Agama
Beranda » Berita » Dialektika Aswaja di Era Digital: Menjaga Ruh, Menjemput Zaman

Dialektika Aswaja di Era Digital: Menjaga Ruh, Menjemput Zaman

Ilustrasi: Kiai Hasyim Asy'ari sedang menyimak para santrinya.

SAJADA.ID–Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sejak awal bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan manhaj berpikir yang lahir dari kedalaman tradisi dan ketajaman intelektual para ulama. Ia berdiri di atas prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil).

Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, Aswaja kini menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan ruhnya.

Era digital telah mengubah lanskap otoritas keagamaan. Media sosial menjadikan setiap orang berpotensi menjadi “penceramah” tanpa melalui proses panjang keilmuan dan sanad. Akibatnya, konten keagamaan yang ekstrem—baik radikal maupun liberal—mudah viral dan memengaruhi persepsi publik.

Kloter Pertama Haji 2026 Berangkat 22 April

Dalam situasi ini, umat sering kesulitan membedakan antara ilmu yang otoritatif, opini yang bias, dan hoaks yang menyesatkan.

Fenomena “dakwah instan” pun tak terelakkan. Agama kerap disederhanakan menjadi potongan video singkat tanpa konteks, mengabaikan kompleksitas turats (khazanah klasik) yang selama ini menjadi fondasi keilmuan Islam.

Di sisi lain, adab dalam berdiskusi kian tergerus. Perbedaan pendapat yang dahulu dirawat dengan etika, kini kerap berubah menjadi perdebatan kasar yang kehilangan nilai-nilai akhlak.

Di sinilah Aswaja menunjukkan relevansinya sebagai manhaj dialektik. Ia bukan mazhab yang kaku, melainkan cara berpikir yang mampu menjembatani teks dan realitas. Prinsip tawazun mengajarkan keseimbangan antara nash dan konteks, sementara i’tidal menuntun pada keadilan dalam menyikapi perbedaan.

Satu Guru, Tiga Gelombang: Arah Pendidikan Indonesia dari KH Sholeh Darat

Kaidah agung:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Menjadi kompas: menjaga tradisi lama yang baik, sekaligus mengambil hal baru yang lebih maslahat.

Tantangan Digital

Sejarah mencatat, para ulama besar seperti Imam al-Ghazali, Abu al-Hasan al-Asy’ari, hingga KH Hasyim Asy’ari tidak pernah terjebak dalam kejumudan.

Pentingnya Menyiapkan Bekal Berhaji

Mereka justru menghadirkan sintesis kreatif antara teks dan realitas zamannya. Spirit inilah yang seharusnya dihidupkan kembali dalam menghadapi era digital.

Dalam konteks kekinian, Nahdlatul Ulama sebagai penjaga utama manhaj Aswaja menunjukkan berbagai bentuk adaptasi.

Ngaji kitab kuning kini menjangkau publik luas melalui YouTube dan TikTok. Forum Bahtsul Masail merambah ruang digital, membahas isu-isu kontemporer seperti fintech, e-wallet, hingga kecerdasan buatan.

Santri tidak lagi hanya berkutat di pesantren, tetapi juga menjadi kreator konten yang menyebarkan dakwah melalui meme, reels, dan video edukatif.

Tokoh Nasional dan Ulama Dorong Kolaborasi Nyata untuk Dakwah Berkelanjutan

Figur-figur seperti Gus Mus dan tokoh-tokoh lainnya berhasil menerjemahkan nilai-nilai Aswaja ke dalam bahasa yang renyah, kontekstual. Penjelasannya mudah diterima generasi digital. Ini bukan sekadar adaptasi teknis, melainkan bentuk dialektika: pertemuan antara nilai lama yang otoritatif dengan medium baru yang efektif.

Namun, transformasi ini tidak boleh berhenti pada aspek medium. Aswaja harus tampil sebagai gerakan kultural digital yang membentuk cara berpikir dan berperilaku umat.

Literasi digital menjadi keniscayaan: umat harus kritis dalam menyaring informasi, tidak mudah terprovokasi, serta mampu membedakan antara dalil yang sahih dan narasi yang manipulatif.

Muktamar NU 2026: Rebranding Aswaja

Lebih dari itu, etika digital harus ditegakkan. Dunia maya bukan ruang bebas nilai. Ia tetap membutuhkan adab sebagaimana majelis ilmu: menghormati perbedaan, menghindari ujaran kebencian, dan menjunjung tinggi kejujuran intelektual. Tanpa ini, dakwah digital hanya akan menjadi bising tanpa makna.

Ruh Menjaga Tradisi

Pada akhirnya, masa depan Aswaja tidak ditentukan oleh seberapa kuat ia mempertahankan simbol-simbol lahiriah. Tetapi oleh kemampuannya menghidupkan ruh dalam menghadapi perubahan zaman.

Era digital bukan ancaman, melainkan peluang besar untuk menanamkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin secara lebih luas dan efektif.

Dorong Nikah di KUA, Kemenag Jabar Apresiasi Dukungan Gubernur

Aswaja akan tetap hidup—bahkan semakin relevan—selama umat berani mendialogkannya dengan realitas. Bukan sekadar menjaga warisan, tetapi menggerakkannya. Bukan hanya bertahan, tetapi juga memberi arah.

Di situlah Aswaja menemukan maknanya: sebagai jembatan antara tradisi dan masa depan.

Bey Arifin

Pengurus IKAPETE Jombang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *