Hadits Arbain An-Nawawiyah ke-41: Mengikuti Hawa Nafsu dengan Syariat
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam).”
(Hadits ini diriwayatkan dalam Kitab Al-Hujjah dengan sanad yang dinilai hasan oleh sebagian ulama. Imam An-Nawawi memasukkan hadits tersebut dalam Kitab Arbain, karena kandungannya yang agung.)
Penjelasan Hadits
Hadits ini mengajarkan bahwa ukuran keimanan bukan hanya pengakuan lisan atau ibadah semata. Tetapi sejauh mana seseorang mampu menundukkan keinginan pribadinya kepada tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Manusia memiliki banyak keinginan:
- Menginginkan pujian
- Ingin kaya
- Ingin menang sendiri
- Ingin mengikuti syahwat
- Ingin marah dan membalas dendam
Semua keinginan itu sah dan tidak salah. Yang terpenting tetap berada dalam koridor syariat. Artinya, silakan berkeinginan, tapi tetap menjaga syariat Allah.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa orang beriman menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai standar dalam berpikir, mencintai, membenci, memilih, dan bertindak.
Allah SWT berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak akan beriman sampai mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa: 65)
Pelajaran Hadits ke-41
- Iman harus tercermin dalam sikap dan perilaku.
- Wajib mengendalikan hawa nafsu dengan berpedoman pada syariat.
- Al-Qur’an dan Sunnah adalah pedoman hidup.
- Jangan menjadikan keinginan pribadi sebagai ukuran kebenaran.
- Cinta kepada Rasulullah dengan mengikuti ajarannya.
(Syahruddin/sajada.id)






Komentar