Agama
Beranda » Berita » Al Ummu Madrasatul Ulaa, Ini Alasannya

Al Ummu Madrasatul Ulaa, Ini Alasannya

Ibu atau Emak-emak Menjadi Bagian Terpenting Pembangunan Bangsa

sajada.id/–Dalam sebuah maqalah dikatakan, Al Ummu Madrasatul Ulaa, ibu adalah sekolah pertama (untuk anak-anaknya). Hal ini menunjukkan pentingnya peran ibu dalam pendidikan bagi anak-anaknya.

Ibu berperan sebagai guru pertama bagi anaknya. Ibu mengajarkan anaknya tentang kosa-kata, menunjukkan adab, akhlak, dan bagaimana menjadi seorang manusia yang punya perasaan atau hati.

Dialektika Aswaja di Era Digital: Menjaga Ruh, Menjemput Zaman

Selain itu, ada juga ungkapan "al-ummu madrasatul ula, wal abu mudiiruha" yang artinya "ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya, dan ayah adalah kepala sekolanya". Ungkapan ini juga menunjukkan pentingnya kerja sama atau kolaborasi antara ayah dan ibu dalam mendidik generasi masa depannya.

Pentingnya peran ibu, terungkap dalam maqalah berikut: "Al-ummu madrasatul ula, idzaa a'dadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq". Ibu adalah madrasah pertama, apabila engkau mempersiapkannya maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Ungkapan "Al-ummu madrasatul ula" ini juga menunjukkan pentingnya peran ibu. Mereka guru pertama bagi setiap anak.

Alasan inilah mengapa Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa para ibu memiliki peran penting. Bahkan beliau menyampaikan, para ibu merupakan bagian terpenting dalam pembangunan sebuah bangsa dan negara.

Kloter Pertama Haji 2026 Berangkat 22 April

Mengutip penyair Mesir Hafidz Ibrahim, Kiai Miftachul Akhyar menjelaskan bahwa ibu bagaikan sebuah madrasah. Hal itu dikatakannya saat sambutan di pembukaan Kongres Ke-18 Muslimat NU, dj Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa (10/2/2025) lalu.

"Islam mengakui kekuatan dan kemuliaan para ibu ini. Ibu ibarat madrasah, ibarat condro di muko, yang mengolah, mempersiapkan generasi-generasi yang akan datang, generasi yang mampu menyongsong bonus demografi pada puncaknya 2035 nanti, mampu menyiapkan generasi emas pada tahun 2045 nanti," katanya.

Kiai Miftach juga mengingatkan, para ibu bukanlah sebutan yang rendah. la menegaskan bahwa di dalam Al-Qur'an juga banyak sekali disebutkan kata-kata tentang ibu.

Satu Guru, Tiga Gelombang: Arah Pendidikan Indonesia dari KH Sholeh Darat

"Jadi babonnya desa, babonnya negara, ibunya negara. Sampai di bahasa kita, kita mengenal ibu negara, ibu kota. Tidak ada bapak kota, bapak negara," ungkapnya.


Tak hanya itu, Kiai Miftach juga menegaskan bahwa kalau NU dan negara telah mempersiapkan ibu-ibu sebagai madrasah dengan sebaik-baiknya. Berarti NU dan negara telah mempersiapkan generasi yang harum namanya.

"(Generasi) yang mempunyai wibawa yang besar, yang akan mengharumkan bangsa dan negara, dan memakmurkan negara ini, ikut menyelenggarakan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan," jelasnya.

Hal sama juga diakui Presiden RI Prabowo Subianto. Dalam sambutannya, presiden menyampaikan peran penting seorang ibu dalam mendidik, membimbing, dan membina generasi masa depan.

Pentingnya Menyiapkan Bekal Berhaji

"Mereka mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, mendidik, mengantar sekolah, bahkan terus membimbing hingga anak-anaknya dewasa," ujar Presiden Prabowo.

Menceritakan begitu luar biasanya peranan seorang ibu, Presiden Prabowo mengaku teringat dengan perjuangan ibu kandungnya. "Saya jadi ingat ibu," ujar Presiden Prabowo dan kemudian mengalihkan arah pembicaraan yang menjurus menguras emosional pribadi sang presiden. (Syahruddinsajada.id/)

Tokoh Nasional dan Ulama Dorong Kolaborasi Nyata untuk Dakwah Berkelanjutan