SAJADA.ID, JAKARTA — Momentum Halal Bihalal tidak hanya menjadi ajang silaturahmi. Lebih dari itu, para tokoh nasional dan ulama mendorong lahirnya kolaborasi nyata demi keberlanjutan dakwah umat.
Pesan ini mengemuka dalam Haflah yang digelar Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Gedung DDII, Sabtu (18/4).
Kegiatan mengusung tema “Kolaborasi Menuju Dakwah Berkelanjutan” dan dihadiri tokoh nasional, pimpinan ormas Islam, ulama, hingga perwakilan internasional dari Malaysia dan MABIMS.
Perkuat Arah Dakwah
Ketua Pembina DDII, Didin Hafidhuddin, menegaskan bahwa silaturahmi Idulfitri harus melampaui tradisi seremonial. Ia menyebut momen ini sebagai ruang strategis untuk memperkuat arah dakwah.
Menurutnya, silaturahmi memiliki tiga tujuan utama: tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa), tajdid an-niyyah (pembaruan niat), dan taqwiyah al-jama’ah (penguatan organisasi). Ketiganya menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan gerakan dakwah.
Didin juga menekankan delapan prinsip ukhuwah Islamiyah sebagai pijakan bersama. Prinsip itu meliputi tauhid sebagai dasar gerakan, musyawarah dalam menyatukan perbedaan, kesetaraan (al-musawah), serta kerja sama (at-ta’awun) dalam kebaikan.
Selain itu, ia menggarisbawahi pentingnya menyatukan hati (ta’liful qulub), berlomba dalam kebaikan (istibaqul khairat), menjunjung toleransi (at-tasamuh), dan menjaga konsistensi dalam iman serta amal (istiqamah). Prinsip-prinsip ini, menurutnya, harus diwujudkan dalam kerja nyata, bukan sekadar konsep.
Kesinambungan
Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa dakwah membutuhkan kesinambungan dan kerja kolektif.
Ia mengingatkan, dakwah tidak cukup berhenti pada penyampaian ajaran. Dakwah harus hadir sebagai solusi konkret atas persoalan umat. “Umat harus saling menguatkan di mana pun berada,” ujarnya.
Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung, menambahkan bahwa arah pembangunan Indonesia harus menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Ia juga menyoroti pentingnya kepedulian terhadap isu global, termasuk Palestina, sebagai bagian dari tanggung jawab moral umat.
Sementara itu, Ahmad Syaikhu menekankan makna kolaborasi yang sesungguhnya. Ia mengingatkan bahwa kolaborasi bukan ruang mencari kekurangan, melainkan sarana untuk saling melengkapi.
“Bangsa tidak akan kuat jika satu pihak membangun sementara yang lain merusak,” ujarnya. Ia mendorong agar kolaborasi melahirkan gerakan dakwah yang terukur dan berkelanjutan.

Tantangan Dakwah
Menutup rangkaian acara, Ketua Umum DDII, Adian Husaini, menyoroti tantangan dakwah yang terus berkembang. Ia menyebut isu sekularisasi dan kristenisasi masih menjadi perhatian serius dalam gerakan dakwah.
Menurutnya, tujuan utama dakwah adalah menghadirkan kehidupan yang baik melalui nilai-nilai Islam. Ia mengaitkan semangat ini dengan perjuangan tokoh-tokoh bangsa seperti Mohammad Natsir.
Adian juga memaparkan empat kekuatan Indonesia menuju Indonesia Emas. Pertama, tingginya religiusitas masyarakat. Kedua, kekayaan sumber daya alam. Ketiga, tradisi dialog ilmiah yang kuat. Keempat, fondasi ideologis Pancasila dan UUD 1945.
Di bidang pendidikan, DDII terus memperkuat kaderisasi melalui jaringan lembaga pendidikan, termasuk STID Mohammad Natsir. Ia menilai kaderisasi sebagai kunci utama keberlanjutan dakwah.
“Jika ingin menjadi pemimpin, jadilah guru yang berjuang,” ujarnya, sejalan dengan gagasan Mohammad Hatta tentang pentingnya membangun manusia berkarakter.
Haflah DDII ini menegaskan satu hal: masa depan dakwah bergantung pada kolaborasi yang nyata, terstruktur, dan berkelanjutan. Dakwah tidak hanya bergerak di ruang keagamaan, tetapi juga harus menjangkau pendidikan, sosial, ekonomi, dan kehidupan kebangsaan.
Dengan kolaborasi yang kuat, dakwah diharapkan mampu melahirkan umat yang mandiri, berdaya, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Ummu Ahya Gyantie
Dosen STID Mohammad Natsir






Komentar