SAJADA.ID–Gagasan “terang” dalam Habis Gelap Terbitlah Terang bukan sekadar metafora puitis. Ia lahir dari kegelisahan intelektual yang nyata, yang kemudian menemukan arah melalui perjumpaan penting antara R.A. Kartini dan KH Sholeh Darat.
Di titik inilah sejarah tidak hanya bergerak, tetapi juga mengalami pencerahan yang mendalam. Pada masa itu, Al-Qur’an memang dibaca, tetapi tidak selalu dipahami. Bahasa Arab menjadi sekat—sakral, namun terasa jauh dari kesadaran umat, terlebih bagi perempuan seperti Kartini.
Di tengah situasi itu, KH Sholeh Darat mengambil langkah yang melampaui zamannya. Ia menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon, agar lebih mudah dipahami masyarakat.Ini bukan sekadar kerja penerjemahan. Ini adalah upaya membebaskan makna dari keterasingannya.
Ketika Kartini mendengar tafsir Al-Qur’an dalam bahasa yang ia pahami, sesuatu berubah dalam dirinya. Wahyu tidak lagi terasa asing, melainkan hadir dekat, hidup, dan menggugah kesadaran.Di sanalah “terang” mulai menyala.
Gelap Itu Nyata, Terang Harus Diperjuangkan
Kegelapan yang dirasakan Kartini bukanlah ketiadaan cahaya fisik. Ia adalah gelap dalam bentuk yang lebih halus: agama tanpa pemahaman, tradisi tanpa kesadaran, pendidikan tanpa kebebasan berpikir.
Kegelisahan itu tidak berhenti pada kritik. Ia menemukan jawaban melalui pemikiran KH Sholeh Darat, yang menegaskan bahwa agama harus dipahami, bukan sekadar diwarisi.Ilmu, dalam pandangannya, harus membebaskan, bukan membungkam. Wahyu pun harus dihadirkan dalam bahasa kehidupan, agar mampu menyentuh dan mengubah manusia.
Pegon: Strategi Sunyi yang Mengguncang
Aksara Pegon mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya begitu luas. Ia menjadi jembatan antara langit dan bumi, antara teks ilahi dan realitas manusia.
Apa yang dilakukan KH Sholeh Darat sejatinya sejalan dengan pesan Al-Qur’an:
ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ
“Maka Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)
Proses keluar dari gelap menuju terang tidak dilakukan dengan mempersulit, tetapi dengan memahamkan.
Dari Pegon ke Platform Digital
Apa yang dilakukan KH Sholeh Darat pada abad ke-19 menemukan gaungnya di era digital hari ini. Dahulu, persoalannya adalah bahasa. Kini, tantangannya adalah banjir informasi. Dahulu, solusinya Pegon. Sekarang, solusinya adalah konten yang mencerahkan dan dapat dipahami dengan benar.
Dulu, umat berada dalam gelap karena tidak paham. Kini, tidak sedikit yang terjebak dalam gelap karena salah paham.
Pertanyaannya, siapa hari ini yang berani menjadi “KH Sholeh Darat” versi digital—yang menghadirkan ilmu dengan jernih, sederhana, dan membebaskan?
Terang Itu Harus Dihadirkan
Kartini tidak sekadar memimpikan terang. Ia menempuh jalan menuju cahaya melalui ilmu, pemahaman, dan perjumpaan dengan ulama yang membumikan wahyu.
Dari sini kita belajar satu hal penting: peradaban tidak berubah oleh teks yang dibaca semata, tetapi oleh makna yang dipahami dan diperjuangkan.
Sebagaimana Pegon dahulu menjadi jembatan cahaya, hari ini kita ditantang untuk menghadirkan “Pegon-Pegon baru” dalam bentuk yang relevan dengan zaman.
Bahasa boleh berubah, medium boleh berganti, tetapi misi pencerahan tidak boleh berhenti. Agar terang itu tidak padam, ia harus terus menyala dalam kehidupan umat.
Bey Arifin
Pengurus Ikapete Jombang






Komentar