Hadits
Beranda » Berita » Hadits No. 42 Arbain Nawawi: Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Hadits No. 42 Arbain Nawawi: Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah, Segera Bertaubat

SAJADA.ID, JAKARTA — Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa. Namun, sebesar apa pun dosa yang ada, Allah SWT tetap membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang mau berdoa, berharap, bertobat, dan tidak menyekutukan-Nya. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah SWT.

Pesan tersebut menjadi inti kandungan Hadits Arbain Nawawi ke-42. Dalam hadis qudsi ini, Rasulullah SAW menyampaikan firman Allah SWT tentang betapa luasnya ampunan-Nya. Bahkan, Allah menjanjikan ampunan kepada manusia yang memiliki dosa sebanyak apa pun, selama ia memohon ampun dan tidak mempersekutukan-Nya.

Hadis ini sekaligus memberikan pelajaran penting bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa manusia. Sebesar apa pun kesalahan seseorang, kesempatan untuk kembali kepada Allah selalu terbuka selama orang tersebut mau bertaubat.

BSya dan Masa Depan Perbankan Syariah: Dari Kemudahan Digital hingga Pemberdayaan Ekonomi Umat

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.

Artinya:

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas segala dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli.

Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai awan di langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu.

Hadis Arbain ke-41: Menundukkan Hawa Nafsu

Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.”

(HR. Tirmidzi, no. 3540. Imam At-Tirmidzi menilainya sebagai hadis hasan gharib).

Pesan Utama

1. Jangan Berhenti Berdoa dan Berharap kepada Allah

PresGo Culture Week 2026 Ajak Siswa SD Prestasi Global Mengenal Budaya Jawa dan Berkreasi dengan Batik Nusantara

Bagian pertama hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus senantiasa berdoa dan menggantungkan harapannya kepada Allah SWT. Doa bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk pengakuan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan dan kasih sayang Allah.

Allah SWT tidak pernah menutup pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya. Karena itu, seseorang tidak boleh merasa bahwa dosanya terlalu besar untuk mendapatkan ampunan Allah.

Namun, berharap kepada ampunan Allah bukan berarti seseorang boleh terus-menerus melakukan dosa dengan sengaja. Harapan harus dengan penyesalan, keinginan meninggalkan kemaksiatan, dan tekad memperbaiki diri.

2. Sebesar Apa Pun Dosa, Ampunan Allah Lebih Luas

Siswa SD Prestasi Global Raih Juara 2 Kejuaraan Golf Junior Internasional Piala Menpora 2026

Dalam bagian kedua, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa sekalipun dosa manusia mencapai awan di langit, Allah tetap akan mengampuninya apabila ia memohon ampun kepada-Nya.

Ungkapan tersebut menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah SWT. Tidak ada manusia yang terbebas dari kesalahan. Akan tetapi, Islam mengajarkan agar setiap melakukan kesalahan hendaknya segera istighfar dan bertaubat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

Sari Ramada Arafah Perluas Pasar di Acara BSI International Expo 2026

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat ini menjadi penguat bahwa seorang Muslim tidak boleh kehilangan harapan terhadap ampunan Allah. Selama masih hidup, kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri tetap terbuka.

3. Menjaga Tauhid sebagai Landasan Mendapatkan Ampunan

Pandangan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Terkait Polemik Nasab Ba’alawi, Antara Tradisi dan Bukti Sejarah

Pesan ketiga dalam hadis ini menegaskan pentingnya menjaga kemurnian tauhid. Allah SWT menjanjikan ampunan yang sangat luas kepada orang yang datang menghadap-Nya tanpa mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.

Tauhid merupakan fondasi utama keimanan seorang Muslim. Artinya, seorang hamba harus meyakini bahwa hanya Allah Tuhan Semesta Alam. Hanya Allah yang bisa memberikan pertolongan dalam segala perkara yang menjadi kekuasaan-Nya, dan menjadi tempat bergantung.

Karena itu, seorang Muslim harus menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik dalam keyakinan maupun perbuatan. Ia juga harus menjaga keikhlasan dalam beribadah dan tidak menjadikan selain Allah sebagai sekutu-Nya.

Hadis ini tidak berarti bahwa seseorang boleh meremehkan dosa atau mengabaikan kewajiban agama. Justru, keyakinan terhadap luasnya ampunan Allah harus mendorong manusia untuk semakin taat, memperbaiki amal, dan menjauhi kemaksiatan.

Jangan Menunda Taubat

Hadits Arbain Nawawi ke-42 memberikan harapan besar bagi setiap Muslim. Tidak ada alasan untuk menjauh dari Allah hanya karena merasa memiliki banyak dosa. Sebaliknya, semakin seseorang menyadari kesalahannya, semakin besar pula dorongan untuk segera kembali kepada-Nya.

Taubat yang sungguh-sungguh harus memenuhi beberapa syarat, yaitu menyesali perbuatan dosa, berhenti melakukan dosa tersebut, dan bertekad tidak mengulanginya. Apabila dosa berkaitan dengan hak orang lain, ia juga harus mengembalikan hak tersebut atau meminta kerelaan orang yang dirugikan.

Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan dalam memperbanyak istighfar. Dalam hadis riwayat Bukhari, beliau menyampaikan bahwa dirinya beristighfar dan bertobat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari. Dalam riwayat Muslim disebutkan 100 kali sehari.

Teladan tersebut menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya dilakukan oleh orang yang merasa banyak dosa. Bahkan, Rasulullah SAW yang telah dijaga oleh Allah tetap memperbanyak istighfar sebagai bentuk penghambaan dan ketundukan kepada-Nya.

Penutup

Hadits Arbain Nawawi ke-42 mengajarkan tiga hal utama: senantiasa berdoa dan berharap kepada Allah, tidak berputus asa dari ampunan-Nya, serta menjaga tauhid dengan menjauhi kesyirikan.

Setiap manusia memang tidak luput dari kesalahan. Namun, manusia terbaik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa, melainkan mereka yang segera menyadari kesalahannya dan kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan.

Karena itu, jangan pernah merasa terlalu jauh untuk kembali kepada Allah. Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, pintu ampunan-Nya tetap terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh bertobat dan menjaga keimanannya.

(Syahruddin/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *