seorang hamba bahwa dirinya lemah dan Allah Mahakuasa:

حَسْبُنَا اللهُ، وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Cukuplah Allah bagi kita. Dialah sebaik-baik tempat berserah.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

(Syahruddin El Fikri/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *