Home > Agama

Literasi dan Tantangan Peradaban NU

Nahdlatul Ulama tak kekurangan penulis hebat dalam membuat karya tulis berbahasa Arab.

Kemudian ada Dr. KH. Afifuddin Dimaythi Romly atau Gus Awis. Dalam usia yang relatif muda, lahir pada 7 Mei 1979, ia telah menulis sejumlah karya dalam Bahasa Arab. Antara lain Muhadarah fi Ilm Lughah al Ijtima’i (Dar Ulum al Lughawiyah, Surabaya, 2010), Mawarid al Bayan fi Ulum al Qur’an (Lisan Arabi, 2014), Safa al Lisaan fi I’rab al Qur’an (Lisan Arabi, 2015), al-Syamil fi Balaghat al-Quran (3 jilid, 2019), Irsyad al-Darisin ila Ijma’ al-Mufassirin, ‘Ilm al-Tafsir: Ushuluh wa Manahijuhu (Lisan Arabi, 2019), Jam’u al-‘Abir fi Kutub al-Tafsir (2 jilid, Lisan Arabi, 2019).

Dalam sebuah kesempatan, Gus Awis pernah mengatakan kepada penulis bahwa tradisi ulama NU dalam hal menulis karya berbahasa Arab harus terus dilestarikan. Karena itu, kata Gus Awis, dengan bekal pengetahuan yang dimiliki dan kemampuan Bahasa Arab yang baik, sudah selayaknya bila dirinya dan juga generasi muda NU untuk terus melahirkan karya-karya terbaik agar menjadi rujukan para santri di masa depan.

NU Tak Kekurangan Penulis Hebat

Ini menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama tidak kekurangan tokoh penulis kitab sebagaimana ulama tempo dulu. Penulis yakin dan percaya, banyak ulama dan tokoh NU yang sanggup serta mampu menulis karya dalam Bahasa Arab. Kemampuan menulis karya dalam Bahasa Arab oleh orang non-Arab, jelas merupakan suatu keunggulan dan kelebihan. Dan sebuah peradaban hanya mampu dibuat oleh mereka yang unggul. Dan untuk menjadi manusia yang unggul dalam membangun peradaban, setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki, yakni kemampuan membaca (iqra’), menulis (kitabah), dan berdiskusi (musyawarah).

Pemandangan Harlah Satu Abad NU di GOR Delta Sidoarjo (screenshoot)
Pemandangan Harlah Satu Abad NU di GOR Delta Sidoarjo (screenshoot)

Peradaban sebuah bangsa atau kaum, tak mungkin dilepaskan dari tiga hal tersebut. Dan yang membuat peradaban, mereka itulah orang-orang yang unggul atau cerdas, serta ahli di bidangnya.

Sebagai contoh, bila ada 100 ulama berdiskusi dengan 10 insinyur dalam membuat konstruksi jembatan, maka tidak bisa mengambil dari 100 ulama, tetapi yang diambil adalah pendapat dari 10 insinyur, karena mereka yang lebih ahli dalam bidang konstruksi jembatan. Sebaliknya, bila 100 insinyur berdiskusi dengan 10 ulama terkait awal puasa, maka yang diambil pendapatnya adalah dari kalangan ulama, karena mereka yang ahli dalam bidangnya.

Peradaban yang dibangun harus dimulai dari pondasinya. Pondasinya ada di pondok-pondok pesantren yang diampu oleh para kyai, ulama, asatidz, untuk para santrinya. Merekalah yang membina para santri untuk menjadi tokoh di masa depan. Bila dari dini para santri tidak dilatih dalam hal membuat karya, maka dapat dipastikan peradaban berikutnya akan runtuh. Dan ulama, para kyai, berperan besar dalam melestarikan tradisi menulis tersebut.

Lanjut...

× Image