SAJADA.ID, JAKARTA— Kesederhanaan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu menjadi perbincangan di media sosial setelah tertangkap kamera sedang berdiri di dalam gerbong MRT karena tidak mendapatkan tempat duduk.
Momen tersebut viral setelah diunggah akun X @nabanmudrik. Dalam foto yang beredar, Abdul Mu’ti tampak mengenakan batik hijau dan topi biru.
Ia berdiri di tengah kepadatan penumpang sambil memegang telepon genggamnya. Tidak ada perlakuan khusus ataupun fasilitas istimewa sebagaimana lazimnya pejabat negara.
“Pak Menteri @abe_mukti naik MRT gak kebagian kursi,” tulis akun tersebut.
Unggahan itu pun mendapat beragam respons positif dari warganet. Banyak yang mengapresiasi kesederhanaan Abdul Mu’ti yang tetap memilih menggunakan transportasi publik meskipun saat ini menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih.
Padahal, sebagaimana dikutip sajada.id dari majelistabligh.id, kebiasaan menggunakan transportasi umum bukanlah hal baru bagi Abdul Mu’ti. Jauh sebelum menjadi menteri, ia telah terbiasa menggunakan MRT, KRL maupun moda transportasi publik lainnya untuk beraktivitas.
Bagi Abdul Mu’ti, transportasi publik bukan sekadar sarana perjalanan, melainkan ruang untuk berinteraksi dan merasakan langsung kehidupan masyarakat. Karena itu, ia tidak pernah merasa perlu mendapatkan perlakuan khusus hanya karena jabatannya.
Amanah
Dalam berbagai kesempatan, Abdul Mu’ti juga menegaskan bahwa jabatan merupakan amanah yang bersifat sementara. Kehormatan seseorang, menurutnya, bukan karena kedudukan ataupun fasilitas yang ada.
“Jabatan adalah amanah yang bisa berakhir kapan saja. Saya tidak ingin dihormati karena jabatan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan prinsip hidupnya. Ia meyakini bahwa kemuliaan seseorang lebih karena akhlak, integritas, dan manfaat untuk sesama daripada simbol-simbol kekuasaan.
Kesederhanaan itu tidak hanya terlihat saat menggunakan transportasi publik. Dalam sejumlah kunjungan kerja ke berbagai daerah, Abdul Mu’ti juga tidak terlalu mementingkan fasilitas mewah. Ia lebih memilih fasilitas yang sederhana dan fungsional selama dapat menunjang pelaksanaan tugasnya.
Sikap tersebut menjadi teladan di tengah tingginya ekspektasi publik terhadap gaya hidup para pejabat.
Abdul Mu’ti menunjukkan bahwa kedekatan dengan rakyat tidak harus melalui slogan, melainkan melalui kebiasaan hidup yang sederhana dan membumi.
Sorotan Netizen
Kolom komentar media sosial pun dipenuhi apresiasi. Salah seorang warganet menulis, “Yuk biasakan seperti ini, para pejabat juga rakyat biasa, tidak semestinya selalu mendapat perlakuan istimewa.”
Warganet lainnya bahkan berseloroh bahwa Abdul Mu’ti seharusnya mendapatkan kursi bukan karena jabatannya, melainkan karena faktor usia.
“Harusnya dapat kursi prioritas sih, yang lebih muda mestinya kasih bapak-bapak lansia tempat duduk,” tulis pengguna media sosial lainnya.
Di tengah sorotan terhadap gaya hidup sebagian pejabat, potret Abdul Mu’ti yang berdiri di gerbong MRT tanpa fasilitas khusus menjadi angin segar bagi publik. Kesederhanaannya ini mengingatkan bahwa seorang pemimpin tetap dapat hadir sebagai bagian dari masyarakat ataupun bawahannya.
(Syahruddin El Fikri/Sajada.id)






Komentar