Agama
Beranda » Berita » Panasnya Kopi, Tak Sepanas PWI-LS vs FPI

Panasnya Kopi, Tak Sepanas PWI-LS vs FPI

Obrolan Kang Santri:

Panasnya Kopi, Tak Sepanas “PWI-LS vs FPI”

Oleh: Dr. Heru Siswanto, M.Pd.I*

sajada.id/–Pagi itu mendung tipis menggantung di langit kampung. Udara sejuk menyelimuti warung kecil milik Ning Jem yang terletak di pojokan desa, tepat di pinggir sawah yang sedang menghijau royo-royo. Gemericik suara sungai kecil menambah suasana syahdu. Sementara itu, wangi kopi hitam dan gorengan pisang, ketela, serta ote-ote yang baru diangkat dari wajan, menggoda siapa saja yang lewat.

Puncak Hari Santri 2026, Kota Depok Hadirkan Gus Kautsar

Di sudut warung, tampak beberapa sosok bersarung sedang duduk santai. Kang Dul, Kang Pred, Kang Put, dan Kang Nor tengah menikmati pagi dengan nyruput kopi dan obrolan ringan khas santri kampung.

Kang Dul memulai pembicaraan sambil menyulut rokok yang ujungnya diolesi ampas kopi. “Kang-kang, kalian ngikuti nggak berita bentrokan yang berdarah itu kemarin?”

Mendengar itu, Kang Pred mengernyitkan dahi. “Bentrokan yang mana, Kang? Demo ijazah palsu itu?”

Kang Put tertawa kecil. “Halah, paling yang ribut-ribut antara PWI-LS dan FPI itu ya, Kang? Hehe…”

MT Balwan dan Rutan Depok Jajaki Sinergi Pembinaan Keagamaan dan Sosial

Kang Dul mengangguk santai. “Iya, itu lho… pas Habib Rizieq datang ke acara di Desa Pegundan, Petarukan, Pemalang, suasananya langsung panas. Kejadiannya hari Rabu, 22 Juli kemarin.”

Kang Pred mengangguk-angguk. “Oalah, iya… saya juga baca beritanya. Polda Jawa Tengah bilang ada 15 orang luka-luka. Sembilan dari PWI-LS, dua dari FPI, dan empat polisi. Dua orang sampai dirawat inap di rumah sakit.”

Sambil menyuap gorengan ketela yang agak gosong, Kang Nor ikut menimpali, “Kabar terakhir, Polres Pemalang masih nyelidiki penyebab pastinya. Semoga segera ada titik temu yang damai.”

PBNU Umumkan Susunan Pengurus 2026-2031, Gus Kikin: Qanun Asasi Jadi Rujukan

Kang Dul tersenyum lirih sambil menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. “Saya pribadi, Kang, nggak berpihak siapa-siapa. Kyai-kyai NU yang saya ikuti selama ini, nggak pernah ngajarin benci apalagi sampai ribut-ribut begitu.”

Mendengar itu, Kang Put tertawa renyah. “Berarti, Kang, kamu ini pecinta habaib yang lembut dan berakhlak, tapi bukan berarti pro-FPI, kan?”

Kang Dul menoleh dan menjawab tegas, “Iya, bener Kang. Sama juga, pecinta Walisongo dan ulama-ulama Nusantara bukan berarti otomatis pro PWI-LS. Jangan sampai kita salah kaprah soal ini.” Sambil berkata begitu, ia menepuk pelan kepala Kang Put yang duduk di sebelahnya.

Kang Pred ikut menguatkan. “Kalau dipikir-pikir, kita ini bukan bagian dari dua-duanya. Kita ini Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah. Pegangannya cinta ilmu dan akhlak. Mau beda suku, ormas, asal sopan dan beradab, tetap kita hormati.”

IGIC 2026 Bentuk IAMI, Nasaruddin Umar Dipercaya Jadi Presiden Pertama

Kang Nor tersenyum lebar. “Wah, Kang Pred sekarang omongannya makin dalam… kayak Kyai ngisi ngaji wetonan!”

Kang Put menyambung sambil merapikan sarungnya. “Salah satu ciri khas kita ya itu tadi, menghormati perbedaan. Kalau ada masalah, diselesaikan dengan musyawarah, bukan otot.”

Tiba-tiba, Kang Zak—suami Ning Jem—yang baru saja selesai menyapu halaman warung ikut bergabung dan duduk di tikar sebelah barat. “Yaaa… Kita ini memang diajari untuk duduk bersama, mencintai damai, bukan memancing keributan. Harus menyebar kasih sayang dan menjauhi kebencian.”

Maulid Nabi di Rumah Berkah Dorong Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah dan Peduli Yatim-Dhuafa


Kang Dul mengangguk mantap. “Betul, Kang Zak. Bahkan yang memusuhi kita pun tetap harus kita hadapi dengan cara bijak. Itulah manhaj kita: mengikuti jejak para muassis Nahdlatul Ulama… sampai mati. SIAPA KITA?!”

“NUUUU!” jawab mereka serentak, disusul tawa riang.

Kang Put menimpali lagi, “Meski ada juga yang ngaku-ngaku bagian dari kita, tapi kelakuannya kadang nggak mencerminkan nilai-nilai itu. Tapi yaa… Gusti Allah pasti Maha Tahu.”

Konfercam III MWCNU Bogor Utara Tetapkan Yayan Suryana dan Abdul Jalal Pimpin NU Bogor Utara 2026–2031

Kang Nor menarik napas dalam-dalam. “Yang penting jangan sampai kita, atau keluarga kita, dijadikan alat untuk memecah belah umat Islam dan bangsa Indonesia. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban nanti di hadapan-Nya.”

Kang Zak berdiri dan mengepalkan tangan. “Dulur-dulur… marilah kita kembali ke jalan orang-orang shalih. Allahu Akbar!”

Lalu, sambil tertawa ringan, Kang Dul berdiri dan berseru, “Ayooo… rek budal makaryo! Nanti dicari Mbah Yai… ha.. ha.. ha ”

Renungan Pagi: Hikmah di Warung Kopi

Di tengah suasana sederhana, obrolan warung ternyata bisa melahirkan hikmah yang dalam. Dari kopi pahit dan gorengan sederhana, tersirat pelajaran: jangan mudah terprovokasi, jangan mudah menyalahkan, apalagi saling menyakiti atas nama agama.

Perbedaan itu wajar. Tapi kematangan sikap dalam menyikapinya, itu yang istimewa.

Mari tetap menjaga akhlak, menjunjung ilmu, dan merawat persaudaraan. Karena cinta dan damai selalu lebih kuat daripada benci dan amarah.

Semoga bermanfaat… Aamiin Yaa Mujibassaailiin.


Tentang Penulis:

Dr. Heru Siswanto, M.Pd.I – Ketua Program Studi dan Dosen PAI-BSI (Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner) Pascasarjana IAI Al-Khoziny Sidoarjo. Dosen PAI Terapan Poltek Pelayaran Surabaya. Pengurus Lembaga Takmir Masjid PCNU Sidoarjo. Ketua Lembaga Dakwah MWCNU Krembung.