Hadits
Beranda » Berita » Rumah yang Berkah, Awal Kebahagiaan Keluarga

Rumah yang Berkah, Awal Kebahagiaan Keluarga

SAJADA.ID, DEPOK— Semua orang tentu menginginkan hidup bahagia. Namun, kebahagiaan tidak selalu berasal dari banyaknya harta, besarnya rumah, atau tingginya kedudukan. Dalam perspektif Islam, kebahagiaan juga sangat berkaitan dengan suasana rumah, keluarga, lingkungan dan keberkahan yang hadir di dalamnya.

Hal tersebut disampaikan Ust. H. Syahruddin El Fikri dalam sebuah pengajian di Depok. Ketua Umum Yayasan Rumah Berkah Nusantara sekaligus Pengasuh Majelis Taklim Rumah Berkah itu mengajak jamaah untuk memahami bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga tempat membangun ketenteraman, ibadah dan keberkahan keluarga.

Menurutnya, Rasulullah ﷺ telah memberikan gambaran mengenai beberapa perkara yang menjadi sumber kebahagiaan seseorang.

Dari Kampus Menuju Kepemimpinan Global, Prof Gautam Jha Tekankan Empat Karakter Mahasiswa

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ: دَارٌ وَاسِعَةٌ، وَجَارٌ صَالِحٌ، وَمَرْكَبٌ هَنِيءٌ، وَزَوْجَةٌ صَالِحَةٌ، وَأَرْبَعٌ مِنْ شَقَاوَةِ الْمَرْءِ: جَارٌ سُوءٌ، وَمَرْكَبٌ سُوءٌ، وَزَوْجَةٌ سُوءٌ، وَدَارٌ ضَيِّقَةٌ

Empat perkara termasuk kebahagiaan seseorang: rumah yang luas, tetangga yang saleh, kendaraan yang nyaman, dan istri yang salehah. Dan empat perkara termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang buruk, kendaraan yang buruk, istri yang buruk, dan rumah yang sempit.”

Darun Wāsi‘un: Bukan Sekadar Rumah yang Besar

Ust. Syahruddin menjelaskan, salah satu ungkapan penting dalam hadis tersebut adalah دَارٌ وَاسِعَةٌ (dārun wāsi‘atun), yakni rumah yang luas.

Secara lahiriah, rumah yang luas tentu menjadi salah satu nikmat. Rumah memberikan ruang bagi keluarga untuk beristirahat, berkumpul dan menjalani kehidupan dengan lebih nyaman.

Ketua PCNU Depok Bekali Mahasiswa Pascasarjana UID dengan Moderasi Beragama

Namun, secara maknawi atau majazi, “rumah yang luas” dapat menjadi gambaran tentang hati yang lapang.

Sebab, boleh jadi seseorang tinggal di rumah yang sangat besar, tetapi hidupnya terasa sempit karena hatinya penuh iri, dengki, amarah, kecewa dan prasangka. Sebaliknya, ada orang yang tinggal di rumah sederhana, tetapi kehidupannya terasa luas karena memiliki hati yang lapang.

“Rumah yang luas jangan hanya kita maknai secara fisik. Secara majazi, kita bisa memaknainya sebagai hati yang lapang. Kalau hati kita lapang, banyak persoalan kehidupan menjadi lebih mudah,” ungkapnya.

Rektor UID Bekali 159 Mahasiswa Pascasarjana dengan Tiga Pesan Penting

Hati yang lapang membuat seseorang tidak mudah tersinggung. Ia mampu memaafkan kesalahan orang lain, menerima kekurangan pasangan, memahami karakter anak-anak dan tidak mudah membesar-besarkan persoalan kecil.

Dengan hati yang lapang, seseorang juga tidak mudah iri melihat keberhasilan orang lain. Ia mampu bersyukur atas apa yang dimiliki tanpa terus-menerus membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Hati Lapang Membuat Hidup Lebih Mudah

Menurut Ust. Syahruddin, banyak persoalan keluarga sebenarnya bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena hati penghuninya terlalu sempit dalam menyikapi masalah.

Suami dan istri bisa bertengkar hanya karena persoalan kecil. Anak dan orang tua bisa saling menjauh karena kesalahpahaman yang belum terselesaikan.

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Masyarakat Diminta Waspada dan Tidak Panik

Hubungan antartetangga pun dapat rusak hanya karena persoalan yang sebenarnya belum selesai dengan komunikasi dan kelapangan hati.

“Kalau hati lapang, masalah yang besar bisa terasa kecil. Tetapi kalau hati sempit, masalah yang kecil bisa terasa sangat besar,” katanya.

Hati yang lapang bukan berarti membiarkan kesalahan atau tidak memiliki prinsip. Hati yang lapang berarti mampu melihat persoalan dengan jernih, tidak tergesa-gesa marah, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk memperbaiki diri.

Rektor UID Buka PBAK 2026, Tekankan Adab dan Prestasi Mahasiswa

Dalam keluarga, kelapangan hati menjadi sangat penting. Suami tidak menuntut istrinya sempurna. Istri tidak menuntut suaminya tanpa kekurangan. Orang tua memahami bahwa anak-anak sedang tumbuh dan belajar. Anak pun memahami bahwa orang tua memiliki keterbatasan.

Ketika masing-masing anggota keluarga belajar melapangkan hati, rumah akan menjadi tempat yang menenangkan, bukan tempat untuk saling menghakimi.

Rumah Luas, Hati Juga Harus Luas

Ust. Syahruddin mengingatkan, jangan sampai seseorang sibuk memperluas rumah secara fisik, tetapi lupa memperluas hati.

Gus Kikin Siapkan Kepengurusan Lewat Musyawarah dan Istikharah

Rumah diperbesar, tetapi kesabaran justru mengecil. Ruang tamu dibuat semakin luas, tetapi ruang untuk memaafkan semakin sempit. Fasilitas rumah semakin lengkap, tetapi komunikasi antara suami, istri dan anak justru semakin berkurang.

“Jangan hanya memperluas bangunan, tetapi perluas juga hati. Rumah boleh sederhana, tetapi hati jangan sempit,” tuturnya.

Dalam konteks inilah, dārun wāsi‘atun dapat menjadi bahan renungan. Kebahagiaan bukan semata-mata tentang berapa meter luas rumah yang kita miliki, tetapi seberapa luas hati kita menerima nikmat, menghadapi ujian dan memperlakukan orang-orang yang hidup bersama kita.

Hati yang lapang akan melahirkan sikap mudah bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan mudah bersabar ketika mendapatkan ujian.

Hati yang lapang juga membuat seseorang tidak terlalu lama menyimpan dendam. Ia tahu bahwa hidup terlalu singkat jika dihabiskan untuk marah kepada orang lain.

Al-Qur’an Menghidupkan Rumah

Selain hati yang lapang, rumah yang berkah juga dapat hidup dengan tilawatil Al-Qur’an.

Ust. Syahruddin mengutip hadis Nabi SAW:

إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ، وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ

Sesungguhnya rumah akan terasa luas bagi penghuninya, para malaikat akan mendatanginya, setan-setan akan menjauhinya dan kebaikannya akan bertambah jika Al-Qur’an dibacahidup di dalamnya. Dan rumah akan terasa sempit bagi penghuninya, para malaikat menjauhinya, setan-setan datang dan kebaikannya berkurang jika di dalamnya tidak ada bacaan Al-Qur’an.

Hadis tersebut mengajarkan bahwa keberkahan rumah tidak hanya ditentukan oleh bangunan, tetapi juga oleh apa yang dilakukan para penghuninya.

Al-Qur’an bukan sekadar dibaca untuk mendapatkan pahala, tetapi juga menjadi petunjuk bagaimana keluarga menjalani kehidupan. Dari Al-Qur’an lahir kesabaran, kejujuran, kasih sayang, pemaafan dan akhlak yang baik.

Karena itu, rumah yang berkah adalah rumah yang luas secara fisik jika mampu, luas secara hati, dan hidup dengan Al-Qur’an.

Empat Kebahagiaan yang Saling Berkaitan

Jika direnungkan, empat perkara dalam hadis Nabi ﷺ tersebut sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat.

Rumah yang luas memberikan kenyamanan tempat tinggal. Tetangga yang saleh memberikan lingkungan yang baik. Kendaraan yang nyaman memudahkan seseorang menjalani aktivitas. Sedangkan pasangan yang salehah memberikan ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga.

Namun semua kenikmatan itu akan terasa lebih sempurna jika seseorang memiliki hati yang lapang dan mampu mensyukurinya.

Rumah besar tanpa ketenangan tidak otomatis membuat bahagia. Kendaraan mewah tanpa kesehatan dan ketenteraman juga tidak otomatis membuat bahagia.

Harta yang banyak pun belum tentu membawa kebahagiaan jika hati selalu merasa kurang. Karena itu, kebahagiaan harus dimulai dari dalam diri.

Perluas rumah jika Allah memberikan kemampuan. Tetapi jangan lupa memperluas hati. Perindah rumah dengan perabot yang baik, tetapi lebih indah lagi jika rumah dihiasi dengan shalat, zikir, bacaan Al-Qur’an dan akhlak yang mulia.

Rumah Berkah Dimulai dari Penghuninya

Menurut Ust. Syahruddin, membangun rumah yang berkah sesungguhnya adalah membangun manusia yang tinggal di dalam rumah tersebut.

Suami berusaha menjadi suami yang baik. Istri menjadi pasangan yang salehah. Orang tua mendidik anak dengan agama dan akhlak. Anak belajar menghormati dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Demikian pula hubungan dengan tetangga harus dijaga. Sebab, Nabi ﷺ memasukkan tetangga yang saleh sebagai salah satu bagian dari kebahagiaan seseorang.

“Jangan sampai rumah kita bagus, tetapi hubungan dengan tetangga buruk. Jangan sampai keluarga kita terlihat harmonis di luar, tetapi di dalam rumah penuh pertengkaran,” katanya.

Ia mengajak setiap keluarga menjadikan rumah sebagai tempat pulang yang menenteramkan. Tempat seseorang mendapatkan kasih sayang setelah menghadapi kerasnya kehidupan di luar.

Dan untuk mewujudkannya, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: melapangkan hati.

Sebab, ketika hati lapang, seseorang lebih mudah bersyukur. Lebih mudah memaafkan, lebih mudah memahami, lebih mudah menerima nasihat, dan lebih mudah menyelesaikan masalah. Dan yang tidak kalah penting, lebih mudah menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.

“Jadi, kalau ingin rumah kita menjadi rumah berkah, jangan hanya bertanya: seberapa besar rumah kita? Tetapi tanyakan juga: seberapa luas hati kita? Apakah di dalam rumah itu ada Al-Qur’an? Selain itu, apakah ada kasih sayang? Apakah ada saling memaafkan dan saling menguatkan?” pungkas Ust. Syahruddin.

Pada akhirnya, rumah yang berkah bukanlah rumah yang paling megah, melainkan rumah yang membuat penghuninya dekat kepada Allah, tenteram bersama keluarga, baik kepada tetangga, serta luas hati dalam menghadapi kehidupan.

(SFR/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *