SAJADA.ID, DEPOK— Dalam rangka melestarikan seni musik tradisional Jawa Barat sekaligus memeriahkan Hari Angklung Sedunia, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok akan menggelar pagelaran Harmoni Angklung 2026.
Kegiatan bertema “Bersama dalam Nada, Harmoni dalam Kebersamaan” ini akan berlangsung di Depok Town Square (Detos) pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Pagelaran Harmoni Angklung merupakan upaya melestarikan warisan seni musik tradisional Jawa Barat, sekaligus memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan, kekompakan, dan keharmonisan yang terkandung dalam permainan angklung.
Dalam kegiatan tersebut, PWI Kota Depok akan berkolaborasi dengan Sanggar Budaya Suluk Nusantara (Sanggar SN).
Peserta kegiatan terbuka bagi sanggar seni dan budaya, komunitas angklung, organisasi, instansi, pecinta seni budaya, serta masyarakat umum. Peserta dari kalangan dewasa yang mengikuti kegiatan ini akan mendapatkan trofi dan sertifikat.
Ketua Panitia Harmoni Angklung, Winarni, mengatakan pihaknya menargetkan sedikitnya 300 pemain angklung dari wilayah Jabodetabek untuk tampil dalam pagelaran tersebut.
“Panitia menargetkan ada 300 pemain angklung yang akan tampil dari wilayah Jabodetabek,” kata Winarni, Kamis (03/09/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Depok dan perusahaan-perusahaan melalui program kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya.
Pihak panitia berharap Harmoni Angklung dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menjaga warisan budaya bangsa. Tujuannya agar tetap eksis dan dikenal generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan era digital.

“Kami berharap mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Depok dan para sponsor sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan seni budaya angklung agar tetap eksis di era digital saat ini dan seterusnya,” ujarnya.
Winarni berharap Kota Depok ke depan dapat menjadi salah satu pusat kegiatan dan pelestarian seni angklung.
“Kami berharap Kota Depok akan menjadi pusat pelestarian angklung, sekaligus turut memeriahkan Hari Angklung Sedunia,” ungkapnya.
Angklung, Warisan Budaya Dunia dari Tanah Sunda
Angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu dan memiliki akar kuat dalam kebudayaan masyarakat Sunda di Jawa Barat.
UNESCO telah menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 16 November 2010 dalam sidangnya di Nairobi, Kenya.
Keunikan angklung tidak hanya terletak pada bunyinya, tetapi juga pada filosofi yang terkandung di dalamnya. Setiap pemain memegang dan memainkan nada tertentu. Keindahan sebuah lagu baru dapat tercipta ketika seluruh pemain bekerja sama secara harmonis.
Karena itu, angklung menjadi simbol kebersamaan, kerja sama, gotong royong, serta keharmonisan sosial.
Menuju Festival Angklung Nusantara 2027
Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah, mengatakan Harmoni Angklung 2026 merupakan langkah awal menuju penyelenggaraan kegiatan yang lebih besar. Yakni Festival Angklung Nusantara yang rencananya berlangsung pada November 2027.
Festival tersebut tentunya dapat berkembang menjadi agenda seni dan budaya tahunan di Kota Depok.
“Harmoni Angklung adalah kegiatan seni budaya yang mempertemukan komunitas angklung sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan angklung sebagai warisan budaya, dengan memperkuat kebersamaan melalui harmoni nada dan harmoni sosial,” ujar Rusdy.
Menurut Rusdy, angklung bukan sekadar alat musik tradisional masyarakat Jawa Barat. Lebih dari itu, angklung mengandung pesan kuat tentang pentingnya hidup bersama dan saling melengkapi.
“Setiap angklung menghasilkan satu nada. Keindahan musik tercipta ketika seluruh nada dimainkan secara bersama-sama,” katanya.
Ia menambahkan, filosofi angklung menjadi pesan penting bagi kehidupan masyarakat Kota Depok yang terdiri atas beragam latar belakang.
“Ketika budaya tumbuh, masyarakat akan semakin sehat dan bahagia. Kota Depok pun akan memiliki identitas budaya yang semakin membanggakan,” pungkas Rusdy.
Pagelaran Harmoni Angklung 2026, tidak hanya sebagai pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat untuk memperkuat kebersamaan melalui budaya.
Dari nada-nada bambu yang dimainkan bersama, lahir sebuah pesan sederhana namun mendalam: keindahan akan tercipta ketika perbedaan mampu berpadu dalam harmoni
(Syahruddin/SAJADA.ID)






Komentar