Agama
Beranda » Berita » Hijriyah dan Hijrah: Menata Hati, Menyiapkan Hari Esok

Hijriyah dan Hijrah: Menata Hati, Menyiapkan Hari Esok

Oleh Syahruddin El Fikri

Pergantian tahun selalu menghadirkan ruang perenungan. Dalam kalender Masehi, banyak orang membuat resolusi dan target baru.

Sementara dalam kalender Islam, pergantian tahun Hijriyah sesungguhnya mengandung makna yang jauh lebih mendalam. Ia bukan sekadar perpindahan angka dari satu tahun ke tahun berikutnya, melainkan pengingat akan sebuah peristiwa agung yang mengubah arah sejarah umat manusia: hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah.

Pers dan Hijriyah: Wartawan Jadi Penebar Kebenaran dan Kemaslahatan

Karena itu, ketika berbicara tentang Tahun Baru Hijriyah, kita sesungguhnya sedang berbicara tentang hijrah.

Hijriyah dan hijrah adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan. Kalender Hijriyah lahir dari peristiwa hijrah.

Umar bin Khattab ra ketika menetapkan kalender Islam tidak memilih tahun kelahiran Nabi ﷺ, tidak pula tahun wafat beliau atau tahun turunnya wahyu pertama. Yang dipilih justru peristiwa hijrah karena di dalamnya terdapat pesan perubahan, perjuangan, pengorbanan, dan harapan.

Hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah, hijrah adalah energi kehidupan, dan hijrah berarti menuju kebaikan.

Waspada, Kaki Furniture Kayu yang Menempel ke Lantai Bisa Jadi Pintu Masuk Rayap

Hijrah: Dari Gelap Menuju Terang

Ketika Rasulullah ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau meninggalkan banyak hal yang dicintainya. Kota Makkah adalah tanah kelahirannya. Di sana ada keluarga, sahabat, kenangan, dan berbagai jejak kehidupan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Namun demi mempertahankan iman dan menegakkan agama Allah, beliau rela meninggalkan semuanya.

Hijrah mengajarkan bahwa perubahan menuju kebaikan sering kali membutuhkan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman.

Antara Umar dan Umur

Dalam kehidupan sehari-hari, hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)

Maka hijrah bisa berarti meninggalkan kebiasaan buruk, meninggalkan kemalasan, meninggalkan kemaksiatan, meninggalkan kebencian, meninggalkan sifat iri dan dengki, lalu menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik.

Hijrah adalah perjalanan dari gelap menuju terang.

Argentina Puncaki Daftar Negara dengan Trofi Mayor Terbanyak di Dunia

Menyiapkan Hari Esok

Salah satu ayat yang sangat relevan dengan semangat Hijriyah adalah firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengandung pesan yang sangat kuat. Allah menggunakan kata ghad yang berarti “hari esok”. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata tersebut bukan hanya menunjuk kepada hari esok dalam arti harfiah, tetapi juga masa depan dan kehidupan setelah kematian.

UID Lepas 338 Mahasiswa untuk KKN, PKL, dan PPL 2026

Allah seolah mengingatkan manusia agar tidak hanya sibuk memikirkan hari ini, tetapi juga mempersiapkan hari esok.

Banyak orang mempersiapkan masa depan dunia dengan sangat serius. Mereka menyusun rencana pendidikan, karier, usaha, investasi, hingga dana pensiun.

Namun pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian?

MUI Dukung Penegakan Hukum Kasus Dugaan Pencabulan Santri di Pati

Tahun baru seharusnya menjadi momen untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah saya persiapkan untuk hari esok?

Muhasabah Sebelum Terlambat

Sayyidina Umar bin Khattab ra pernah berpesan:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Pesan ini sangat relevan setiap kali memasuki Tahun Baru Hijriyah.

Banyak orang menghitung usia yang bertambah. Namun tidak banyak yang menghitung amal yang bertambah.

Banyak orang mengevaluasi keuntungan usaha. Namun sedikit yang mengevaluasi keuntungan akhirat.

Padahal usia yang terus bertambah sesungguhnya adalah tanda bahwa jatah hidup semakin berkurang.

Tahun yang berlalu tidak akan pernah kembali. Waktu yang hilang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun.

Karena itu, Hijriyah mengajarkan pentingnya muhasabah. Menengok ke belakang untuk memperbaiki langkah ke depan.

Hijrah di Tengah Kesulitan Hidup

Kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah sering kali membuat sebagian orang merasa pesimis. Harga kebutuhan meningkat, persaingan semakin ketat, dan berbagai tantangan datang silih berganti.

Namun jika kita meneladani hijrah Rasulullah ﷺ, kita akan menemukan pelajaran penting bahwa perubahan besar justru sering lahir dari situasi yang sulit.

Ketika berhijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak membawa kemewahan. Mereka bahkan meninggalkan sebagian besar harta benda mereka. Tetapi mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu iman, optimisme, dan keyakinan kepada Allah.

Karena itu Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Ayat ini mengajarkan bahwa takwa adalah fondasi keberhasilan hidup.

Hijrah bukan hanya berpindah secara fisik, tetapi juga berpindah dari sikap mengeluh menuju syukur, dari malas menuju produktif, dari putus asa menuju optimisme, dan dari ketergantungan kepada manusia menuju ketergantungan kepada Allah.

Kecerdasan yang Sesungguhnya

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

Di era modern, kecerdasan sering diukur dari gelar, jabatan, atau kekayaan. Namun Rasulullah ﷺ memberikan ukuran yang berbeda.

Orang yang benar-benar cerdas adalah mereka yang mampu melihat jauh ke depan, yakni kehidupan setelah kematian.

Mereka tidak hanya memikirkan dunia, tetapi juga akhirat.

Mereka tidak hanya mengejar keuntungan sesaat, tetapi juga keuntungan yang kekal.

Momentum Memulai Perubahan

Tahun Baru Hijriyah pada akhirnya mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai perubahan.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, bertobat, dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Selain itu, tidak ada kata terlambat untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Hijrah bukan tentang menjadi sempurna dalam satu malam. Hijrah adalah proses panjang untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin.

Sebagaimana kata para ulama, orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik daripada kemarin. Dan orang yang merugi adalah mereka yang hari ini sama dengan kemarin.

Karena itu, memasuki Tahun Baru Hijriyah, mari bertanya kepada diri sendiri: perubahan apa yang akan kita lakukan tahun ini?

Sebab makna Hijriyah bukan hanya mengenang hijrah Rasulullah ﷺ, tetapi juga menghadirkan semangat hijrah dalam kehidupan kita sendiri.

Dari lalai menuju sadar, dari gelap menuju terang, dari dosa menuju taubat, dan dari dunia menuju akhirat. Dan dari hari ini menuju hari esok yang lebih baik di hadapan Allah SWT.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *