SAJADA.ID, DEPOK — Salah satu ujian terbesar seorang Muslim bukan sekadar meninggalkan kemaksiatan, melainkan menundukkan keinginan diri ketika bertentangan dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Pesan ini terkandung dalam Hadis Arbain Nawawiyah ke-41 yang menjelaskan pentingnya menjadikan ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْت بِهِ.
Dari Abu Muhammad Abdullah bin Amr bin Ash RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
Hadis ini dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arba’in An-Nawawiyah nomor 41. Imam An-Nawawi menyebutnya hasan sahih dan menerangkan bahwa hadis tersebut diriwayatkan dalam Kitab Al-Hujjah dengan sanad sahih.
Catatan takhrij: Penilaian terhadap hadis ini diperselisihkan. Ibnu Rajab Al-Hanbali mengkritik kesahihan sanadnya dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam. Karena itu, status hadis ini perlu disampaikan secara proporsional.
Mengendalikan Keinginan, Bukan Mengikuti Semua Kemauan
Hawa nafsu merupakan kecenderungan dalam diri manusia yang dapat mengarah pada kebaikan ataupun keburukan. Keinginan memperoleh harta, kedudukan, penghormatan, dan kesenangan bukan selalu sesuatu yang tercela.
Persoalan muncul ketika keinginan tersebut membuat seseorang mengabaikan batas halal dan haram. Demi keuntungan, misalnya, seseorang rela berdusta, mengambil hak orang lain, atau menghalalkan segala cara.
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim perlu mengukur keinginannya dengan tuntunan agama. Bukan agama yang harus disesuaikan dengan kemauan pribadi, melainkan keinginan pribadi yang perlu diarahkan sesuai ajaran Islam.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nazi’at ayat 40–41:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa kemampuan mengendalikan hawa nafsu merupakan bagian penting dari perjuangan spiritual seorang hamba.
Ketika Kebenaran Berhadapan dengan Kepentingan
Dalam kehidupan sehari-hari, ujian mengikuti tuntunan agama sering hadir dalam keputusan-keputusan sederhana. Seseorang mungkin mengetahui bahwa kejujuran adalah kewajiban, tetapi memilih berdusta karena takut kehilangan keuntungan.
Ada pula orang yang memahami pentingnya menjaga lisan, tetapi tetap menyebarkan kabar yang belum terverifikasi karena ingin menjadi yang pertama menyampaikan berita. Tidak sedikit pula yang mengabaikan keadilan ketika harus berhadapan dengan keluarga, teman, atau kelompoknya sendiri.
Dalam situasi seperti itu, iman menuntut keberanian untuk mendahulukan kebenaran daripada kepentingan pribadi.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8 agar orang-orang beriman menjadi penegak keadilan dan tidak membiarkan kebencian terhadap suatu kaum mendorong mereka berlaku tidak adil.
Pesan ini relevan bagi siapa pun, termasuk pemimpin, pendidik, dai, jurnalis, dan pengelola organisasi. Amanah tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan, sedangkan kebenaran tidak seharusnya dikorbankan demi popularitas.
Mengikuti Nabi dengan Ilmu dan Keteladanan
Mengikuti Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengungkapkan kecintaan melalui lisan. Kecintaan itu perlu diwujudkan dalam perilaku, akhlak, dan keputusan yang selaras dengan ajaran beliau.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 31:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”
Ayat ini menunjukkan hubungan erat antara cinta kepada Allah SWT dan kesediaan mengikuti Rasulullah SAW.
Namun, mengikuti Nabi juga memerlukan ilmu agar seseorang tidak sekadar bertindak berdasarkan dugaan atau penafsiran yang keliru. Belajar agama, memahami dalil, menghormati perbedaan pendapat yang diakui, dan bertanya kepada ulama yang kompeten merupakan bagian dari ikhtiar menjalankan tuntunan Islam dengan benar.
Muhasabah: Siapa yang Mengendalikan Hidup Kita?
Hadis Arbain ke-41 mengajak setiap Muslim melakukan muhasabah. Ketika harus memilih antara keuntungan dan kejujuran, apakah kita memilih yang benar? Ketika amarah muncul, apakah kita mampu menahan lisan? Ketika nasihat agama bertentangan dengan keinginan pribadi, apakah kita bersedia memperbaiki diri?
Menundukkan hawa nafsu bukan berarti menghilangkan seluruh keinginan manusia. Islam mengajarkan agar keinginan diarahkan pada jalan yang halal, baik, dan bermanfaat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukanlah seberapa banyak keinginannya terpenuhi, melainkan seberapa sungguh-sungguh ia berusaha menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.
Iman yang bertumbuh adalah iman yang membimbing keinginan, bukan sekadar membenarkan keinginan.






Komentar