SAJADA.ID — Di tengah kehidupan yang tak selalu ramah, banyak orang terjebak dalam penyesalan. Menyesali keadaan, kegagalan, bahkan nasib yang terasa tidak adil. Namun, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengingatkan dengan kalimat sederhana yang menghentak:
“Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan, tetapi berkarya dan terus bekerja yang membuat kita berharga.”
Kalimat ini bukan sekadar motivasi, melainkan panduan hidup yang lahir dari kedalaman pengalaman, kebijaksanaan, dan kepekaan sosial.
Jangan Terjebak dalam Penyesalan
Bagi Gus Dur, hidup tidak pernah sepenuhnya berjalan mulus. Setiap orang pasti menghadapi masa sulit: kegagalan, kehilangan, keterbatasan, bahkan situasi yang terasa buntu.
Namun, manusia tidak diciptakan untuk tenggelam dalam ratapan. Penyesalan yang berlarut-larut hanya akan menguras energi, melemahkan semangat, dan menjauhkan seseorang dari jalan perubahan.
Gus Dur mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan terletak pada mudah atau tidaknya hidup yang dijalani, melainkan pada keberanian untuk bangkit ketika keadaan tidak berpihak. Di situlah karya menemukan maknanya.
Berkarya Adalah Jalan Menjadi Berharga
Dalam pandangan Gus Dur, berkarya bukan sekadar soal jabatan, profesi, atau pencapaian besar yang mendapat pengakuan. Berkarya adalah sikap hidup: terus bergerak, memberi manfaat, dan menyalakan harapan, meskipun dalam keterbatasan.
Seorang guru yang mengajar dengan sabar, petani yang tekun mengolah sawah, santri yang istiqamah menuntut ilmu, ibu yang mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih—semuanya sedang membangun keberhargaan diri. Sebab, nilai manusia tidak lahir dari keluhan, tetapi dari kontribusi.
Karya sebagai Ibadah dan Wujud Syukur
Gus Dur juga memandang bahwa bekerja dan berkarya bukan sekadar urusan duniawi. Karya adalah bentuk ibadah sosial. Kerja keras adalah wujud syukur. Ketekunan adalah tanda tanggung jawab.
Sementara manfaat yang lahir dari usaha itu merupakan sedekah terbaik yang jejaknya terus hidup, bahkan setelah seseorang tiada.
Karena itu, orang yang tetap berbuat baik di tengah keterbatasan sejatinya sedang menjaga martabat kemanusiaannya.
Relevansi Pesan Gus Dur di Era Media Sosial
Pesan Gus Dur sangat relevan di zaman sekarang, ketika banyak orang mudah merasa kecil karena membandingkan diri dengan orang lain.
Di era media sosial, orang sering lebih sibuk melihat keberhasilan orang lain daripada merawat potensi dirinya sendiri. Akibatnya, muncul rasa minder, putus asa, dan kehilangan arah.
Padahal, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap berjalan dengan istiqamah.
Gus Dur mengajarkan bahwa kehormatan hidup tidak datang dari keberuntungan semata, tetapi dari keberanian untuk terus melangkah, bekerja, dan berkarya, meskipun perlahan.
Hidup Bernilai karena Manfaat
Pada akhirnya, manusia menjadi berharga bukan karena nasib baik yang dimiliki, tetapi karena manfaat yang ia hadirkan.
Maka, pesan Gus Dur ini layak direnungkan: jangan habiskan hidup untuk menyesali apa yang tidak bisa diubah. Jangan tenggelam dalam kekecewaan.
Bangkitlah, bergeraklah, dan ciptakan sesuatu yang bermanfaat.
Sebab, dalam setiap kerja yang jujur, karya yang tulus, dan perjuangan yang ikhlas, di situlah Allah menanamkan keberkahan—menjadikan hidup bernilai di mata sesama dan mulia di hadapan-Nya.
Bey Arifin
Pengurus IKAPETE Jombang






Komentar