Hikmah
Beranda » Berita » Istiqamah Mengajar, Meski Murid Tak Banyak: Dawuh KH. Nurul Huda Djazuli yang Menyejukkan Hati

Istiqamah Mengajar, Meski Murid Tak Banyak: Dawuh KH. Nurul Huda Djazuli yang Menyejukkan Hati

SAJADA.ID, KEDIRI – Di tengah zaman ketika keberhasilan sering diukur dari banyaknya pengikut, ramainya majelis, atau besarnya popularitas, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH. Nurul Huda Djazuli mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan dakwah bukanlah jumlah manusia yang hadir, melainkan keikhlasan dan keistiqamahan dalam menyampaikan ilmu.

Beliau yang kini memimpin salah satu pesantren salaf terbesar di Indonesia, Pondok Pesantren Al-Falah Ploso yang didirikan oleh ayahandanya, KH. Ahmad Djazuli Utsman pada tahun 1925, dikenal sebagai ulama yang menekankan pentingnya kesungguhan dalam mengajar dan mendidik santri.

Di bawah kepemimpinan beliau, Al-Falah terus berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan ribuan alumni dan ulama di berbagai daerah.

Semaan dan Khotmil Al-Qur’an Jadi Momentum Menghidupkan Cahaya Wahyu dan Berbakti kepada Orang Tua yang Telah Wafat

Dalam salah satu nasihatnya yang beredar luas di media sosial, KH. Nurul Huda Djazuli berpesan:

“Mengajilah yang serius di mana pun kamu berada. Meskipun hanya punya santri dua, tiga, empat, atau lima orang, tetap istiqamah.”

Pesan tersebut mengandung makna mendalam. Seorang guru atau pendakwah tidak boleh kehilangan semangat hanya karena majelisnya belum besar. Sebab Allah menilai bukanlah ramainya jamaah, tetapi ketulusan hati dalam mengajarkan agama.

Beliau juga mengingatkan bahwa banyak orang bersemangat ketika majelis penuh dengan ratusan hingga ribuan peserta, tetapi mulai lelah ketika yang hadir hanya segelintir orang. Padahal boleh jadi, satu orang yang benar-benar memahami dan mengamalkan ilmu lebih bernilai daripada seribu orang yang hanya datang tanpa kesungguhan.

Ketua Komisi V DPRD Jabar: Kredibilitas Wartawan Kunci Menjaga Kepercayaan Publik

Prinsip itu sejalan dengan firman Allah SWT:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125)

Ayat ini menegaskan bahwa tugas seorang pendakwah hanyalah menyampaikan dengan cara terbaik. Adapun hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah SWT.

UKW PWI Jabar Resmi Dibuka, Gubernur Jawa Barat Harapkan Kualitas Wartawan Meningkat

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash [28]: 56)

Karena itu, KH. Nurul Huda Djazuli mengingatkan agar para dai tidak mengukur keberhasilan dakwah dari banyaknya manusia yang hadir.

“Jangan ukur keberhasilan dakwah dari banyaknya manusia yang hadir. Ukurlah dari seberapa istiqamah kita menyampaikan kebaikan. Sebab tugas pendakwah adalah menyampaikan, sedangkan hidayah adalah urusan Allah.”

Pesan ini juga sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:

CR7 dan Messi: Makin Tua Makin Gahar

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.”
(HR. al-Bukhari No. 3461)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa nilai dakwah terletak pada kesediaan menyampaikan kebenaran, bukan pada banyak sedikitnya orang yang mendengar.

Dalam kesempatan lain, KH. Nurul Huda Djazuli menegaskan bahwa keberkahan sering kali tidak datang di awal perjuangan. Keberkahan diberikan kepada mereka yang tetap bertahan ketika banyak orang memilih berhenti.

Makin Profesional, Wawali Dukung Program Keumatan Lazisnu Depok

Nasihat ini selaras dengan firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka.” (QS. Fussilat [41]: 30)

Rasulullah ﷺ juga pernah memberikan pesan singkat namun sangat mendalam ketika diminta nasihat oleh seorang sahabat:

Perkuat Peran Perempuan Hadapi Krisis Iklim, Duo Mahasiswi Universitas Pertamina Raih Juara Nasional

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim No. 38)

Dawuh KH. Nurul Huda Djazuli menjadi pengingat bahwa perjuangan mengajar agama tidak boleh bergantung pada banyaknya murid atau apresiasi manusia.

Keikhlasan, kesabaran, dan istiqamah merupakan modal utama seorang pendidik. Sebab, satu majelis kecil yang penuh keberkahan dapat melahirkan generasi besar yang memberi manfaat bagi umat.

Istikamah adalah kunci keberhasilan dakwah. Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah selama 950 tahun (QS. Al-‘Ankabut: 14), namun pengikutnya tetap sedikit. Nabi Zakaria dan Nabi Yahya juga tidak memiliki pengikut yang banyak.

Namun, di sisi Allah, mereka adalah para nabi yang mulia. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan dakwah tidak diukur dari jumlah pengikut, melainkan dari kesetiaan menjalankan amanah hingga akhir hayat.Allah SWT berfirman:

وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Dan kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.”(QS. An-Nur: 54).

Semoga dawuh KH. Nurul Huda Djazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, menjadi penyemangat bagi seluruh guru ngaji, ustaz, dai, dan para pejuang dakwah agar terus menebar ilmu dengan penuh keikhlasan.

Sebab, boleh jadi dari satu orang murid yang sungguh-sungguh belajar, Allah melahirkan manfaat yang jauh lebih besar daripada majelis yang dipenuhi ribuan orang tetapi tanpa pengamalan.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita dalam berdakwah dan mengajar hingga akhir hayat. Aamiin.


Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang tetap istiqamah dalam menebar ilmu, meski jalan yang ditempuh terkadang sepi dan tidak banyak mendapat pujian manusia. Aamiin.

(Syahruddin/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *