Khutbah Pertama:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya bekal terbaik dalam kehidupan kita adalah takwa.
Beberapa hari lagi, bangsa Indonesia akan memperingati 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan adalah nikmat besar yang patut kita syukuri.
Pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya setelah melalui perjuangan panjang, pengorbanan jiwa dan raga, air mata, harta, serta doa para ulama dan para pejuang.
Karena itu, memperingati kemerdekaan bukan sekadar memasang bendera, mengikuti upacara, atau mengadakan berbagai perlombaan. Lebih dari itu, kemerdekaan harus menjadi momentum untuk bertanya kepada diri kita:
Sudahkah kita benar-benar merdeka?
Merdeka dari apa? Apakah kita sudah merdeka dari kebodohan? Sudahkah kita merdeka dari kemiskinan akhlak?
Sudahkah kita merdeka dari korupsi? Dan apakah kita sudah merdeka dari kebencian? Apakah kita sudah merdeka dari kesombongan?
Dan yang paling penting: Sudahkah hati kita merdeka dari penghambaan kepada selain Allah?
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Islam memandang kemerdekaan dalam makna yang sangat dalam. Kemerdekaan sejati bukan berarti manusia bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan sejati adalah terbebas dari penghambaan kepada makhluk dan tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia bukanlah menjadi budak hawa nafsu, bukan menjadi budak harta, bukan menjadi budak jabatan, bukan menjadi budak popularitas.
Manusia diciptakan untuk menjadi hamba Allah. Ketika seseorang menjadi hamba Allah, sesungguhnya ia telah menemukan kemerdekaan yang paling tinggi.
Sebab orang yang hanya takut kepada Allah tidak akan mudah diperbudak oleh manusia. Orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya tidak akan menjual prinsip hanya demi jabatan.
Orang yang yakin bahwa rezekinya berada di tangan Allah tidak akan menghalalkan segala cara demi kekayaan. Dan orang yang sadar bahwa hidup akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah tidak akan menggunakan kebebasannya untuk menzalimi orang lain.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ada orang yang secara fisik merdeka, tetapi hatinya masih terjajah. Ia diperbudak oleh hawa nafsu. Ketika ingin sesuatu, ia mengejarnya tanpa peduli halal dan haram.
Seseorang bisa disebut diperbudak oleh harta. Siang malam bekerja, tetapi tidak pernah merasa cukup.
Ia diperbudak oleh jabatan. Ketika mendapatkan kedudukan, ia takut kehilangan kekuasaan sehingga rela melakukan apa saja.
Ia juga diperbudak oleh pujian manusia. Ia berbuat baik bukan karena Allah, tetapi karena ingin dipuji.
Selain itu, Ia juga bisa diperbudak oleh media sosial. Setiap hari mencari perhatian, mengejar jumlah pengikut, mengejar komentar, bahkan mengorbankan kehormatan demi mendapatkan pengakuan.
Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan terletak pada banyaknya harta dan tingginya kedudukan. Kemuliaan berada pada ketakwaan.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kemerdekaan sejati juga berarti merdeka dari kebodohan. Bangsa yang merdeka harus menjadi bangsa yang mau belajar. Islam sejak awal menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang sangat penting. Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ dimulai dengan perintah:
اقْرَأْ
“Bacalah!”
Karena itu, kemerdekaan harus diisi dengan pendidikan. Anak-anak kita harus mendapatkan pendidikan yang baik.
Generasi muda harus memiliki ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan. Jangan sampai kita menikmati kemerdekaan secara fisik tetapi generasi kita kehilangan arah karena kebodohan.
Kemajuan teknologi harus digunakan untuk mencerdaskan, bukan untuk menyebarkan fitnah. Media sosial harus menjadi sarana dakwah dan pendidikan, bukan tempat menghina dan merendahkan.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kemerdekaan juga harus melahirkan kemerdekaan dari korupsi dan ketidakjujuran. Apa artinya sebuah bangsa merdeka jika masih ada orang yang mengambil hak rakyat?
Apa artinya pembangunan jika uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat justru masuk ke kantong pribadi?
Korupsi bukan hanya persoalan hukum. Korupsi adalah persoalan moral. dan korupsi berarti mengkhianati amanah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal: 58)
Karena itu, mari kita mulai kemerdekaan dari diri sendiri. Pedagang jujur dalam berdagang. Pejabat jujur dalam menjalankan amanah. Guru jujur dalam mendidik. Wartawan jujur dalam memberitakan.
Pengusaha jujur dalam menjalankan usaha. Orang tua jujur dalam mendidik anak. Dan setiap kita jujur dalam menjalani kehidupan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kemerdekaan juga berarti merdeka dari perpecahan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Kita berbeda suku, bahasa, budaya, organisasi, dan pilihan dalam kehidupan. Tetapi perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci.
Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Mari kita jaga persaudaraan. Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas. Dan jangan menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan memutus silaturahmi.
Jangan sampai kita mengibarkan bendera merah putih di luar rumah, tetapi di dalam hati kita masih menyimpan kebencian terhadap saudara sendiri.
Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan bangsa lain. Merdeka juga berarti bebas dari kebencian yang menghancurkan persaudaraan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Mari kita jadikan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai momentum syukur dan introspeksi. Para pahlawan telah memberikan kemerdekaan dengan darah dan pengorbanan. Tugas kita bukan hanya menikmati hasil perjuangan mereka. dan tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan amal saleh.
Jika kita seorang pejabat, jadilah pejabat yang amanah. Jika kita seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur. dan jika kita seorang guru, jadilah guru yang mencerdaskan. Bila kita seorang wartawan, jadilah wartawan yang menyampaikan kebenaran. Dan apabila kita orang tua, didiklah anak-anak menjadi generasi yang beriman dan berakhlak.
Dan jika kita sebagai masyarakat, mari menjaga lingkungan, membantu tetangga, memperkuat gotong royong dan menjaga kerukunan.
Itulah cara kita menghormati para pahlawan. Bukan hanya dengan mengenang nama mereka, tetapi dengan meneruskan perjuangan mereka melalui kebaikan.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ التَّقْوَى خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Kemerdekaan yang kita nikmati adalah nikmat yang harus disyukuri.
Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Maka, mari kita isi kemerdekaan dengan syukur. Syukur bukan hanya ucapan alhamdulillah. Syukur adalah menggunakan kemerdekaan untuk kebaikan. Menggunakan kebebasan untuk beribadah, dan menggunakan ilmu untuk mencerdaskan. serta menggunakan kekuasaan untuk melayani. Ia menggunakan harta untuk membantu. dan menggunakan lisan untuk berkata benar. Serta menggunakan kehidupan untuk memberikan manfaat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Mari kita berdoa agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, adil, makmur, damai, dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا. وَ احْفَظْ إِنْدُونِيسِيَا، وَاحْفَظْ شَعْبَهَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِهَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، مُزْدَهِرًا وَمُبَارَكًا
Ya Allah, jagalah Indonesia. Jagalah bangsa dan rakyatnya. Jadikan negeri kami negeri yang aman, damai, adil, makmur, dan penuh keberkahan.
Ya Allah, jauhkan bangsa kami dari perpecahan, permusuhan, korupsi, kemiskinan, kebodohan, bencana, dan segala bentuk kezaliman.
Ya Allah, satukan hati kami. Jadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan. Jadikan para pemimpin kami pemimpin yang amanah, jujur, adil, dan takut kepada-Mu.
اللَّهُمَّ وَلِّ أُمُورَنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ أُمُورَنَا شِرَارَنَا
Ya Allah, berikanlah kepada bangsa kami pemimpin-pemimpin terbaik dan jauhkan kami dari kepemimpinan orang-orang yang zalim.
Ya Allah, berkahilah para pahlawan bangsa yang telah berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ampunilah dosa-dosa mereka dan terimalah amal perjuangan mereka.
Ya Allah, jadikan kami generasi yang mampu mengisi kemerdekaan dengan iman, ilmu, kejujuran, persaudaraan, dan amal saleh.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
(Syahruddin El-Fikri/sajada.id)






Komentar