SAJADA.ID, DEPOK — Polemik dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tak hanya memunculkan perdebatan soal teknis perlombaan. Lebih jauh dari itu, peristiwa tersebut menjadi alarm penting bagi dunia pendidikan tentang cara orang dewasa memperlakukan keberanian berpikir para pelajar.
Sorotan muncul setelah seorang peserta didik yang menjawab pertanyaan dengan benar justru mendapat respons yang kurang pantas dari Dewan Juri maupun pembawa acara. Bahkan ketika peserta mencoba menyampaikan keberatan secara santun, kritik tersebut dinilai mengganggu jalannya acara.
Tokoh pendidikan Kota Depok, H. Acep Azhari, menilai kejadian tersebut seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama bagi dunia pendidikan. Menurutnya, persoalan utamanya bukan sekadar benar atau salah dalam perlombaan, melainkan bagaimana sistem pendidikan merespons keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat.
“Anak-anak hari ini hidup di era yang menuntut kemampuan berpikir kritis, berdialog, dan menyampaikan pendapat secara terbuka. Ketika mereka berani berbicara dengan santun tetapi tidak diberi ruang untuk didengar, maka yang dipertaruhkan bukan hanya mental peserta didik, tetapi juga ruh pendidikan itu sendiri,” ujar pria yang akrab disapa Jiacep itu, Kamis (14/5/2026).
Budaya Antikritik
Ia mengingatkan, dunia pendidikan jangan sampai tanpa sadar membangun budaya yang anti kritik. Sebab sikap memotong pendapat murid, menolak masukan, atau merasa otoritas terganggu ketika siswa berbeda pandangan, bisa berdampak pada keberanian generasi muda dalam berpikir.
“Pendidikan bukan hanya soal siapa yang paling tahu, tetapi siapa yang mau terus belajar, termasuk belajar mendengar suara anak-anak kita sendiri,” katanya.
Menurut Jiacep, seorang pendidik yang baik bukanlah sosok yang selalu merasa paling benar. Melainkan mereka yang mampu bersikap adil, bijaksana, dan rendah hati di hadapan peserta didik.
Ruang Kejujuran
Ia berharap polemik yang terjadi dalam ajang LCC tersebut menjadi pelajaran bersama. Tujuannya agar dunia pendidikan semakin memberi ruang bagi kejujuran, keberanian berpikir, dan budaya dialog yang sehat.
“Pendidikan yang baik bukan pendidikan yang membungkam nalar, tetapi yang menumbuhkan keberanian berpikir dan menghargai kebenaran,” pungkasnya.
(SFR/sajada.id)






Komentar