
Nobody's Perfect
Oleh Syahruddin El Fikri
sajada.id/–Setiap manusia menginginkan dirinya menjadi baik dan bahkan yang terbaik dari yang paling baik. Dia akan berusaha menjadi manusia yang sempurna, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Karena itu, dirinya akan berusaha semaksimal mungkin memantaskan dirinya. Memakai pakaian terbaik, bersikap yang paling baik, makan dan minum dengan cara terbaik, serta berperilaku dengan adab yang terbaik. Pendek kata, dia akan berusaha mewujudkan dirinya menjadi yang terbaik dari yang paling baik.
Namun demikian, seperti ungkapan nobody's perfect, tak ada manusia yang sempurna. Usaha sekeras apapun, tetap saja dia tak akan mampu menjadi yang sempurna atau paripurna.
Masih ada kesalahan, baik besar ataupun kecil yang menyertainya. Artinya walau dirinya sudah berusaha menjadi yang terbaik, tetap saja ada yang kurang. Dia merasa perlu melakukan sesuatu agar terlihat sempurna, namun terkadang karena kecerobohan kecil, akhirnya dia melakukan hal-hal yang membuatnya bersalah.
Contoh kecil, saat dirinya hadir di suatu acara formal, dia akan berusaha memantaskan dirinya. Memakai kemeja dilengkapi dengan dasi, lalu menggunakan jas pelengkap agar dia tampil baik, sepatu pantofel dengan kemilau indah, celana panjang formal (chino atau celana bahan), dan rambut disisir klimis.
Sepintas ia sudah terlihat gagah dan pantas.
Tapi, sebaik apapun kita berdandan dan tampil rapi, di mata orang-orang yang dengki, maka selalu saja ada yang kurang. Bahkan walau kita sudah berusaha maksimal menyenangkan hati para pembenci (hater), tetap saja dianggap kurang dan tampil buruk. Hinaan, makian, cacian, bahkan sindiran halus maupun kasar akan ditujukan padanya.
Contoh lain. Seekor burung merak jantan, akan berusaha tampil menawan di hadapan burung merak betina. Ia merayu dengan suara atau bulu-bulu indahnya untuk menaklukkan si betina. Sekilas, si betina akan tertarik dan berusaha menyukai si pejantan.
Namun, di saat bersamaan muncul pejantan lain yang lebih baik, si betina mengalihkan pandangannya. Dia mungkin akan terkesima dengan pejantan yang baru datang. Bukan hanya karena bulu-bulu indahnya yang ada pada sayap dan ekornya, tapi juga suara merdu dan cara merayu yang membuat si betina mengalihkan perhatiannya. Ia terpesona pada pandangan pertama, seperti lagu A Rafiq.
Saat tahu si betina mengalihkan perhatiannya, maka kecewalah si pejantan pertama. Ia berlalu dengan hati tak karuan. Ia mungkin memaki dan mengutuk dirinya yang tak sempurna.
Lalu bahagiakah si penjantan pendatang? Sesaat mungkin bahagia. Tapi ketika beberapa saat si betina mengetahui kekurangan yang ada pada dirinya, ia akan diabaikan dan bahkan ditinggalkan.
Begitulah manusia, yang dalam istilah Arab dikenal dengan "Al Insanu mahalul khatha' wan nisyan" (manusia itu tempatnya salah dan lupa). Manusia gampang lupa, mudah lalai, dan berbuat kesalahan.
Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Kullu bani Adama khaththa'un, wa khairul khaththa'in at-Tawwabun" (semua anak cucu Adam berbuat salah, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat).
Memperbaiki setiap kesalahan yang telah dilakukan dengan kebaikan, maka kesalahannya akan terhapuskan. Karena itu, jalan terbaik adalah dengan menyadari kemampuan diri, bersikap wajar, perbanyak syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan, dan selalu berusaha memperbaiki diri.
Perbuatan buruk atau kesalahan yang telah dilakukan harusnya diakhiri dan takkan diulangi lagi. Mereka yang bersalah tetap istiqomah memperbaiki diri.
Seperti piring yang kotor, supaya bisa dipakai kembali maka dia harus dibersihkan. Dicuci berulang kali dengan menggunakan sabun agar kotoran terhapuskan dan bersih dari piring tersebut. Bukan sebaliknya piring kotor dibuang ke tempat sampah.
Begitulah orang yang bersalah, dia harus dibina, bukan dihina apalagi dibinasakan dan dicampakkan. Sebab, seburuk apapun manusia, dalam jiwanya ada hasrat untuk berbuat baik.
Seorang bajingan, yang sudah melanglang buana berbuat kesalahan, tak selamanya menginginkan dirinya terus menjadi bajingan. Adakalanya dia ingin terlihat baik dan melakukan kebaikan. Kepada anaknya pun, dia tak ingin keturunannya itu menjadi bajingan seperti dirinya. Dia ingin anaknya menjadi lebih baik dari dirinya.
Kembali lagi pada tema di atas, sesungguhnya tak ada manusia yang sempurna (nobody's perfect). Namun demikian menjaga dan terus memperbaiki diri, jauh lebih baik dibandingkan pasrah dengan keadaan. Teruslah menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.
"Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya."
(sajada.id/)


