Hikmah Uncategorized
Beranda » Berita » Lima Penyebab Ilmu Tidak Bermanfaat

Lima Penyebab Ilmu Tidak Bermanfaat

SAJADA.ID, DEPOK— Ilmu merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia. Namun, tidak semua ilmu yang dipelajari mampu memberikan manfaat bagi pemiliknya.
Ilmu yang bermanfaat semestinya melahirkan rasa syukur, memperbaiki akhlak, mendorong seseorang meninggalkan dosa, dan membuatnya semakin dekat kepada Allah SWT.

Dalam kitab Tanbīhul Ghāfilīn, karya Imam Abu Laits as-Samarqandi, disebutkan sebuah nasihat tentang lima perkara yang menyebabkan seseorang tidak mendapatkan manfaat dari ilmu yang telah dipelajarinya.

Nasihat tersebut disampaikan ketika seorang ahli hikmah ditanya mengapa seseorang telah mendengar dan mempelajari ilmu, tetapi tidak mendapatkan manfaat darinya.

Kemenag Luncurkan 40 Buku Digital PAI Terintegrasi AI, Bisa Diakses Gratis Lewat Smart PAI


وَقِيلَ لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ: مَا لَنَا نَسْمَعُ الْعِلْمَ وَلَا نَنْتَفِعُ بِهِ؟ فَقَالَ لَهُمْ: لِخَمْسِ خِصَالٍ:

“Ditanyakan kepada sebagian ahli hikmah, ‘Mengapa kami mendengar ilmu, tetapi tidak mendapatkan manfaat darinya?’”

Ia menjawab bahwa ada lima penyebabnya.

1. Tidak Bersyukur atas Nikmat Allah


أَوَّلُهَا: قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَلَمْ تَشْكُرُوهُ

“Pertama, Allah telah memberikan nikmat kepada kalian, tetapi kalian tidak mensyukurinya.”

Ilmu pada hakikatnya adalah nikmat Allah SWT. Seseorang yang memperoleh kesempatan belajar semestinya semakin menyadari kebesaran dan kemurahan Allah.

Bogasari Jadi Rujukan Praktik Sustainability, IS2P Gelar Studi Banding

Karena itu, ilmu seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin besar pula kesadaran bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan.


وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُور

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Ilmu yang membuat seseorang semakin rendah hati dan pandai bersyukur adalah tanda ilmu tersebut memberikan manfaat.

ASHURI Bangun Kemitraan Indonesia-Arab Saudi untuk Perkuat Ekosistem Haji

2. Tidak Beristighfar Ketika Berbuat Dosa


وَالثَّانِي: إِذَا أَذْنَبْتُمْ فَلَمْ تَسْتَغْفِرُوهُ

“Kedua, ketika kalian berbuat dosa, kalian tidak memohon ampun kepada-Nya.”

Manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Namun, orang yang berilmu seharusnya lebih cepat menyadari kesalahannya dan segera kembali kepada Allah SWT.

Istighfar bukan sekadar ucapan di lisan. Istighfar semestinya disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya.


وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ

“Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?” (QS. Ali Imran: 135)

Bogasari Sulap Bantaran Kali Kresek Jadi Ruang Terbuka Hijau

Ilmu yang benar akan membuat seseorang semakin peka terhadap dosa dan semakin membutuhkan ampunan Allah.

3. Tidak Mengamalkan Ilmu


وَالثَّالِثُ: لَمْ تَعْمَلُوا بِمَا عَلِمْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ

“Ketiga, kalian tidak mengamalkan ilmu yang telah kalian ketahui.”

Inilah salah satu persoalan terbesar dalam perjalanan mencari ilmu. Seseorang bisa mengetahui banyak hal, tetapi pengetahuannya tidak mengubah perilakunya.

ASHURI Buka Peluang Ekspor Pangan Indonesia ke Arab Saudi

Ia mengetahui keutamaan sedekah, tetapi tidak bersedekah. Selain itu, ia mengetahui pentingnya menjaga lisan, tetapi masih suka mencela. Kemudian lainnya, ia mengetahui kewajiban salat, tetapi masih meremehkannya.

Ilmu semestinya bergerak dari pikiran menuju hati, kemudian diwujudkan melalui perbuatan.

Allah SWT mengingatkan:

Lebih dari 5,5 Juta Buku Bacaan Bermutu Dikirim untuk Perkuat Literasi Anak Indonesia


كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)

Karena itu, jangan hanya bertanya berapa banyak ilmu yang sudah kita pelajari. Bertanyalah pula, berapa banyak ilmu yang sudah kita amalkan.

4. Berteman dengan Orang Saleh, tetapi Tidak Meneladaninya


وَالرَّابِعُ: صَاحَبْتُمُ الْأَخْيَارَ وَلَمْ تَقْتَدُوا بِهِمْ

“Keempat, kalian berteman dengan orang-orang baik, tetapi tidak mengikuti keteladanan mereka.”

Bergaul dengan orang saleh merupakan kesempatan untuk belajar bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui perilaku.

Kita dapat melihat bagaimana mereka menjaga salat, menghormati orang tua, menjaga lisan, bersabar menghadapi ujian, dan tetap rendah hati ketika mendapatkan keberhasilan.

Namun, kedekatan dengan orang-orang baik tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik. Yang terpenting adalah mengambil keteladanan dari mereka.

Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya memilih teman. Dalam hadis disebutkan bahwa perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.
Karena itu, ilmu juga harus melahirkan kemampuan untuk memilih lingkungan pergaulan yang baik sekaligus mengikuti keteladanan orang-orang saleh.

5. Menguburkan Orang yang Meninggal, tetapi Tidak Mengambil Pelajaran


وَالْخَامِسُ: دَفَنْتُمُ الْأَمْوَاتَ فَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ

“Kelima, kalian menguburkan orang-orang yang meninggal, tetapi tidak mengambil pelajaran dari mereka.”

Kematian adalah guru yang selalu hadir di tengah kehidupan manusia.

Setiap kali mengantar jenazah ke pemakaman, sesungguhnya kita sedang menyaksikan perjalanan yang suatu saat juga akan kita jalani.

Orang yang hari ini kita antarkan ke liang lahat pernah memiliki rumah, keluarga, pekerjaan, cita-cita, dan berbagai rencana. Namun, ketika ajal datang, semuanya harus ditinggalkan.

Allah SWT berfirman:


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Karena itu, menghadiri pemakaman seharusnya tidak berhenti pada prosesi menguburkan jenazah. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian?

Ilmu Harus Mengubah Kehidupan

Lima nasihat tersebut mengajarkan bahwa ukuran ilmu yang bermanfaat bukan semata-mata banyaknya buku yang dibaca, banyaknya kajian yang diikuti, atau banyaknya pengetahuan yang dikuasai. Ilmu yang bermanfaat terlihat dari perubahan diri.

Ia membuat seseorang semakin bersyukur ketika mendapatkan nikmat, segera beristighfar ketika melakukan kesalahan, mengamalkan apa yang telah dipelajari, meneladani orang-orang saleh, dan selalu mengingat kematian.

Karena itu, setelah mempelajari suatu ilmu, jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya ketahui?”
Lebih penting lagi bertanya, “Apa yang sudah berubah dalam diri saya karena ilmu tersebut?”

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang rendah hati, amal yang saleh, serta kemampuan untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.


رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha: 114)

Semoga ilmu yang kita pelajari menjadi cahaya dalam kehidupan, menjadi amal yang terus mengalir pahalanya, dan menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.


وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

(Syahruddin El Fikri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *