Agama
Beranda » Berita » Didiklah Anakmu dengan Akhlak Mulia

Didiklah Anakmu dengan Akhlak Mulia

Didiklah Anakmu dengan Akhlak Mulia

sajada.id/–Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar mentransmisi pengetahuan, tetapi juga sebuah proses pembentukan karakter dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam. Untuk mencapainya tentu bukan hal yang mudah, membutuhkan rumusan kurikulum yang menunjang pembentukan pribadi bertakwa, bukan hanya kecerdasan intelektual.

Konsepsi mendidik anak sering dipahami setelah anak mulai memasuki usia sekolah, atau setidaknya setelah anak lahir. Islam mengajarkan bahwa mendidika anak dimulai jauh sebelum anak tersebut lahir, yaitu dengan menyiapkan bibit yang baik baik dari calon ayah maupun ibu. Allah memerintahkan kita untuk memilih orang-orang salih atau salihah ketika menikah sehingga kelak bisa melahirkan generasi yang juga salih.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sari Ramada Arafah Berangkatkan Jemaah Haji Khusus 1447 H

تَخَيَّرُوْا لِنُطَفِكُمْ فَانْكِحُوا الْأَكْفَاءَ وَاخْطُبُوْا إِلَيْهِمْ

“Pilihlah (tempat yang baik) untuk mani kalian, nikahilah wanita-wanita yang sekufu’ dan nikahkan mereka,” (HR. Al-Hakim).

Inilah yang dilakukan Nabi ketika mengharapkan kesalihan bagi keturunan bangsa Thaif, “Aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun,” (HR. Bukhari).

Namun demikian, ketika anak sudah lahir, orang tua tentu membutuhkan ikhtiar lebih dalam mendidik anak-anak yang telah diamanahkan. Dalam perjalanannya, konsep pendidikan sebuah keluarga adakalanya mengalami blank spot —titik lemah— sehingga terjadi disfungsi dalam menyoroti pendidikan.

JATMAN Tapos Resmi Terbentuk, Perkuat Tradisi Dzikir dan Pembinaan Spiritual Umat

Untuk menghindari kekosongan konsep tersebut, inilah yang harus dikembalikan oleh orang tua.

1. Rumah adalah madrasah pertama

Rumah menjadi tempat paling ideal bagi anak-anak untuk belajar dan orang tua adalah pihak yang memediasi tumbuh kembangnya anak agar maksimal.

KH. Badru Salam Pimpin RMI Kota Bogor, Siap Perkuat Daya Saing Pesantren di Era Modern

Namun yang terjadi hari ini, tidak sedikit orang tua yang mengalihkan proses pendidikan ke lembaga pendidikan. Pengalihan fungsi dan tugas pendidikan tersebut dialami banyak kalangan.

Tidak sedikit pula yang kadang menyalahkan sekolah manakala ada target orang tua yang tidak tercapai. Padahal, jika dikembalikan pada konsep sebenarnya, jelas bahwa kewajiban utama mendidik adalah orang tua, bukan sekolah, bimbel, atau lembaga pendidikan lainnya.

2. Peran ibu dalam mendidik anak (Al-Ummu madrasatul ula).

Al-Qur’an menyoroti perempuan sebagai sosok yang luar biasa. Mengingat sedemikian pentingnya kedudukan perempuan dalam mengimbangi populasi kehidupan di dunia ini, Allah mengabadikannya dalam sebuah surat dalam Al Quran, an-Nisa (wanita).

Baznas RI Meluncurkan Program Santripreneur Klaster Fesyen 2026

Penyebutan wanita dalam Al-Qur’an sebagai bukti bahwa perempuan sangat dimuliakan dalam Islam. Untuk menjadi seorang ibu yang baik tentu tak lepas dengan perannya sebagai istri yang baik, sampai-sampai muncul pernyatan “kalau tidak bisa jadi sosok istri yang baik, mustahil akan menjadi ibu yang baik”

Secara khusus syari’at Islam memuliakan perempuan dengan peran keibuannya, mengabadikan pengorbanan ibu dalam Al Qur’an,

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا …

Rihlah Ilmu dan Spiritual, Majelis Taklim Rumah Berkah Kunjungi Syaamil Quran, Plaza Haji Al Qosbah, dan Masjid Al Jabbar

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,” (QS. Al Ahqaf: 15).


Ayat ini sebuah penegasan bagaimana seorang anak harus berbakti kepada ibu dan bapaknya, namun dalam penegasan berikutnya pihak yang dianggap berjasa dalam ayat ini adalah ibu karena mengandung dengan susah payah selama sembilan bulan hingga menyapihnya setelah 30 bulan.

Dari peran ini terlihat jelas bahwa secara kuantitas, ibu memiliki waktu lebih banyak dibanding bapak dalam membersamai anak sehingga memiliki kedekatan secara alamiah. Walaupun dalam kasus sehari-hari kecerewetan ibu dalam menasihati anak kadang kurang didengarkan, berbeda dengan bapak yang sekali menasihati langung didengar. Inilah yang membedakan kekuatan ibu dan bapak, masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam mendidik anak.

MUI Kota Depok Bimbing Ratusan Warga Bersyahadat, Dakwah Humanis Jadi Kunci

3. Peran ayah dalam mendidik anak (no fatherless)

Islam memandang bahwa peran ayah ternyata bukan sekadar sebagai mesin pencari uang, ada peran yang sudah dinisbatkan sejak Al Qur’an diturunkan yaitu peran sebagai qawwam (pemimpin).

Peran ini yang akan meluruskan jika ada anggota keluarga yang menyimpang. Ayah adalah pendidik utama dalam keluarga,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,” (Q.S. At-Tahrim: 6).

Dengan peran ini, seorang ayah memiliki tanggung jawab yang sangat besar tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga kepada pihak yang membebankan amanah. Lalu bagaimana jika ayah memiliki aktivitas luar yang sangat padat atau mungkin berada di luar kota sehingga tidak bisa berinteraksi secara fisik dan komunikasi juga terbatas?

Ini tidak menjadi dalih bahwa kondisi demikian akan memutus pendidikan ayah dan anak. Sejarah mencatat bagaimana pendidikan yang diberikan Ibrahim ‘alaihissalam kepada putranya Ismail. Ibrahim yang bermukim di Palestina, sedangkan Ismail di Baqa’ bersama sang ibu, tetap bisa melakukan pendidikan secara sempurna hingga Ibrahim diangkat sebagai nabi dan rasul.

Kondisi hari ini pun sama, kesibukan dan jarak tidak bisa menjadi alasan pengabaian terhadap pendidikan anak. Kesibukkan dan jarak akan bisa dipertemukan dengan media komunikasi yang ada. Di sinilah peran qawwam sesungguhnya harus diambil oleh seorang ayah.

4. Orang tua adalah protoype bagi anak.

Prorotype atau keteladan memiliki makna bagaimana memberi contoh yang benar dalam berbicara, bersikap, benar berpikir, dan berupaya. Orang tua harus bisa memberikan contoh yang benar kepada putra putrinya mengenai cara berbicara, bersikap, berpikir, dan melakukan berbagai hal yang benar dalam keluarga.

Kebiasaan yang disaksikan dan dialami seorang anak dari orang tuanya secara langsung ataupun tidak langsung akan terekam dalam pikiran, bahkan sangat mungkin akan diikuti oleh anak-anak. Oleh karenya, orang tua harus berusaha memberikan keteladan yang baik bagi anak-anaknya dengan menumbuhkan kasih sayang, mengajarkan ilmu agama dan dunia, dan tak kalah penting adalah memberikan contoh yang baik dalam beribadah.


Ini semua sangat penting mengingat mendidik anak pada jaman ini memiliki tantangan yang cukup berat, teknologi, media sosial, pertemanan, dan lingkungan menjadi variabel yang dapat mendidik anak. Pada akhirnya, orang tua, sesibuk apapun, tetap harus meluangkan waktunya bisa mendidik anak-anaknya.

Jika kita, para orang tua tidak punya waktu untuk mendidik anak-anaknya, ketahuilah bawa di luar sana akan ada yang siap memberikan waktunya untuk merusak anak-anak kita.

Dari sini, semoga para orang tua selalu waspada dengan anak keturunannya, dengan kewaspadaan ini maka akan melahirkan sikap khauf dan raja’ dalam mendidik anak-anaknya,

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar,” (QS. An-Nisa: 9).

Wallahu a’lam bish shawab

Muhammad Azizan Syahrial/Ummu Ahya Gyantie