Hikmah
Beranda » Berita » Ketika Rumah Kehilangan Cahayanya

Ketika Rumah Kehilangan Cahayanya

SAJADA.ID— Ada kehilangan yang tidak hanya membuat seseorang menangis, tetapi juga membuat suasana rumah berubah. Salah satunya ketika seorang ibu meninggal dunia.

Rumah masih berdiri. Pintu masih bisa dibuka. Kursi kesayangan masih berada di tempatnya. Namun, ada kehangatan yang terasa hilang ketika sosok ibu tidak lagi menyambut kepulangan anak-anaknya.

Ungkapan yang sering disampaikan dalam nasihat para ulama berbunyi:

Resmi Ditutup, Kalimantan Timur Juara Umum MTQ Nasional XXXI 2026

تَمُوتُ الْبُيُوتُ بِمَوْتِ الْأُمِّ

Tamutul buyutu bi mawtil Umm

“Rumah-rumah seakan mati dengan wafatnya seorang ibu.”

وتقل بركة البيت بموت الأم

Wa taqillu barakatul bait bi mautil umm

Dan berkah rumah berkurang ketika Ibu meninggal

Aklamasi, Ahmad Yani Basuki Kembali Pimpin PP IPHI Periode 2026–2031

وتظلم البيوت بموت الأم

Wa tazhlamul buyut bi mautil umm

Dan rumah menjadi gelap ketika Ibu meninggal

هذه الجمل لا يفهمها إلا من فقد أمه

Hadzihil jumal la yafhamuha illa man faqada ummah

Barok Kembali Pimpin FORKABI Depok, Musda VI Tekankan Solidaritas dan Komunikasi

Kalimat-kalimat ini tidak akan dipahami kecuali oleh orang yang telah kehilangan Ibunya

بعد غياب الأم الحال أصبح يغم

Ba’da ghayabi al Ummi al hu asbahu yaghum

Setelah kepergian Ibu, keadaan menjadi sedih / suram.

Ungkapan hikmah ini menggambarkan besarnya peran seorang ibu dalam kehidupan keluarga.

Garuda Calling FIFA ASEAN Cup 2026, 23 Pemain Siap Bela Indonesia

Ibu, Sosok yang Kemuliaannya Ditegaskan Al-Qur’an

Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada kedua orang tua. Namun, Al-Qur’an secara khusus mengingatkan manusia tentang beratnya perjuangan seorang ibu.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِيْ عَامَيْنِ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Luqman: 14)

Ayat tersebut menggambarkan perjalanan seorang ibu sejak mengandung hingga menyusui. Ada kelelahan, rasa sakit, pengorbanan dan kasih sayang yang sering kali tidak mampu dibalas oleh seorang anak.

200 Balita Ikuti Gebyar Posyandu Bogasari, Edukasi Gizi Jadi Fokus Cegah Stunting

Karena itu, berbakti kepada ibu bukan sekadar kewajiban moral. Ia merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

Tiga Kali Disebut, Sebelum Ayah

Keutamaan ibu juga tergambar dalam hadis sahih ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik darinya.

Rasulullah ﷺ menjawab: “Ibumu.” Sahabat itu bertanya, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah ﷺ kembali menjawab: “Ibumu.” Barulah ketika ditanya untuk keempat kalinya, beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Muktamar VIII IPHI Jadi Momentum Islah, Satukan Kembali Energi Persaudaraan Haji

Para ulama menjelaskan, pengulangan penyebutan ibu berkaitan dengan besarnya beban dan pengorbanannya, terutama ketika mengandung, melahirkan dan menyusui.

Ketika Ibu Telah Pergi

Kematian ibu menghadirkan ruang kosong yang tidak mudah digantikan.

Dulu mungkin kita merasa terganggu ketika ibu berkali-kali mengingatkan untuk makan, beribadah, pulang lebih awal atau menjaga kesehatan. Setelah beliau tiada, nasihat yang dahulu terasa biasa itu justru menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.

Dulu mungkin kita menganggap masakan ibu sebagai sesuatu yang sederhana. Setelah beliau tidak ada, makanan yang sama tidak lagi mudah ditemukan.

Yang paling dirindukan bukan sekadar masakannya.
Yang dirindukan adalah orang yang memasaknya.
Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan.

Wafatnya ibu bukan berarti pintu doa untuk anak tertutup, dan bukan pula berarti hubungan kebajikan antara anak dengan ibu berakhir.

Rasulullah ﷺ justru mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, ada amal yang tetap memberikan manfaat kepadanya. Beliau bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa doa anak saleh untuk orang tua yang telah meninggal merupakan salah satu bentuk bakti yang sangat berharga.

Bakti kepada Ibu Tidak Berakhir di Pemakaman

Kematian bukan akhir dari birrul walidain. Bentuk bakti memang berubah, tetapi kasih sayang dan doa tetap dapat diteruskan.

1. Terus Mendoakan Ibu

Doakan ibu dengan penuh ketulusan. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ untuk jenazah adalah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia dan maafkanlah kesalahannya.”

Doa untuk kedua orang tua juga diabadikan dalam Al-Qur’an:

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.’” (QS. Al-Isra: 24)

Jangan menunggu datangnya rasa rindu untuk mendoakan ibu. Jadikan doa untuknya sebagai kebiasaan.

2. Menjadi Anak Saleh

Hadis tentang tiga amal yang tidak terputus menyebutkan “anak saleh yang mendoakannya.”

Karena itu, salah satu hadiah terbaik seorang anak kepada ibunya adalah berusaha menjadi manusia yang baik, taat kepada Allah, menjaga akhlak dan terus mendoakannya.

Anak yang baik bukan hanya membanggakan ibunya ketika masih hidup. Ia juga berusaha menjaga nama baik dan meneruskan kebaikan setelah ibunya wafat.

3. Menjaga Silaturahmi yang Ditinggalkan Ibu

Di antara bentuk bakti setelah orang tua meninggal adalah menjaga hubungan baik dengan keluarga dan orang-orang yang dahulu dekat dengan mereka.
Jangan sampai setelah ibu wafat, hubungan dengan saudara, kerabat dan sahabat-sahabatnya ikut terputus.

Menjaga hubungan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap kehidupan dan kebaikan yang pernah dibangun oleh ibu.

4. Bersedekah dan Berbuat Baik atas Nama Ibu

Seorang anak dapat bersedekah atas nama ibunya yang telah meninggal.

Dalam hadis sahih, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ibunya yang meninggal secara mendadak dan apakah ia boleh bersedekah atas namanya. Rasulullah ﷺ menjawab bahwa hal tersebut boleh. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Karena itu, seorang anak dapat bersedekah dengan membantu fakir miskin, memberikan makanan, menyediakan air minum, membantu pembangunan fasilitas kemaslahatan dan berbagai bentuk kebaikan lainnya, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada ibu menurut pendapat ulama yang membolehkannya.

Jangan Menunggu Ibu Pergi

Ada orang yang baru memahami betapa berharganya seorang ibu setelah kehilangan.

Ketika ibu masih ada, mungkin kita terlalu sibuk untuk sekadar duduk bersamanya. Terlalu sibuk untuk mendengarkan ceritanya. Bahkan terkadang terlalu sibuk untuk menjawab teleponnya.

Tetapi ketika ibu telah tiada, kita rela mengeluarkan apa saja agar bisa mendengar suaranya sekali lagi.
Sayangnya, waktu tidak dapat diputar kembali.

Karena itu, jika ibu masih hidup, jangan tunda berbakti. Cium tangannya. Tanyakan kabarnya. Dengarkan ceritanya. Bantu kebutuhannya. Minta maaf atas kesalahan kita. Dan yang paling penting, mintalah doanya.

Sebab ada masa ketika seseorang masih memiliki ibu, tetapi tidak lagi memiliki kesempatan untuk berkata: “Bu, maafkan aku.”

Jika Ibu Telah Tiada

Jika ibu sudah lebih dahulu menghadap Allah, jangan biarkan kesedihan hanya menjadi air mata.

  • Ubah kerinduan menjadi doa.
  • Ubah kehilangan menjadi amal.
  • Ubah kenangan menjadi kebaikan.
  • Setiap kali mengingat ibu, doakan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأُمِّي وَارْحَمْهَا وَارْفَعْ دَرَجَتَهَا فِي الْجَنَّةِ

Ya Allah, ampunilah ibuku, rahmatilah dia dan angkatlah derajatnya di dalam surga.”

Sebab ibu mungkin telah pergi dari pandangan mata, tetapi bakti seorang anak tidak harus ikut berakhir bersama kepergiannya.

Rumah memang terasa berbeda ketika ibu telah tiada. Namun, doa-doa yang dipanjatkan untuknya dapat menjadi cara seorang anak menjaga cinta yang tidak pernah selesai.

Ibu telah kembali kepada Pemiliknya

Kini tugas kita adalah memastikan bahwa setiap kerinduan kepadanya berubah menjadi doa dan setiap kenangan tentangnya melahirkan kebaikan.

Semoga Allah mengampuni dosa ibu kita, melapangkan kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, menerima seluruh amal baiknya, mengangkat derajatnya dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan semoga kelak Allah mempertemukan kembali kita dengan ibu tercinta di surga-Nya, dalam keadaan saling tersenyum tanpa lagi ada perpisahan.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

(Syahruddin El Fikri/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *