Hikmah
Beranda » Berita » Barokah Itu Bukan Sekadar Banyak: Hikmah Ibrahim bin Adham dari Kambing dan Anjing

Barokah Itu Bukan Sekadar Banyak: Hikmah Ibrahim bin Adham dari Kambing dan Anjing

SAJADA.ID—Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang memiliki penghasilan besar, tetapi hidup terasa sempit. Waktu terasa kurang, rezeki cepat habis, rumah ramai namun tak selalu tenteram.

Di sinilah para ulama dahulu mengenalkan satu konsep penting yang sering terlupakan: barokah. Barokah bukan sekadar banyak. Ia adalah kebaikan yang menetap dan terus bertambah manfaatnya, meski secara angka terlihat sedikit.

Dalam tradisi para ahli hikmah, ada sebuah kisah yang populer dinisbatkan kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah untuk menjelaskan makna ini.

Kolaborasi Jadi Kunci, Donor Darah “Setetes Darah Sejuta Berkah” Himpun Kepedulian Warga Depok

Kambing dan Anjing: Sebuah Perumpamaan Sederhana

Kisahnya sebagai berikut; Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham, “Aku tidak percaya dengan yang namanya barokah.”

Beliau tidak langsung membantah. Ia justru bertanya, “Apakah engkau pernah melihat anjing dan kambing?”

“Pernah,” jawab orang itu.

“Mana yang lebih banyak melahirkan anak?”

Halalkah Bitcoin dan Crypto?

“Anjing. Bisa sampai banyak dalam sekali lahir. Kambing lebih sedikit.”

Ibrahim bin Adham lalu bertanya lagi, “Kalau begitu, mana yang lebih banyak jumlahnya di sekitarmu: anjing atau kambing?”

Orang itu terdiam, lalu menjawab, “Kambing lebih banyak.”

Perkuat Ukhuwah, MT. Balwan Gelar Halal Bihalal dan Tadabbur Alam

Padahal, kambing hampir setiap hari disembelih, dimakan, dijual, dijadikan aqiqah dan kurban. Namun jumlahnya tetap melimpah. Sedangkan anjing—yang secara logika lebih cepat berkembang biak—tidak sebanyak kambing. Bahkan, jarang terlihat.

Ibrahim bin Adham pun berkata singkat, “Itulah barokah.”

Dalam sebagian versi kisah, beliau menambahkan: kambing tidur lebih awal dan bangun menjelang fajar, sementara anjing banyak bergaduh di malam hari lalu tidur saat waktu sahur. Maka kambing mendapatkan waktu turunnya rahmat, sedangkan anjing kehilangan waktu.

Barokah: Ketika Sedikit Menjadi Cukup

Kisah ini bukan pelajaran tentang hewan, melainkan tentang kehidupan manusia. Ia mengajarkan bahwa barokah tidak selalu mengikuti logika angka.

Kloter Pertama Haji 2026 Berangkat 22 April

Banyak orang memiliki:

  • penghasilan besar, tapi selalu kurang
  • waktu luang, tapi tidak produktif
  • rumah luas, tapi tidak nyaman
  • umur panjang, tapi minim amal

Sebaliknya, ada yang hidup sederhana namun cukup, tenang, dan penuh manfaat. Itulah barokah—nilai tambah dari Allah yang tidak selalu bisa diukur dengan hitungan matematis.

Allah ﷻ berfirman:

Kegiatan Sosial Donor Darah Massal: Setetes Darah, Sejuta Berkah

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ

“Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A‘raf: 96).

Ayat ini menegaskan bahwa barokah bukan hasil kerja semata, tetapi karunia Allah yang terkait erat dengan iman dan takwa.

Rahasia Waktu Fajar: Pintu Barokah yang Sering Terlewat

Bagian paling dalam dari kisah ini adalah isyarat tentang waktu. Kambing ibarat seseorang yang bangun sebelum fajar, sedangkan anjing justru tertidur saat itu.

Satu Guru, Tiga Gelombang: Arah Pendidikan Indonesia dari KH Sholeh Darat

Dalam Islam, waktu akhir malam adalah waktu istimewa. Allah ﷻ berfirman:

وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)

Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu mengabulkan doa hamba-Nya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, barokah sangat terkait dengan bagaimana kita memperlakukan waktu, terutama waktu-waktu mulia:

  • Akhir malam (tahajud dan istighfar)
  • waktu sahur
  • shalat Subuh

Banyak orang kehilangan barokah bukan karena kurang usaha, tetapi karena melewatkan momen turunnya rahmat setiap hari.

Barokah Itu Menempel pada Ketaatan

Kisah ini mengajarkan satu hal penting: barokah tidak sekadar lahir dari kerja keras, tetapi dari hidup yang dekat dengan Allah.

Kerja keras tanpa kedisiplinan ruhani sering menghasilkan kelelahan tanpa ketenangan. Sebaliknya, hidup yang senantiasa:

  • shalat tepat waktu
  • bangun sebelum Subuh
  • istighfar di waktu sahur
  • menjaga kehalalan rezeki
  • memperbanyak sedekah
  • menjaga silaturahim,
  • akan lebih mudah mendapatkan keberkahan.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Hadits ini menegaskan bahwa pagi hari adalah salah satu pintu barokah—bagi mereka yang tidak melewatkannya.

Belajar dari yang Sederhana

Kisah kambing dan anjing yang dinisbatkan kepada Ibrahim bin Adham mengajarkan bahwa pelajaran besar bisa datang dari hal yang sangat sederhana.

Barokah tidak selalu terlihat spektakuler. Ia hadir dalam bentuk:

  • rezeki yang cukupkeluarga yang hangat
  • hati yang tenang
  • waktu yang produktif
  • amal yang terus mengalir
  • Maka jika ingin hidup lebih lapang, jangan hanya mengejar “banyak”.

Mulailah mengejar barokah.

Dan mungkin, seperti pesan hikmah para ulama, langkahnya dimulai dari hal yang sering kita remehkan:tidur lebih awal, bangun sebelum fajar, menjaga shalat, dan mendekat kepada Allah.

(Syahruddin El Fikri/sajada.id)

Catatan Redaksi

Kisah tentang dialog Ibrahim bin Adham mengenai kambing dan anjing ini masyhur dalam literatur dakwah populer dan sering digunakan sebagai perumpamaan tentang barokah.

Namun, belum ditemukan rujukan yang tegas dan terverifikasi dalam kitab klasik dengan sanad yang jelas. Karena itu, kisah ini lebih tepat diposisikan sebagai hikmah atau tamsil, bukan hadits atau dalil utama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *