Hadits
Beranda » Berita » 10 Kebiasaan Manusia yang Membuka Jalan bagi Setan

10 Kebiasaan Manusia yang Membuka Jalan bagi Setan

Mendirikan shalat lima waktu merupakan bagian dari upaya menjauhi langkah setan. (dok. sajada.id)

SAJADA.ID, DEPOK— Setan adalah musuh manusia yang tidak pernah berhenti menggoda. Ia tidak selalu mengajak manusia melakukan dosa besar secara tiba-tiba. Sering kali godaan itu datang melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dianggap sepele, kemudian berkembang menjadi kelalaian, kemaksiatan, bahkan menjauhkan manusia dari Allah SWT.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah-langkah setan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.” (QS. an-Nur: 21).

MTQ Nasional XXXI di Semarang Makin Inklusif, Teman Tuli Ikut Tampilkan Tilawah dan Kitabah Al-Qur’an

Ayat ini menggunakan istilah خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ (khuṭuwāti asy-syaithān), yaitu langkah-langkah setan. Artinya, godaan setan dapat berlangsung secara bertahap.

Berikut sepuluh kebiasaan yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dapat menjadi jalan bagi setan untuk menggoda manusia.

1. Makan dan Minum dengan Tangan Kiri

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya. Dan apabila ia minum, hendaklah ia minum dengan tangan kanannya. Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim).

Jurnalis Depok Gelar Doa Bersama untuk Lima Wartawan yang Hilang di Selat Sunda

Ini merupakan salah satu contoh yang paling jelas karena Nabi ﷺ secara langsung menyebut perilaku setan.

Karena itu, makan dan minum dengan tangan kanan bukan sekadar budaya, tetapi bagian dari adab seorang Muslim.

Solusi: biasakan tangan kanan untuk makan, minum, memberi dan menerima sesuatu yang baik. Jika seseorang memiliki uzur atau tidak mampu menggunakan tangan kanan, tentu ia tidak berdosa.

Dukungan Meluas, Sembilan DPC Forkabi Depok Tetap Jagokan Barok Jelang Musda

2. Makan Tanpa Membaca Basmalah

Makanan adalah nikmat Allah. Karena itu, seorang Muslim diajarkan untuk mengawali makan dengan menyebut nama-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Umar bin Abi Salamah رضي الله عنه:

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak kecil, bacalah Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis Jabir RA juga dijelaskan bahwa apabila seseorang masuk rumah dan menyebut nama Allah serta menyebut nama Allah ketika makan, setan tidak mendapatkan tempat bermalam dan makanan.

Wakaf Saham Istiqlal: Inovasi Ekonomi Umat atau Perlu Penguatan Tata Kelola?

Sebaliknya, ketika nama Allah tidak disebut, setan mendapatkan kesempatan.

Solusi: sebelum makan ucapkan: بِسْمِ اللَّهِ

Jika lupa dan baru teringat ketika sedang makan, ucapkan: بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

Rumah yang Berkah, Awal Kebahagiaan Keluarga

“Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya.”

3. Masuk Rumah Tanpa Salam dan Zikir

Rumah semestinya menjadi tempat ketenangan, bukan tempat yang dibiarkan kosong dari mengingat Allah.Rasulullah ﷺ mengajarkan agar ketika masuk rumah seseorang menyebut nama Allah.

Zikir dan salam menjadi salah satu bentuk perlindungan spiritual bagi keluarga.Ketika manusia membiasakan rumahnya kosong dari zikir, Al-Qur’an dan ibadah, maka suasana rumah juga mudah dipenuhi kelalaian.

Dari Kampus Menuju Kepemimpinan Global, Prof Gautam Jha Tekankan Empat Karakter Mahasiswa

Solusi: biasakan mengucapkan salam ketika masuk rumah, membaca basmalah, memperbanyak zikir dan menjadikan rumah sebagai tempat membaca Al-Qur’an.

4. Tidur hingga Lalai dari Salat

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ

“Setan mengikat tiga ikatan pada tengkuk kepala salah seorang di antara kalian ketika ia tidur. Pada setiap ikatan ia mengatakan: ‘Malam masih panjang, maka tidurlah.’” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kemudian ketika seseorang bangun, berzikir, berwudu dan salat, ikatan tersebut dilepaskan.

Hadis ini menggambarkan salah satu cara setan menghalangi manusia dari ibadah: membuat manusia nyaman dalam kelalaian.

Bisikan “lima menit lagi” bisa berubah menjadi terlambat Subuh.

Solusi: tidur lebih awal, membaca zikir sebelum tidur, memasang alarm dan segera bangun ketika waktu salat tiba.

5. Menunda-Nunda Kebaikan

Salah satu jebakan paling halus adalah kata: “Nanti.” Nanti mengaji, nanti bersedekah, nanti meminta maaf, nanti bertobat, dan nanti memperbaiki diri.

Padahal manusia tidak pernah mengetahui kapan hidupnya berakhir.Al-Qur’an menggambarkan penyesalan orang yang telah menghadapi kematian:

رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” (QS. al-Mu’minun: 99–100).

Menunda kebaikan bukan berarti ada hadis yang secara literal menyebut setiap penundaan sebagai perbuatan setan. Namun, secara prinsip ia dapat menjadi bagian dari langkah-langkah setan, karena setan ingin manusia menjauh dari amal saleh.

Solusi: jika kebaikan dapat dilakukan hari ini, jangan selalu menunggu esok.

6. Boros dan Menghamburkan Harta

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat kufur kepada Tuhannya.” (QS. al-Isra’: 27).

Ini merupakan salah satu ayat yang paling tegas.Allah SWT menyebut orang yang melakukan tabdzir sebagai: إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ“saudara-saudara setan.”

Menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat berarti menyia-nyiakan nikmat Allah.

Solusi: belanjakan harta sesuai kebutuhan, hindari gengsi konsumtif, sisihkan untuk sedekah dan gunakan harta untuk kemanfaatan.

7. Khamr, Judi, dan Perbuatan yang Memicu Permusuhan

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.” (QS. al-Ma’idah: 90).

Ayat berikutnya menjelaskan:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ

“Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu.”

Inilah salah satu strategi setan: merusak hubungan manusia dengan manusia.

Solusi: jauhi khamr dan perjudian, pilih lingkungan yang baik, serta segera hentikan kebiasaan yang terbukti merusak keluarga dan persaudaraan.

8. Marah dan Kehilangan Kendali

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Sesungguhnya kemarahan itu berasal dari setan.” (HR. Abu Dawud).

Ketika marah, manusia dapat kehilangan pertimbangan.

Lidah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Tangan bisa melakukan kekerasan. Hubungan keluarga dapat rusak hanya karena beberapa detik emosi.

Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Selain itu, seseorang yang marah dianjurkan mengubah posisi: jika berdiri hendaknya duduk; jika masih marah, berbaring.

Solusi: diam ketika marah, membaca ta’awwudz, berwudu, mengubah posisi dan menjauh sementara dari sumber pertengkaran.

9. Menguap dengan Membiarkan Mulut Terbuka

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ: هَاهْ، ضَحِكَ الشَّيْطَانُ

“Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya semampunya. Sesungguhnya apabila seseorang mengucapkan ‘haaah’, setan tertawa.” (HR. al-Bukhari).

Islam mengajarkan bahwa bahkan dalam respons tubuh yang sederhana pun terdapat adab.Ketika menguap, seseorang dianjurkan menahannya semampu mungkin dan menutup mulut.

Solusi: tahan menguap sebisa mungkin dan tutup mulut ketika menguap.

10. Mengikuti Hawa Nafsu dan Langkah-Langkah Setan

Inilah pintu yang paling besar. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6).

Setan tidak selalu berkata: “Lakukan dosa besar sekarang!” Kadang ia hanya berkata: “Sekali saja.” “Tidak ada yang tahu.” “Semua orang juga melakukannya.” “Nanti bertobat.” “Allah Maha Pengampun.”

Dari satu langkah muncul langkah berikutnya.

Karena itu Allah SWT menyebutnya خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ, langkah-langkah setan.

Solusi: jangan hanya melawan dosa ketika sudah besar. Putus sejak langkah pertama. Perbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, memilih lingkungan yang baik dan segera bertobat ketika terjatuh.

Setan Tidak Selalu Mengajak Langsung kepada Dosa Besar

Inilah pelajaran penting dari seluruh pembahasan.Setan sangat sabar.Ia dapat memulai dari hal kecil: tidur sedikit lebih lama → terlambat Subuh → meninggalkan zikir → hati menjadi lalai → malas mengaji → mudah marah → mengikuti hawa nafsu → akhirnya melakukan dosa.

Karena itu, Allah SWT tidak hanya memerintahkan: “Jangan mengikuti setan.” Tetapi: “Jangan mengikuti langkah-langkah setan.”

لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

Jangan ikuti langkah-langkahnya.

Sebab dosa besar sering kali mempunyai pintu kecil.

Benteng Terkuat: Zikir dan Ketaatan

Allah SWT memberikan gambaran bahwa orang-orang bertakwa tidak mudah dikuasai setan. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. al-A’raf: 201).

Perhatikan kata:

تَذَكَّرُوا — mereka segera mengingat Allah.

Maka obat godaan setan bukan hanya kekuatan fisik, kecerdasan, atau banyaknya harta.Benteng utamanya adalah kesadaran kepada Allah.

Ketika hati hidup dengan zikir, manusia lebih mudah mengenali bisikan yang datang. Dan ketika hati lalai, bisikan setan sering terasa seperti keinginan diri sendiri.

Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan umatnya bagaimana melakukan ibadah besar. Beliau juga mengajarkan adab-adab kecil yang ternyata memiliki makna besar.

  • Makan dengan tangan kanan.
  • Membaca basmalah.
  • Mengucapkan salam.
  • Bangun untuk salat.
  • Mengendalikan marah.
  • Menjauhi khamr dan perjudian.
  • Tidak boros.
  • Menjaga lisan dan perilaku.

Semua itu membentuk benteng kehidupan seorang Muslim. Karena perjuangan melawan setan bukan hanya terjadi ketika seseorang berada di masjid atau sedang beribadah.

Perang melawan setan berlangsung setiap hari: di meja makan, di tempat tidur, di rumah, di tempat kerja, di jalan, bahkan di dalam hati dan pikiran kita. Maka jangan menunggu godaan menjadi dosa besar. Putus langkahnya sejak awal.

Sebab setan berjalan melalui langkah-langkah kecil, sementara keselamatan juga dimulai dari langkah kecil: basmalah, zikir, salat, adab, dan ketaatan kepada Allah SWT.

(SFR/SAJADA.ID)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *