SAJADA.ID— Volume kendaraan pemudik yang keluar dari Jakarta hingga 25 Maret 2026 pukul 06.00 WIB tercatat telah mencapai 2.521.125 unit. Angka ini setara dengan 72 persen dari total proyeksi pergerakan kendaraan selama masa mudik Lebaran 2026 yang diperkirakan menyentuh 3,5 juta kendaraan.
Data tersebut disampaikan dalam keterangan resmi jajaran Operasi Ketupat 2026, yang menegaskan bahwa arus mudik tahun ini berlangsung sangat tinggi, namun secara umum tetap terkendali.
Kasatgas Humas Operasi Ketupat 2026, Brigjen Pol. Tjahyono Saputro, menyebutkan bahwa secara umum arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 berjalan aman, tertib, dan terkendali meski mobilitas masyarakat meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
“Secara umum arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 berjalan aman, tertib, dan terkendali meskipun terjadi peningkatan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Brigjen Pol. Tjahyono, sebagaimana dikutip dari tribratanews.com.

72 Persen Kendaraan Sudah Keluar Jakarta
Bila mengacu pada proyeksi 3,5 juta kendaraan keluar dari Jakarta selama periode mudik, maka capaian 2,52 juta kendaraan hingga 25 Maret menunjukkan bahwa mayoritas gelombang mudik telah berlangsung.
Artinya, dalam hitungan kurang dari sepekan menjelang akhir fase utama mudik, lebih dari dua pertiga kendaraan pemudik telah meninggalkan Jakarta menuju berbagai daerah tujuan, terutama ke wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan sejumlah daerah lain yang menjadi kantong pemudik.
Tingginya volume ini sekaligus menggambarkan bahwa pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 tetap besar, sejalan dengan tradisi mudik yang menjadi momentum tahunan paling masif di Indonesia.
Puncak Arus Mudik Terjadi 18–19 Maret 2026
Puncak arus mudik tercatat terjadi pada 18 hingga 19 Maret 2026, dengan jumlah kendaraan keluar Jakarta mencapai 270.315 unit.
Jumlah ini disebut mengalami kenaikan sekitar 4,62 persen dibandingkan periode puncak mudik tahun 2025. Bahkan, angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah dalam catatan pergerakan arus mudik keluar Jakarta.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa tren mudik tahun 2026 mengalami lonjakan yang cukup nyata, baik dari sisi volume kendaraan pribadi maupun mobilitas masyarakat secara keseluruhan.
Lonjakan tersebut juga menjadi indikator bahwa kebijakan pengaturan perjalanan, fleksibilitas waktu keberangkatan, serta semakin banyaknya masyarakat yang memilih mudik lebih awal, ikut memengaruhi distribusi arus kendaraan.
Arus Balik Mulai Besar, Tapi Belum Tuntas
Meski fokus utama masih pada volume kendaraan mudik, data hingga 25 Maret 2026 juga menunjukkan bahwa kendaraan yang kembali ke Jakarta telah mencapai 1.958.838 unit, atau sekitar 57,71 persen dari proyeksi total arus balik sebesar 3,4 juta kendaraan.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 42,29 persen kendaraan arus balik yang diperkirakan belum masuk Jakarta dan berpotensi bergerak pada gelombang lanjutan hingga 28–29 Maret 2026.
Adapun puncak arus balik sementara tercatat terjadi pada 24–25 Maret 2026, dengan jumlah kendaraan mencapai 256.338 unit, atau naik sekitar 14,68 persen.
Rekayasa Lalu Lintas Berperan Jaga Kelancaran
Kelancaran arus kendaraan selama masa mudik 2026 tidak lepas dari penerapan berbagai strategi rekayasa lalu lintas yang dilakukan secara dinamis dan berbasis parameter lapangan.
Di antaranya melalui penerapan contraflow bertahap, one way lokal Presisi, hingga one way nasional pada titik-titik tertentu, baik saat arus mudik maupun arus balik.
Selain itu, pemanfaatan ruas tol fungsional juga membantu mengurangi kepadatan di jalur utama, sehingga distribusi kendaraan dapat lebih terurai.
Mayoritas Gelombang Mudik Sudah Terlewati
Berdasarkan capaian 72 persen kendaraan keluar Jakarta, dapat disimpulkan bahwa fase utama arus mudik Lebaran 2026 praktis sudah terlewati hingga 25 Maret 2026.
Namun demikian, sisa sekitar 28 persen dari proyeksi kendaraan keluar Jakarta masih berpotensi bergerak, terutama dari masyarakat yang memilih mudik belakangan, perjalanan jarak menengah, atau mobilitas lokal antarwilayah yang masih berlangsung pasca puncak.
Karena itu, pengguna jalan tetap diimbau untuk mengatur waktu perjalanan dengan baik, memantau kondisi lalu lintas secara berkala, dan memanfaatkan jalur alternatif maupun kebijakan rekayasa lalu lintas yang diterapkan petugas di lapangan.
Berdasarkan data di atas, maka secara keseluruhan, data hingga 25 Maret 2026 pukul 06.00 WIB menunjukkan bahwa:
- Kendaraan keluar Jakarta (arus mudik): 2.521.125 unit
- Setara 72 persen dari proyeksi 3,5 juta kendaraan
- Puncak arus mudik: 18–19 Maret 2026
- Jumlah saat puncak: 270.315 unit
- Naik 4,62 persen dibanding 2025
- Disebut sebagai volume tertinggi sepanjang sejarah
Angka-angka ini menegaskan bahwa mudik Lebaran 2026 menjadi salah satu periode dengan mobilitas kendaraan paling tinggi, terutama dari Jakarta sebagai pusat pergerakan nasional.
(Syahruddin El Fikri/sajada.id)






Komentar