SAJADA.ID, BOGOR – Literasi di lingkungan pesantren bukan sekadar menumbuhkan minat baca, melainkan juga merawat tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama. Semangat inilah yang diusung Pondok Pesantren Darussalam Bogor melalui Darussalam Book Fair (DBF) 2026, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Temubaca pada 23–27 Oktober 2026.
Memasuki penyelenggaraan keempat, kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk menguatkan budaya literasi sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga otoritas ilmu melalui tradisi periwayatan atau isnad.
Digelar dalam rangka memperingati Hari Santri 2026, DBF tahun ini mengangkat tema “Dari Bilik Pesantren Merawat Literasi Menggerakkan Peradaban”. Selain menghadirkan bazar buku yang melibatkan 15 penerbit, kegiatan ini juga diisi dengan bazar kuliner, bedah buku, seminar, serta pemeriksaan kesehatan gratis.
Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Ustaz Ahmad Imam Mujahid Fillah, Lc., M.S.I., menyambut baik penyelenggaraan DBF 2026. Ia berharap kegiatan literasi tersebut dapat terus dilaksanakan secara istiqamah sebagai bagian dari upaya membangun tradisi keilmuan di lingkungan pesantren.
Menurutnya, kegiatan literasi tidak hanya mendorong santri untuk membaca lebih banyak buku, tetapi juga mengajak mereka memahami bagaimana ilmu diperoleh, dikaji, dan dipertanggungjawabkan. Dalam tradisi keilmuan Islam, salah satu aspek penting yang perlu dijaga adalah isnad, yakni mata rantai periwayatan yang menjelaskan sumber suatu riwayat atau pengetahuan.
Ustaz Imam menjelaskan bahwa tradisi keilmuan para ulama dibangun di atas kehati-hatian dalam menerima dan menyampaikan ilmu. Ia mengutip ungkapan yang dikenal dalam kajian ilmu hadis, laula al-isnad laqala man sya’a ma sya’a. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa tanpa isnad, seseorang dapat mengatakan apa saja tanpa kejelasan sumber dan asal-usul perkataannya.
“Tradisi para ulama adalah menjaga riwayat dalam mengambil ilmu. Dalam ilmu musthalah hadis disebutkan, laula al-isnad laqala man sya’a ma sya’a. Kalau bukan karena isnad, seseorang dapat berkata apa saja tanpa diketahui perawi atau sumber dari mana perkataan itu berasal,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berharap DBF dapat mendorong santri memperluas wawasan melalui buku dan berbagai kegiatan literasi, sehingga memiliki landasan pengetahuan yang kuat dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang disampaikan.
“Melalui DBF, diharapkan para santri dapat mempertanggungjawabkan apa yang mereka ketahui melalui wawasan keilmuan yang diperoleh dari buku-buku dan berbagai dimensi literasi. Dengan begitu, mereka dapat memahami perbedaan antara orang yang berilmu dan yang tidak. Di situlah terlihat kedudukan orang alim yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak berilmu,” ujarnya.

Menguatkan Tradisi Membaca dan Menulis
Pentingnya membangun budaya literasi di pesantren juga disampaikan Direktur Utama Terra Pustaka, Muh. Iqbal Santoso. Ia mengapresiasi konsistensi Pondok Pesantren Darussalam Bogor dalam menyelenggarakan bazar buku sebagai ruang bagi santri untuk mengakses bahan bacaan sekaligus berinteraksi dengan para penulis.
Menurut Iqbal, kegiatan seperti DBF memberikan kesempatan kepada santri untuk memperoleh buku dengan harga terjangkau dan mengenal lebih dekat para penulis yang telah melahirkan karya-karya inspiratif.
Pada penyelenggaraan tahun ini, DBF 2026 menghadirkan Habiburrahman El Shirazy, yang akrab disapa Kang Abik. Kehadirannya turut menjadi kesempatan bagi para santri untuk mengenal proses kreatif seorang penulis sekaligus menumbuhkan motivasi untuk berkarya.
“Tahun ini, dalam acara DBF 2026, hadir Kang Abik yang baru saja meluncurkan karya terbarunya, Ayat-Ayat Cinta 3: Cintaku di Gaza. Mudah-mudahan kehadiran Kang Abik dan penulis-penulis hebat lainnya dapat memotivasi santri untuk terus menguatkan literasi, suka membaca, dan mampu menulis,” kata Iqbal.
Bagi pesantren, penguatan literasi tidak berhenti pada kebiasaan membaca dan memahami ilmu. Tradisi tersebut juga perlu dilanjutkan dengan kemampuan menyampaikan dan mendokumentasikan pengetahuan melalui tulisan. Dengan demikian, ilmu yang dipelajari tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat diwariskan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Melalui Darussalam Book Fair 2026, Pondok Pesantren Darussalam Bogor berupaya menghadirkan ruang perjumpaan antara buku, pembaca, dan penulis dalam satu ekosistem literasi. Lebih dari sekadar bazar, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar pesantren dalam merawat tradisi keilmuan, menjaga tanggung jawab dalam menyampaikan ilmu, serta menumbuhkan generasi santri yang gemar membaca, tekun mengkaji, dan produktif menulis.
(Syahruddin/sajada.id)






Komentar