Kesra
Beranda » Berita » Kepala Puspenma Kemenag: Mahasiswa UID Harus Jadi Pemimpin Masa Depan Indonesia

Kepala Puspenma Kemenag: Mahasiswa UID Harus Jadi Pemimpin Masa Depan Indonesia

SAJADA.ID, DEPOK— Mahasiswa Universitas Islam Depok (UID) didorong tidak sekadar menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan Indonesia yang profesional, memiliki kepedulian sosial, serta kuat dalam nilai-nilai keagamaan.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Kementerian Agama RI, Ruchman Basori, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Studium Generale di Kampus Universitas Islam Depok (UID), Ahad (6/9/2026).

Ruchman menegaskan, mahasiswa harus memiliki visi jauh ke depan. Pendidikan tinggi, menurutnya, bukan sekadar jalan untuk mendapatkan ijazah atau gelar akademik, tetapi merupakan proses menyiapkan generasi yang mampu mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Ketua PCNU Depok Bekali Mahasiswa Pascasarjana UID dengan Moderasi Beragama

“Mahasiswa harus semangat untuk belajar dan menyelesaikan pendidikan. Lanjutkan kuliah sampai S2 hingga S3,” ujar Ruchman.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk kesenjangan pendidikan. Tidak semua anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan karena persoalan ekonomi, akses, dan keterbatasan pembiayaan.

“Pendidikan kita belum merata. Banyak putra-putri kita yang belum bisa sekolah karena kesenjangan pendidikan,” katanya.

Pemimpin Harus Lahir dari Kepedulian Sosial

Menurut Ruchman, realitas kesenjangan pendidikan di berbagai daerah seharusnya menjadi perhatian mahasiswa. Generasi terdidik tidak boleh hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi harus memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Rektor UID Bekali 159 Mahasiswa Pascasarjana dengan Tiga Pesan Penting

Ia juga menyinggung persoalan kesejahteraan guru, terutama guru honorer yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan pendapatan.

“Gaji guru sangat kecil, apalagi guru honor. Masalahnya kembali lagi pada persoalan dana,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, lanjut Ruchman, menunjukkan bahwa bangsa Indonesia masih memiliki pekerjaan besar yang harus diselesaikan oleh generasi mendatang.

Rektor UID Buka PBAK 2026, Tekankan Adab dan Prestasi Mahasiswa

Karena itu, mahasiswa harus mempersiapkan diri menjadi bagian dari solusi. Mereka harus memiliki kompetensi akademik sekaligus kepedulian sosial agar kelak mampu mengambil peran strategis dalam pembangunan bangsa.

Tiga Karakter Calon Pemimpin Indonesia

Ruchman menyebut setidaknya ada tiga karakter penting yang harus dimiliki mahasiswa, khususnya para penerima beasiswa atau awardee, agar mampu menjadi pemimpin masa depan.

Pertama, mencintai bangsa dan negaranya. Kecintaan tersebut harus diwujudkan dalam kontribusi nyata, bukan sekadar slogan.

Kedua, profesional sekaligus peka terhadap persoalan sosial. Mahasiswa harus memiliki kemampuan di bidangnya, tetapi tidak boleh kehilangan kepedulian terhadap masyarakat.

Gandeng SMKN 2 Pandeglang, Bogasari Perkuat TEFA dan Siapkan Siswa Jadi Pelaku Usaha

Ketiga, mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

“Harapannya, awardee mencintai bangsa dan negaranya sekaligus, profesional dan peka sosial, serta menjadi pemimpin masa depan Indonesia,” tegasnya.

Kecerdasan Tidak Ditentukan Latar Belakang

Dalam memberikan motivasi kepada mahasiswa, Ruchman mengutip pemikiran Antonio Gramsci mengenai pentingnya kelompok akar rumput dalam melahirkan perubahan.

Lestarikan Seni Musik Tradisional Jabar, PWI Depok Akan Gelar Harmoni Angklung

Ia menegaskan bahwa kesempatan menjadi orang besar dan pemimpin tidak hanya dimiliki mereka yang berasal dari kalangan elite.

“Orang cerdas bukanlah mereka yang berasal dari atas, tetapi juga dari grassroot, dari akar rumput,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi dorongan agar mahasiswa UID tidak minder dengan latar belakang masing-masing. Justru dari kampus dan lingkungan pendidikan inilah mahasiswa harus membangun kapasitas, memperluas wawasan, serta menyiapkan diri untuk mengambil peran di tengah masyarakat.

Peringati Kemerdekaan, Puluhan Wartawan Ikuti Turnamen Tenis Meja Antarmedia

Ruchman berharap mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam mampu menjadi generasi yang maju dan cerdas. Kecerdasan itu, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan karakter, integritas, dan tanggung jawab kebangsaan.

Era Disrupsi, Mahasiswa Tak Boleh Kehilangan Moral

Ruchman juga mengingatkan bahwa generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan derasnya arus informasi di era disrupsi menuntut mahasiswa memiliki kemampuan menyaring berbagai pengaruh.

Di tengah perubahan tersebut, moderasi beragama dan moralitas menjadi dua hal yang sangat penting.

Mahasiswa UID, kata Ruchman, harus mampu menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Tantangan generasi muda di era disrupsi adalah moderasi beragama dan moralitas,” tegasnya.

Ia berharap mahasiswa UID tidak hanya menjadi generasi yang unggul dalam akademik, tetapi juga mampu menjalankan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, pemimpin masa depan tidak cukup hanya cerdas. Pemimpin juga harus memiliki moralitas, kepedulian sosial, kecintaan kepada bangsa, serta kemampuan menghadapi perbedaan dengan sikap moderat.D

engan demikian, mahasiswa UID diharapkan mampu menjadikan masa kuliah sebagai momentum membangun kapasitas diri sekaligus menyiapkan kepemimpinan untuk masa depan Indonesia

(Syahruddin/SAJADA.ID)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *