Hikmah
Beranda » Berita » Saat Orang Kecil Menasihati Guru Besar

Saat Orang Kecil Menasihati Guru Besar

Saat Orang Kecil Menasihati Guru Besar (dok. sajada.id)

Oleh Syahruddin El-Fikri

SAJADA.ID, DEPOK– Ilmu yang tinggi tidak menjadikan seseorang terbebas dari kesalahan. Bahkan, orang yang dikenal luas sebagai ulama sekalipun tetap memiliki keterbatasan. Karena itu, menerima koreksi dengan lapang dada merupakan bagian penting dari akhlak orang berilmu.

Sebuah kisah yang beredar di media sosial menceritakan pengalaman Al-Ashma’i, seorang ahli bahasa Arab terkemuka. Dalam kisah tersebut, ia Al-Asmu’i pernah mendapatkan koreksi dari seorang Arab Badui ketika menjelaskan persoalan bahasa Arab dan Al-Qur’an.

PCNU Depok Gandeng Kodim 0508, Perkuat Sinergi Sukseskan Hari Santri 2026

Orang Badui itu bukan sosok sebagai ulama besar. Ia hanya orang biasa, namun penguasaannya terhadap bahasa Arab sebagai penutur asli membuatnya mampu menunjukkan kekeliruan yang luput dari perhatian Al-Ashma’i.

Al-Ashma’i pun menerima koreksi tersebut. Kisah ini mengandung pelajaran berharga: kebenaran tidak ditentukan oleh popularitas, kedudukan, atau gelar seseorang.

Ilmu Tidak Membuat Manusia Makhluk yang Sempurna

Setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus keterbatasan. Seseorang mungkin sangat menguasai satu bidang, tetapi belum tentu memahami seluruh persoalan di bidang lain.

Demikian pula seorang ulama. Ketinggian ilmu dan kemuliaan akhlaknya patut dihormati, tetapi penghormatan itu tidak berarti setiap perkataannya pasti benar.

Hadis Arbain Nawawi ke-40: Jangan Terlena Dunia, Bekali Diri Sebelum Mati

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 85:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Ayat ini mengingatkan manusia bahwa ilmu yang dimilikinya tetap terbatas. Sebanyak apa pun pengetahuan yang berhasil diraih, masih ada hal-hal yang belum diketahui.

JATMAN Tetapkan 13 Oktober sebagai Hari Lahir, Berlandaskan Dokumen Muktamar Pertama

Karena itu, orang berilmu seharusnya semakin rendah hati. Ilmu bukan alasan untuk merasa paling benar, melainkan jalan untuk mengenali kebenaran dan menyadari keterbatasan diri.

Al-Qur’an Memerintahkan Kita Memeriksa Kebenaran

Islam tidak mengajarkan umatnya menerima setiap perkataan secara membabi buta. Setiap informasi harus diperiksa, sedangkan pendapat perlu ditimbang berdasarkan dalil dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”

Sanggar Kenanga Tangsel Juara Harmoni Angklung PWI Depok, Festival Nusantara Disiapkan

Ayat tersebut secara langsung membahas pentingnya memeriksa berita dari orang fasik. Prinsip ketelitian ini juga mengingatkan kita agar tidak tergesa-gesa mempercayai informasi, termasuk informasi yang berasal dari orang terkenal sekalipun.

Dalam urusan ilmu, pemeriksaan dilakukan dengan melihat dalil, ketepatan penalaran, konteks, dan keterangan para ahli yang kompeten.

Dengan demikian, menghormati seorang guru tidak berarti harus menyetujui seluruh pendapatnya tanpa pemeriksaan. Mengoreksi kekeliruan juga tidak berarti merendahkannya.

Sekretaris Watimpres Muhammad Qodari Dijadwalkan Hadiri Harmoni Angklung PWI Depok

Rasulullah SAW Mengajarkan Pentingnya Tabayun

Sikap teliti dalam menerima informasi juga ditegaskan dalam hadis. Rasulullah SAW bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.”

Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dalam Muqaddimah Shahih Muslim, pada pembahasan tentang larangan menyampaikan setiap berita tanpa tabayun.

Hadapi Disrupsi AI, IPI Dorong Pustakawan Tingkatkan Kompetensi dan Adaptasi Teknologi

Pesannya jelas. Seseorang tidak seharusnya langsung menyebarkan informasi hanya karena mendengarnya dari orang lain. Apalagi jika informasi itu berkaitan dengan nama baik seseorang, penjelasan agama, atau sebuah peristiwa sejarah.

Tradisi Ulama: Menerima Kebenaran, Bukan Mempertahankan Ego

Dalam tradisi keilmuan Islam, kebenaran berada di atas kepentingan pribadi. Tujuan belajar bukan memenangkan perdebatan, melainkan memahami persoalan secara tepat.

Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zumar ayat 18:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.”

Ayat ini menjelaskan salah satu sifat orang-orang yang mendapat petunjuk Allah: mereka mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik.

Dalam praktik keilmuan, sikap tersebut menuntut keberanian untuk mengakui kekeliruan. Jika sebuah pendapat ternyata lemah, pendapat itu perlu diperbaiki. Jika sebuah dalil menunjukkan kesimpulan yang berbeda, kesimpulan harus ditinjau kembali.

Mengubah pendapat setelah menemukan bukti yang lebih kuat bukanlah tanda kelemahan. Justru, itulah bentuk tanggung jawab intelektual dan kejujuran dalam mencari kebenaran.

Mengoreksi Harus dengan Ilmu dan Adab

Meski demikian, mengoreksi orang lain tidak boleh sembarangan. Kebenaran perlu disampaikan dengan cara yang baik, berdasarkan pengetahuan yang memadai, dan disertai niat memperbaiki.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”

Ayat ini mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam menyampaikan kebenaran. Kritik seharusnya diarahkan kepada kekeliruan, bukan digunakan untuk menghina pribadi seseorang.

Ketika seorang guru melakukan kesalahan, murid dapat menyampaikan koreksi dengan santun. Sebaliknya, orang yang dikoreksi semestinya bersedia mendengarkan sebelum memutuskan apakah koreksi itu benar atau tidak.

Sikap terbuka bukan berarti menerima semua kritik tanpa pertimbangan. Kritik tetap harus diuji. Jika benar, terimalah. Jika keliru, luruskan dengan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jangan Mengkultuskan Manusia

Salah satu persoalan dalam kehidupan beragama adalah sikap berlebihan dalam menghormati tokoh. Karena kagum terhadap seorang guru atau ulama, sebagian orang menganggap seluruh perkataannya pasti benar.

Padahal, menghormati ulama berbeda dengan menganggap mereka maksum atau terbebas dari kesalahan. Dalam akidah Islam, kemaksuman yang menjadi keyakinan khusus bagi para nabi tidak dapat begitu saja disematkan kepada manusia biasa.

Ulama tetap memiliki kedudukan terhormat karena ilmu, perjuangan, dan pengabdiannya. Namun, pendapat mereka tetap dapat dikaji berdasarkan dalil dan metode keilmuan yang benar.

Sebaliknya, orang yang menemukan kekeliruan seorang ulama juga tidak boleh menjadikannya alasan untuk meremehkan seluruh ilmunya. Satu kesalahan tidak otomatis menghapus semua kebaikan dan kontribusinya.

Sikap yang tepat adalah adil: menghormati kelebihan seseorang, mengakui kekurangannya, serta menilai setiap pendapat secara proporsional.

Semakin Berilmu, Semakin Rendah Hati

Ilmu yang bermanfaat semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Semakin banyak seseorang belajar, semakin luas pula kesadarannya tentang perkara-perkara yang belum dipahaminya.

Karena itu, jangan merasa paling tahu hanya karena telah membaca banyak kitab. Jangan menganggap diri tidak mungkin salah hanya karena sering diminta memberikan nasihat. Jangan pula menolak koreksi semata-mata karena orang yang menyampaikannya memiliki kedudukan lebih rendah.

Kebenaran harus diterima karena kekuatan dalil dan argumentasinya, bukan karena siapa yang menyampaikannya. Pada saat yang sama, setiap koreksi harus disampaikan dengan ilmu, kejujuran, dan adab.

Tidak ada manusia biasa yang sempurna. Kesempurnaan mutlak hanya milik Allah SWT.

Boleh jadi, melalui koreksi seorang murid, teman, atau bahkan orang yang tidak kita kenal, Allah membuka jalan bagi kita untuk memperbaiki diri.

Maka, ketika dikoreksi, jangan buru-buru tersinggung. Dengarkan, periksa, dan pertimbangkan dengan jernih. Jika benar, akuilah. Jika keliru, jelaskan dengan baik.

Sebab, kemuliaan orang berilmu bukan terletak pada kemampuannya mempertahankan setiap pendapat, melainkan pada keberaniannya mengikuti kebenaran, meskipun kebenaran itu mengharuskannya mengakui kesalahan sendiri.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *