Oleh Syahruddin El Fikri
SAJADA.ID–Suatu hari, seorang penduduk desa sedang melintasi sebuah gunung. Di tengah perjalanan, ia melihat seorang laki-laki tua yang kondisinya sangat memprihatinkan. Kedua matanya telah buta. Tubuhnya dipenuhi berbagai penyakit. Ia hidup seorang diri dalam keadaan lemah dan serba kekurangan.
Namun, yang membuat penduduk desa itu tertegun bukanlah penderitaan orang tua tersebut, melainkan kalimat yang terus-menerus ia ucapkan dengan penuh ketulusan:
“Alhamdulillāhilladzī ‘āfānī mimmabtalā bihi katsīran min khalqihī, wa faddhalanī ‘alā katsīrin mimman khalaqa tafdhīlā.”
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari berbagai musibah yang menimpa banyak makhluk-Nya, dan Dia telah melebihkanku atas banyak makhluk yang Dia ciptakan.”
Penduduk desa itu merasa heran. Ia pun mendekati orang tua tersebut seraya berkata.
“Wahai orang tua, dari musibah apa lagi Allah telah menyelamatkanmu? Demi Allah, menurutku tidak ada satu pun jenis penderitaan yang tersisa kecuali telah menimpamu. Engkau buta, tubuhmu sakit, lemah, dan hidup dalam kesendirian.”
Orang tua itu mengangkat kepalanya. Wajahnya tampak tenang, lalu ia menjawab dengan penuh keyakinan,
“Wahai saudaraku, engkau hanya melihat keadaan lahirku. Tetapi tidakkah engkau menyadari bahwa Allah masih menganugerahiku lidah yang dapat mengucapkan kalimat tauhid dan berdzikir kepada-Nya? Bukankah Dia juga masih memberiku hati yang dapat mengenal-Nya, mencintai-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan berharap hanya kepada-Nya?”
“Betapa banyak manusia yang tubuhnya sehat, matanya melihat, hartanya melimpah, tetapi lisannya tidak pernah berdzikir kepada Allah dan hatinya mati dari mengingat-Nya. Jika demikian, siapakah sebenarnya yang lebih beruntung?”
Mendengar jawaban itu, penduduk desa tersebut terdiam. Hatinya bergetar. Ia menyadari bahwa selama ini dirinya lebih banyak mengeluh daripada bersyukur. Nikmat yang begitu banyak justru membuatnya lalai mengingat Allah.
Saat itu juga ia menangis, bertaubat kepada Allah, memohon ampun atas dosa-dosanya, lalu berjanji akan lebih banyak bersyukur atas nikmat yang selama ini sering ia anggap biasa.
Sejak hari itu, setiap kali menghadapi kesulitan, ia selalu teringat kepada orang tua tersebut. Ia pun memahami bahwa ukuran kebahagiaan bukanlah sehat atau sakit, kaya atau miskin, melainkan dekat atau jauhnya hati kepada Allah.
Hikmah
Kisah ini mengajarkan bahwa musibah terbesar bukanlah hilangnya kesehatan, harta, atau penglihatan. Musibah yang sesungguhnya adalah ketika seseorang kehilangan iman, lalai berdzikir, dan hatinya jauh dari Allah.
Selama lidah masih mampu menyebut nama-Nya, hati masih hidup dengan iman, dan kesempatan bertaubat masih terbuka, maka seseorang masih memiliki nikmat yang jauh lebih besar daripada seluruh kenikmatan dunia.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur dalam setiap keadaan, bersabar saat diuji, dan tidak pernah berhenti mengingat-Nya. Aamiin.
(SFR/sajada.id)






Komentar