Agama
Beranda » Berita » Antara Kesalehan Spiritual dan Kesalehan Sosial

Antara Kesalehan Spiritual dan Kesalehan Sosial

Oleh Bey Arifin

SAJADA.ID–Di tengah maraknya simbol-simbol religius dan geliat aktivitas sosial keagamaan, muncul satu ironi yang jarang disadari: kesalehan yang tampak, tetapi rapuh di dalam.

Dalam perspektif ulama’ Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), kesalehan tidak pernah berdiri pada satu kaki. Ia harus tegak di atas dua dimensi sekaligus: spiritual dan sosial.

Nasihat Mbah Moen: Jangan Bercerai Hanya Karena Takut….

Ketika salah satunya “kropos”, maka yang lahir bukan kesalehan sejati melainkan kesalehan semu; tampak religius, tetapi kehilangan makna.

Ibadah Tinggi, Akhlak Rendah

Fenomena pertama adalah kesalehan spiritual yang kropos. Secara lahiriah, seseorang tampak tekun beribadah: shalat berjamaah, rajin puasa, aktif dzikir, bahkan rutin menghadiri majelis ilmu.

Namun, semua itu tidak tercermin dalam perilaku sosialnya. Ia mudah mencela, gemar menghakimi, bahkan abai terhadap penderitaan orang lain.

Dalam tradisi pesantren, sosok seperti ini sering disebut “abid tapi tidak arif” ahli ibadah yang tidak memiliki kedalaman pemahaman.

2.400 Calon Jemaah Haji Depok Ikuti Manasik, Jamaah Diingatkan Bahwa Haji Bukan Wisata Religi

Bey Arifin, penulis

Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menegaskan bahwa ilmu dan ibadah tanpa adab tidak akan melahirkan cahaya.

Sementara Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengkritik keras orang yang larut dalam ibadah malam, tetapi membiarkan tetangganya kelaparan.

Pesannya jelas: ibadah yang tidak melahirkan empati, patut dipertanyakan keikhlasannya.

Wirid dan Zikir: Rutinitas Lisan atau Revolusi Kesadaran?

Aktivisme Ramai, Spirit Kosong

Di sisi lain, muncul pula fenomena kesalehan sosial yang kropos. Seseorang aktif dalam kegiatan sosial: membantu masyarakat, terlibat dalam gerakan kemanusiaan, bahkan tampil sebagai tokoh publik.

Namun, ia lalai dalam ibadah dan miskin kedalaman spiritual. Aktivisme seperti ini rentan berubah menjadi panggung pencitraan.

KH. Sahal Mahfudz melalui konsep Fikih Sosial-nya mengingatkan bahwa kerja-kerja sosial harus bertumpu pada spiritualitas yang kokoh. Tanpa itu, ia mudah diseret kepentingan pragmatis baik politik maupun popularitas.

Nada kritik serupa sering disampaikan KH. Mustofa Bisri. Dalam gaya khasnya, Gus Mus menyindir: “Kadang orang berbuat baik bukan karena takut kepada Allah, tapi karena takut tidak dipuji manusia.”

Walau Setiap Jumat WFH, Menag Tegaskan Layanan Publik Kemenag Tak Boleh Terganggu

Para Ulama’ tasawuf dan kiai pesantren mengidentifikasi sejumlah tanda kesalehan yang sebenarnya rapuh:

Riya’ (pamer amal): ibadah dan kebaikan dilakukan hanya demi pengakuan publik.

Merasa paling benar: mudah merendahkan orang lain yang berbeda.

Tetap Beristighfar Usai Berbuat Baik: Menyadari Keterbatasan Amal Manusia

Krisis akhlak: lisan tajam, mudah menghujat, terutama di ruang digital.

Apatisme sosial: tidak peka terhadap ketidakadilan dan penderitaan di sekitar.

Kesalehan seperti itu ibarat bangunan megah dengan fondasi rapuh. Tampak kokoh, tetapi mudah runtuh.

Beberapa Perbuatan Ini Disunnahkan Berwudhu Sebelum Mengerjakannya

Menyatukan Langit dan Bumi

Para ulama’ Aswaja menawarkan jalan tengah: menyatukan hablum minallah (relasi dengan Allah) dan hablum minannas (relasi dengan sesama manusia).

KH. Wahab Hasbullah menegaskan pentingnya keseimbangan antara suluk dzati (perjalanan spiritual) dan harakah ijtima’iyyah (gerakan sosial). Ibadah harus melahirkan kepedulian, dan kerja sosial harus berakar pada keimanan.

Kunci dari semua itu adalah ihsan beribadah dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah. Bukan hanya dalam shalat dan dzikir, tetapi juga dalam bekerja, berbicara, bahkan saat terlibat dalam urusan sosial dan politik.

Kesalehan sejati bukan diukur dari seberapa sering seseorang terlihat beribadah, atau seberapa aktif ia di panggung sosial. Tetapi dari sejauh mana ibadahnya melahirkan akhlak, dan sejauh mana aktivitas sosialnya bersumber dari hati yang bersih.

Di tengah zaman yang gemar menilai dari tampilan luar, umat perlu lebih jernih membaca realitas. Tidak semua yang tampak religius itu benar-benar dekat dengan Tuhan. Dan tidak semua yang tampak sosial itu lahir dari keimanan yang mendalam.

Kesalehan sejati adalah harmoni: antara ilmu yang benar, amal yang ikhlas, dan hati yang bersih.

Jika salah satunya runtuh, maka yang tersisa hanyalah bayang-bayang kesalehan terlihat, tetapi kosong.

Bey Arifin
Alumni Pesantren Tebuireng; Pengurus IKAPETE Jombang bidang Kajian Strategis Pemikiran Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari; Alumni Fakultas Ushuluddin Undar Jombang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *