Kesra
Beranda » Berita » BPDP Dorong Korporatisasi Petani Sawit, dari Peremajaan hingga Hilirisasi

BPDP Dorong Korporatisasi Petani Sawit, dari Peremajaan hingga Hilirisasi

SAJADA.ID, MEDAN— Peremajaan sawit rakyat tidak cukup hanya mengganti tanaman tua. Petani juga harus terhubung dengan industri hingga pasar.

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong langkah tersebut melalui kemitraan dan korporatisasi petani. Tujuannya meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan kesejahteraan pekebun.

Hal itu disampaikan Kepala Divisi Penyaluran Dana Sektor Hulu Perkebunan Kelapa Sawit BPDP, Ahmad Munir. Ia berbicara dalam Diskusi Uji Publik di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Selasa (15/9/2026).

MTQ Nasional Buka Ruang Setara bagi Muslim Tuli, Al-Qur’an Isyarat Terus Dikembangkan

Diskusi digelar Rumah Sawit Indonesia (RSI) bersama USU. Temanya, “Kemitraan Petani-Perusahaan Dalam Membangun Petani yang Handal dan Kompetitif, Melalui Intensifikasi Lahan dan Industrialisasi.”

Menurut Munir, petani sawit masih menghadapi sejumlah tantangan. Produktivitas tanaman, hilirisasi, dan daya saing global menjadi persoalan utama.

Petani juga menghadapi kampanye negatif terhadap industri sawit. Kondisi tersebut ikut memengaruhi citra sawit Indonesia di pasar global.

“Dukungan program pendanaan dari hulu hingga hilir bermuara pada peningkatan produktivitas, nilai tambah, daya saing, dan kesejahteraan pekebun,” kata Munir.

Petani Sawit Didorong Naik Kelas, dari Penghasil Bahan Baku hingga Pemilik Bisnis

PSR Menjadi Pintu Masuk Kemitraan

Salah satu program strategis BPDP adalah Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Program ini mengganti tanaman tua dan tidak produktif dengan benih unggul.

Pelaksanaannya juga diarahkan menggunakan Good Agricultural Practices (GAP). Dengan demikian, produktivitas meningkat tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan.

Munir mengatakan, perusahaan memiliki peran penting dalam pelaksanaan PSR. Perusahaan dapat menjadi pendamping teknis dan penguat kelembagaan petani.

Petani Sawit Jangan Hanya Jadi Pemasok, RSI Dorong Transformasi Menuju Koperasi Korporat

Perusahaan juga dapat berperan sebagai offtaker. Peran tersebut memberikan kepastian penyerapan hasil panen petani. “Kolaborasi ini mempercepat peremajaan sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani,” ujarnya.

Rp12,86 Triliun untuk Peremajaan

Data BPDP menunjukkan perkembangan signifikan program PSR. Periode 2016 hingga 31 Agustus 2026, peremajaan mencapai 428.745 hektare. Program tersebut melibatkan 187.782 pekebun. Total dana bantuan PSR yang telah disalurkan mencapai Rp12,86 triliun.

Jalur kemitraan juga terus berkembang. Skema tersebut mulai dibuka pada Mei 2023 untuk memperkuat keterlibatan perusahaan perkebunan.

Hingga akhir Agustus 2026, PSR melalui jalur kemitraan mencapai 21.890 hektare. Program tersebut melibatkan 19 perusahaan perkebunan sebagai mitra strategis.

Kemitraan Sawit Tak Cukup dengan Pendekatan Ekonomi, USU Dorong Kajian Sosiologi dan Antropologi

Petani Didorong Masuk Hilirisasi

Munir menegaskan, dukungan pemerintah tidak boleh berhenti di sektor hulu. Petani perlu terhubung dengan proses hilirisasi dan kebutuhan industri.

Karena itu, BPDP mendorong integrasi hulu-hilir melalui korporatisasi petani dan perusahaan. Konsolidasi produksi dinilai dapat membuat usaha petani lebih efisien.

Dukungan BPDP mencakup PSR, sarana dan prasarana, serta pengembangan sumber daya manusia. Dukungan juga diarahkan pada riset, inovasi teknologi, dan hilirisasi.

Khutbah Jumat: MERAJUT PERBEDAAN MENJADI HARMONI PERSATUAN

Integrasi tersebut diharapkan menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Pada akhirnya, manfaat industri sawit diharapkan semakin dirasakan para pekebun.

“Integrasi hulu-hilir menjadi bagian penting untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan,” kata Munir

(Syahruddin/sajada.id)

Jawara Depok Gandeng Bank Jakarta Syariah, Buka Akses Modal UMKM hingga Rp2 Miliar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *