SAJADA.ID—Hampir seluruh umat Islam, kecuali anak-anak yang belum menghafalnya, mengenal dan mengingat Ayat Kursi. Ayat ini diyakini sebagai salah satu ayat paling istimewa dalam Al-Qur’an. Tidak mengherankan jika Muhammad dalam berbagai kesempatan menganjurkan para sahabat untuk senantiasa membacanya. Lalu, apa makna terdalam dari Ayat Kursi?
Dalam program Tafsir Al-Mishbah yang tayang di kanal YouTube Pusat Studi Al-Qur’an bersama M. Quraish Shihab, jamaah diajak menyelami kedalaman makna Ayat Kursi, bukan sekadar sebagai bacaan rutin, tetapi sebagai ayat yang memancarkan jaminan perlindungan dari Allah SWT.
Prof. Quraish Shihab membuka penjelasannya dengan menyoroti kata “kursi” yang kerap dipahami secara harfiah. Menurutnya, istilah tersebut merupakan metafora yang menggambarkan kekuasaan. Ia mengibaratkan penggunaan kata “kursi” dalam kehidupan sehari-hari, seperti ungkapan “mendapat kursi empuk” yang berarti memperoleh kekuasaan.
Baca Juga: 70 Ribu Malaikat Mengantar Ayat Ini Kepada Rasulullah SAW
Dalam Al-Qur’an, terdapat pula istilah lain yang memiliki makna serupa, yaitu Al-‘Arsy, yang diartikan sebagai singgasana. Kedua istilah ini, dalam konteks Ayat Kursi, menunjukkan simbol keagungan dan kekuasaan Allah SWT yang meliputi seluruh alam semesta.
Ayat Kursi yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 255 ini dikenal sebagai ayat pemeliharaan (ayatul hifz). Setiap rangkaian katanya menggambarkan kesempurnaan sifat Allah, sehingga siapa pun yang menghayatinya akan merasakan ketenangan dan perlindungan.
Pembukaan ayat tersebut menegaskan:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”
Menurut Prof. Quraish Shihab, ayat ini sekaligus menjawab berbagai keraguan manusia. Bisa saja muncul bisikan yang meragukan kekuasaan Tuhan, namun langsung ditepis dengan penegasan bahwa Allah Maha Hidup dan terus-menerus mengatur seluruh makhluk-Nya.
Penegasan itu dilanjutkan dengan firman-Nya:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
“Tidak mengantuk dan tidak tidur.”
Ayat ini menolak anggapan bahwa Allah lalai dalam menjaga ciptaan-Nya. Ia tidak pernah lengah, tidak pernah lemah, dan tidak pernah berhenti mengurus alam semesta.
Selanjutnya ditegaskan:
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
“Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi.”
Ini menunjukkan bahwa seluruh yang ada berada dalam kepemilikan dan kekuasaan-Nya, tanpa ada yang berada di luar kendali-Nya.

Baca Juga: Lima Keutamaan Ayat Kursi
Kemungkinan adanya intervensi pun ditutup:
مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali dengan izin-Nya.”
Allah juga Maha Mengetahui:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.”
Sementara manusia memiliki keterbatasan:
وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ
“Mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu-Nya kecuali yang Dia kehendaki.”
Kekuasaan Allah digambarkan secara menyeluruh:
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.”
Dan semua itu tidak memberatkan-Nya:
وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Maha Tinggi, Maha Agung.”
Prof. Quraish Shihab menegaskan, keseluruhan Ayat Kursi adalah rangkaian penegasan tentang kekuasaan mutlak Allah SWT. Setiap kemungkinan keraguan manusia dijawab satu per satu oleh susunan ayat tersebut, sehingga menumbuhkan rasa aman bagi siapa pun yang bersandar kepada-Nya.
Sejumlah ulama juga melihat dimensi simbolik dalam struktur Ayat Kursi. Disebutkan bahwa ayat ini terdiri dari lima puluh kata dan tujuh belas kali penyebutan kata yang merujuk kepada Allah. Ibrahim bin Umar al-Biqa’i menilai angka tersebut memiliki keterkaitan dengan kewajiban salat lima waktu yang berjumlah tujuh belas rakaat, serta peristiwa Isra Mi’raj di mana awalnya salat diwajibkan lima puluh kali sebelum diringankan.
Sebagaimana sabda Muhammad:
هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ، لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ
“Itu lima waktu, tetapi bernilai lima puluh. Keputusan-Ku tidak berubah.”
Dalam riwayat lain disebutkan:
الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ
“Salat adalah mi’rajnya orang beriman.”
Prof. Quraish Shihab juga menekankan keutamaan membaca Ayat Kursi. Menurutnya, setan akan menjauh dari orang yang membacanya, karena setan tidak menyukai lantunan Al-Qur’an.
Membaca Ayat Kursi bisa dilakukan kapan saja, terutama bila dirinya ingin ketenangan. Atau bisa pula ketika rasa takut muncul atau saat seseorang membutuhkan ketenangan. Dengan menghayati dan memahaminya, seorang hamba akan merasakan bahwa dirinya berada dalam penjagaan Allah SWT.
Dengan demikian, Ayat Kursi bukan sekadar ayat yang agung untuk dibaca, tetapi juga merupakan perisai spiritual yang menghadirkan ketenteraman dan keyakinan bahwa dalam lindungan Allah, manusia tidak pernah sendirian.
(Syahruddin/sajada.id)






Komentar