Hikmah
Beranda » Berita » Taubatnya Sang Perampok

Taubatnya Sang Perampok

(Ilustrasi)

Oleh Syahruddin El-Fikri

SAJADA.ID--Pada suatu malam yang sunyi, seorang lelaki berjubah gelap sedang melangkah perlahan di atas atap rumah seorang penduduk di Kota Abadan. Malam itu, niatnya adalah merampok—seperti yang sudah biasa dilakukannya.

Laki-laki itu bernama Fudhail bin Iyadh, seorang perampok terkenal yang paling ditakuti para pedagang dan musafir. Namanya dikenal luas bukan karena ilmunya, melainkan karena keberaniannya merampas harta di tengah jalan antara Kota Kufah dan Syam.

Tarling di Rawadenok, Wawalkot Depok Serahkan Bantuan Masjid dan Ingatkan Warga Awasi Dana Rp300 Juta per RW

Namun malam itu berbeda. Saat ia mendekati jendela rumah yang hendak dimasukinya, ia mendengar seseorang di dalam rumah sedang membaca ayat Al-Qur’an. Bacaan itu menggema pelan namun menghunjam hatinya:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?” (QS. Al-Hadid: 16).

Langkahnya terhenti. Tubuhnya membeku. Jiwanya bergetar. Ia ulang-ulang dalam benaknya: “Belumkah datang waktunya? Belumkah saatnya bagiku untuk berhenti dari kemaksiatan ini? Sudah begitu banyak umurku habis dalam kezaliman. Apakah aku akan menunggu ajal untuk sadar?”

Penyelenggaraan Wartawan Mengaji PWI Depok Berlangsung Sukses dan Lancar

Fudhail terjatuh dari atap rumah dan ia menangis di sudut jalan. Malam itu menjadi titik baliknya. Ia pulang ke rumahnya bukan membawa harta curian, tapi membawa hati yang remuk ingin kembali kepada Tuhannya.

Setelah malam itu, Fudhail memutuskan untuk meninggalkan dunia kejahatan. Ia mengasingkan diri ke sekitar Makkah dan Madinah, menghabiskan waktunya dalam ibadah, membaca Al-Qur’an, menangisi dosa-dosa yang telah dilakukannya selama ini, dan ia mencari ilmu pengetahuan dari para ulama untuk mengobati hatinya yang sakit dan gersang dari nilai-nilai agama.

Dalam waktu singkat, namanya yang dulu dikenal sebagai perampok mulai berubah menjadi seorang yang ahli ibadah, zuhud, dan mudah menangis karena takut kepada Allah. Ia berkata suatu kali;

IPJI dan Balai Wartawan Kota Depok Gelar Bukber dan Santunan Anak Yatim di Bulan Penuh Berkah

“Aku dahulu menghuni kegelapan. Tapi ayat Al-Quran itu menyalakan cahaya di hatiku. Allah tidak menutup pintu ampunan bagi siapa pun.”

Kisah taubatnya begitu terkenal di kalangan para tabi’in. Ia menjadi salah satu tokoh besar dalam generasi setelah para sahabat, dikenang dalam banyak kitab sebagai ulama yang dalam ilmunya dan lembut hatinya.

Pelajaran Berharga: Ketika Ayat Menjadi Jalan Taubat

Yang membuat kisah Fudhail begitu menggugah adalah kenyataan bahwa satu ayat saja mampu mengubah seluruh hidup seseorang. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tapi seruan langsung dari Allah kepada hati manusia.

“Alam ya’nililladziina aamanu…” adalah panggilan penuh cinta. Allah tidak berkata, “Hai orang jahat,” atau “Hai pendosa,” tetapi justru “orang yang beriman.” Seolah-olah Allah menyadarkan bahwa dalam diri setiap orang, masih ada cahaya iman yang bisa diselamatkan.

Sering Boros Pulsa dan Kesal Menanti Transaksi? Coba Solusi Cepat, Instan, dan Anti Ribet Ini

Ayat ini juga menggambarkan bahwa kesadaran dan hidayah bisa datang tiba-tiba, dalam gelapnya malam, dalam sunyinya hati yang selama ini tertutup. Maka, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk putus asa dari rahmat Allah. Fudhail bin Iyadh bertaubat kepada Allah atas semua perbuatan buruknya di masa lalu, dan kini menggantinya dengan amal saleh.

Perubahan Hidup yang Nyata

Setelah bertaubat, Fudhail dikenal sebagai sosok yang sangat takut kepada Allah. Ia sering menangis saat membaca ayat-ayat tentang neraka.

Ia memperingatkan orang-orang agar menjauhi dunia yang menipu dan tidak mencari popularitas dalam amal. Kata-katanya tajam namun lembut, seperti cambuk yang membangkitkan jiwa.

Jika Pohon Merambat ke Halaman Tetangga, Milik Siapa Buahnya?

Dalam salah satu pernyataannya, ia berkata:

“Takut kepada Allah adalah pakaian terbaik bagi orang yang bertaubat. Barang siapa takut kepada Allah, maka tak ada yang ia takutkan dari makhluk-Nya.”

Khalifah Harun Ar-Rasyid pun kagum kepadanya. Fudhail menjadi tempat bertanya para pemimpin dan ulama, meski ia tetap hidup dalam kesederhanaan dan menolak segala bentuk kemewahan duniawi.

Menag: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Studi Al-Qur’an Dunia

Hikmah yang Dapat Diambil

  1. Taubat bisa mengubah masa lalu menjadi jalan menuju surga. Tidak peduli seburuk apa masa lalu seseorang, Allah membuka pintu ampunan bagi siapa saja yang sungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
  2. Hidayah bisa datang kapan saja dan lewat siapa saja. Bahkan dalam keadaan berdosa, Allah bisa mengetuk hati seseorang dengan satu ayat, satu kejadian, satu peristiwa.
  3. Al-Qur’an adalah kalam hidup yang menggugah hati. Bacaan Al-Qur’an yang tadabbur bisa menjadi sebab keselamatan, bukan hanya bagi pembacanya, tapi juga bagi yang mendengarnya.
  4. Perubahan hakiki adalah ketika seseorang beralih dari cinta dunia menuju cinta akhirat. Fudhail mengajarkan bahwa taubat bukan sekadar meninggalkan perbuatan, tetapi juga menghidupkan hati dan akhlak baru.

Referensi:

  1. Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, jilid 8, hlm. 372–375
  2. Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa An-Nihāyah, jilid 10, hlm. 260
  3. Al-Dhahabi, Tārīkh al-Islām wa Wafayāt al-Mashāhīr wa al-A’lām, abad ke-2 H
  4. Ibnu Qudamah, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, bab tentang taubat
  5. Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’, jilid 8, hlm. 87–89

(Disarikan dari buku penulis yang berjudul: Fudhail bin Iyadh, Perampok Jadi Wali, Rumah Berkah, Depok, 2025).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *