Hadits
Beranda » Berita » Hadits Arba’in Nawawi No. 36: Keutamaan Menolong dan Memudahkan Urusan Sesama Muslim

Hadits Arba’in Nawawi No. 36: Keutamaan Menolong dan Memudahkan Urusan Sesama Muslim

Dua orang anak sedang belajar mengaji kepada seorang ulama. (Ilustrasi by AI)

SAJADA.ID— Islam mengajarkan bahwa kebaikan kepada sesama manusia memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Menolong orang yang sedang mengalami kesulitan, memberikan kemudahan, menutup aib, dan membantu seseorang dalam menuntut ilmu merupakan amal yang dijanjikan pahala besar oleh Allah SWT.

Pesan tersebut terkandung dalam Hadits Arba’in Nawawi nomor 36, yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

Teks Hadits Arba’in Nawawi No. 36

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ.

Artinya: “Barang siapa melepaskan satu kesusahan dari seorang Mukmin di dunia, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa memberikan kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan, Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.

MT Balwan Depok Silaturahmi ke Dandim 0508, Perkuat Sinergi Keagamaan dan Sosial

Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat menaungi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.

Barang siapa yang amalnya memperlambatnya, nasabnya tidak akan dapat mempercepatnya.” (HR. Muslim)

1. Membantu Menghilangkan Kesusahan

Rasulullah ﷺ bersabda:

Tantan Sulthon Menang Telak di Konferprov PWI Jabar, Usung PWI Jabar Istimewa

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا

“Barang siapa melepaskan satu kesusahan dari seorang Mukmin di dunia…”

Kata kurbah menggambarkan kesusahan yang berat dan menghimpit.

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh bersikap acuh ketika melihat saudaranya berada dalam kesulitan. Bantuan tidak selalu harus berupa uang. Menolong seseorang bisa dilakukan dengan memberikan makanan, mencarikan pekerjaan, membantu menyelesaikan persoalan, memberikan nasihat, mendengarkan keluhannya, atau sekadar hadir ketika ia membutuhkan dukungan.

MT Balai Wartawan Depok Dorong Penguatan Keluarga Hadapi Kampanye LGBTQ

Allah menjanjikan balasan yang luar biasa:

نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat.” Artinya, kebaikan yang kita lakukan kepada manusia tidak akan sia-sia di hadapan Allah.

2. Memudahkan Orang yang Sedang Kesulitan

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ

“Barang siapa memberikan kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan…”

Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras Dikecam Ulama, Pembawa Acara dan Penyelenggara Minta Maaf

Mu’sir adalah orang yang berada dalam kesulitan, terutama kesulitan dalam memenuhi kewajibannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat memberikan kemudahan dengan berbagai cara. Misalnya, seorang pemberi pinjaman memberikan tambahan waktu kepada orang yang belum mampu membayar. Seorang atasan memberikan kesempatan kepada pegawainya yang sedang menghadapi persoalan. Seorang guru memahami keterbatasan muridnya dan membimbingnya dengan sabar.

Prinsipnya sederhana: jangan membuat kesulitan orang lain menjadi semakin berat jika kita mampu memberikan jalan keluar.

PCNU Kota Depok Kembali Gelar Kegiatan Malam Selasa Kliwon

Allah menjanjikan:

يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.”

3. Menutup Aib Orang Lain

Rasulullah ﷺ bersabda:

Kapolres Metro Depok Silaturahim ke PCNU, Tegaskan Komitmen Layani Umat

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”

Islam sangat menjaga kehormatan manusia.

Jika kita mengetahui kekurangan atau kesalahan pribadi seseorang yang tidak perlu diketahui orang lain, jangan menjadikannya bahan pembicaraan.

Apalagi pada zaman media sosial. Sebuah foto, video, atau informasi yang disebarkan dapat membuat aib seseorang diketahui ribuan bahkan jutaan orang. Namun, menutup aib bukan berarti membiarkan kejahatan.

Jika seseorang melakukan kejahatan yang merugikan orang lain dan membutuhkan penanganan, persoalan tersebut harus diselesaikan melalui cara yang benar. Menutup aib berarti tidak menjadikan kesalahan pribadi sebagai bahan mempermalukan dan menghancurkan kehormatan seseorang.

4. Allah Menolong Orang yang Menolong Saudaranya

Salah satu bagian paling terkenal dari hadits ini adalah:

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Ini merupakan prinsip besar dalam kehidupan seorang Muslim.

Jika kita ingin mendapatkan pertolongan Allah, salah satu jalannya adalah menjadi orang yang suka menolong. Jangan menunggu menjadi kaya untuk membantu. Selain itu, jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk berbuat baik. Dan jangan menunggu memiliki jabatan untuk memberikan manfaat.

Kita dapat membantu sesuai kemampuan, bahkan terkadang bantuan paling sederhana justru sangat berarti bagi orang lain.

5. Keutamaan Menuntut Ilmu

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu…”

Islam memberikan kedudukan tinggi kepada orang yang bersungguh-sungguh mencari ilmu.

Menuntut ilmu bukan hanya tentang duduk di ruang kelas. Menghadiri majelis ilmu, membaca kitab, mempelajari Al-Qur’an, mendengarkan kajian, bertanya kepada guru, dan mempraktikkan ilmu juga merupakan bagian dari perjalanan mencari ilmu.

Balasannya:

سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar seharusnya membawa seseorang semakin dekat kepada Allah dan semakin baik akhlaknya.

6. Keutamaan Majelis Al-Qur’an

Rasulullah ﷺ melanjutkan:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama…”

Ada empat keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini.

Pertama, Turunnya Ketenangan

نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ

“Ketenangan turun kepada mereka.”

Majelis Al-Qur’an seharusnya menjadi tempat hati menemukan ketenangan.

Kedua, Diliputi Rahmat

وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ

“Rahmat meliputi mereka.”

Majelis ilmu dan Al-Qur’an merupakan tempat turunnya rahmat Allah.

Ketiga, Dikelilingi Para Malaikat

وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ

“Para malaikat menaungi mereka.”

Ini menunjukkan kemuliaan orang-orang yang berkumpul untuk membaca dan mempelajari kitab Allah.

Keempat, Disebut Allah

وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.”

Tidak ada kemuliaan yang lebih besar daripada ketika nama seorang hamba disebut oleh Allah.

7. Jangan Mengandalkan Nasab

Bagian terakhir hadits berbunyi:

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barang siapa yang amalnya memperlambatnya, nasabnya tidak akan dapat mempercepatnya.”

Islam tidak mengajarkan seseorang untuk berbangga dengan keturunan, keluarga, jabatan, kekayaan, atau status sosial. Nasab yang mulia tidak akan menggantikan amal yang buruk.

Seseorang tidak menjadi mulia hanya karena berasal dari keluarga terpandang. Sebaliknya, orang yang secara sosial sederhana bisa menjadi sangat mulia di sisi Allah karena iman, ilmu, dan amalnya.

Karena itu, ukuran utama kemuliaan manusia adalah ketakwaan dan amal saleh.

Pelajaran Penting Hadits ke-36

Hadits ini memberikan banyak pelajaran penting dalam kehidupan:

Pertama, seorang Muslim harus peduli terhadap kesulitan orang lain.

Kedua, membantu orang lain merupakan jalan mendapatkan pertolongan Allah.

Ketiga, memberikan kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan merupakan amal yang sangat mulia.

Keempat, menjaga kehormatan orang lain harus menjadi bagian dari akhlak seorang Muslim.

Kelima, menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga.

Keenam, majelis Al-Qur’an memiliki keutamaan yang sangat besar.

Ketujuh, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh nasab, harta, jabatan, atau status sosial, tetapi oleh iman dan amalnya.

Relevansi di Zaman Sekarang

Hadits ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, kita sering melihat orang sibuk dengan urusannya sendiri. Padahal, banyak orang di sekitar kita yang sedang menghadapi kesulitan.

Ada yang membutuhkan bantuan ekonomi, ada yang membutuhkan pekerjaan, ada yang membutuhkan ilmu, ada yang membutuhkan pendampingan, dan ada pula yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Karena itu, menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang “apa yang saya dapatkan?”, tetapi juga “apa yang bisa saya berikan kepada orang lain?” Termasuk dalam penggunaan media sosial.

Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat membuka aib, mempermalukan orang, menyebarkan fitnah, atau memperbesar konflik. Sebaliknya, gunakan media sosial untuk berbagi ilmu, membantu orang lain, menyebarkan informasi yang bermanfaat, dan menguatkan persaudaraan.

Penutup

Hadits Arba’in Nawawi nomor 36 mengajarkan sebuah prinsip kehidupan yang sangat indah:

  • Jika ingin mendapatkan pertolongan Allah, jadilah orang yang suka menolong.
  • Jika ingin Allah memberikan kemudahan kepada kita, mudahkanlah urusan orang lain.
  • Jika ingin Allah menutup aib kita, jangan membuka aib orang lain.
  • Jika ingin mendapatkan jalan menuju surga, bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu.
  • Dan jika ingin hidup kita memiliki nilai di hadapan Allah, jangan hanya sibuk mencari kemuliaan melalui nasab dan kedudukan. Bangunlah kemuliaan melalui iman, ilmu, amal, dan manfaat bagi sesama.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ringan tangan dalam membantu, lapang hati dalam memaafkan, menjaga kehormatan sesama, serta istiqamah menuntut ilmu dan mengamalkan Al-Qur’an. Aamiin.

(Syahruddin/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *