Agama
Beranda » Berita » Begini Cara Rasul Mengisi Ramadhan

Begini Cara Rasul Mengisi Ramadhan

SAJADA.ID–Rasulullah SAW adalah suri teladan bagi umat. Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab [33]: 21).

Bahkan, dalam salah satu hadis yang diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwa akhlak Rasulullah SAW itu senantiasa merujuk pada Al-Qur’an. Karena itu, sudah selayaknya umat Islam menyontoh dan meneladani kepribadian Rasulullah SAW dalam segala hal, termasuk puasa. Berikut beberapa cara yang biasa dilakukan Rasulullah SAW dalam menjalankan ibadah puasa, dan menghidupkan Ramadhan.

Berniat untuk puasa sejak malam

Tokoh Nasional dan Ulama Dorong Kolaborasi Nyata untuk Dakwah Berkelanjutan

“Diriwayatkan dari Hafsah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat untuk puasa Ramadhan sejak malam, maka tak ada puasa baginya.” (HR Abu Dawud).

Mengawali dengan sahur

Setiap akan berpuasa, Rasul SAW selalu makan sahur dengan mengakhirkannya, yakni menjelang datangnya waktu imsak. Menyegerakan berbuka Saat waktu berbuka telah tiba, maka Rasul segera berbuka, minimal dengan sebutir kurma atau seteguk (segelas) air. Beliau makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Menyegerakan shalat

Muktamar NU 2026: Rebranding Aswaja

Setelah berbuka dengan sebutir kurma atau segelas air, Rasul SAW segera mendirikan shalat Maghrib.

Memberbanyak ibadah

Selama bulan Ramadhan, Rasul SAW senantiasa memperbanyak amalan, seperti shalat malam, tadarus Al-Qur’an, zikir, sedekah, tasbih, dan lainnya.

Dorong Nikah di KUA, Kemenag Jabar Apresiasi Dukungan Gubernur

I’tikaf

Memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasul SAW meningkatkan aktifitas ibadahnya, terutama memasuki 10 hari terakhir dengan i’tikaf.

Demikian beberapa penjelasan singkat mengenai cara Rasul Saw dalam mengisi Ramadhan. (Syahruddin/sajada.id)

Dialektika Aswaja di Era Digital dan Geopolitik Global: Menjaga Nurani di Tengah Bara Konflik