Oleh Syahruddin El Fikri
sajada.id/–Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf-huruf suci dari mushaf, tetapi juga tentang bagaimana cara membaca dengan benar, penuh penghayatan, dan sesuai kaidah tajwid. Dalam ilmu qira’at, para ulama mengenal tiga cara utama membaca Al-Qur’an, yaitu tahqiq, tadwir, dan hadr. Ketiganya memiliki kecepatan, nuansa, serta tujuan yang berbeda, tetapi sama-sama bertujuan untuk menjaga keindahan dan ketepatan bacaan Al-Qur’an sebagaimana diturunkan kepada Rasulullah ﷺ.
1. Bacaan Tahqiq
Tahqiq berasal dari kata haqqaqa–yuhaqqiqu, yang berarti membaca dengan penuh ketelitian dan perlahan. Cara ini dilakukan dengan tempo sangat lambat agar setiap huruf, makhraj, dan sifat huruf dapat dikeluarkan secara sempurna. Pembaca juga memperhatikan panjang pendek (mad), dengung (ghunnah), serta hukum tajwid lainnya dengan sangat cermat.
Bacaan tahqiq biasanya digunakan oleh para pengajar Al-Qur’an, ahli qira’at, atau ketika mengajarkan tajwid kepada murid. Dalam bacaan ini, seseorang bisa memanjangkan harakat sesuai hukum tanpa terburu-buru, bahkan cenderung lebih lambat dari bacaan biasa.
Contoh qari yang terkenal dengan bacaan tahqiq:
Syaikh Mahmud Khalil al-Husary (Mesir). Suaranya jernih, pelafalannya sangat jelas, dan setiap huruf terasa keluar dari tempatnya dengan sempurna. Bacaan beliau sering dijadikan rujukan dalam pembelajaran tajwid di berbagai lembaga tahfidz dan universitas Islam.
Manfaat bacaan tahqiq:
Melatih ketepatan makhraj dan sifat huruf.
Sangat baik untuk pemula yang belajar tajwid.
Menumbuhkan kekhusyukan dan penghayatan makna ayat.
2. Bacaan Tadwir
Tadwir berarti membaca dengan kecepatan sedang — tidak terlalu cepat seperti hadr, dan tidak terlalu lambat seperti tahqiq. Gaya ini merupakan cara membaca yang paling umum digunakan oleh para qari dalam tilawah harian, khataman, atau lomba MTQ.
Dalam tadwir, aspek tajwid tetap dijaga dengan baik, tetapi tidak sepelan tahqiq. Pembaca dapat menjaga keseimbangan antara keindahan suara, ketepatan tajwid, dan kelancaran bacaan.
Contoh qari dengan bacaan tadwir:
Syaikh Muhammad Siddiq al-Minshawi dan Syaikh Abdul Basit Abdus Shamad. Keduanya dikenal dengan bacaan yang merdu, penuh perasaan, dan sangat pas untuk tadabbur. Gaya mereka sering digunakan oleh qari MTQ di Indonesia karena memberikan ruang ekspresi suara tanpa melanggar kaidah tajwid.
Manfaat bacaan tadwir:
Cocok untuk tilawah rutin dan perlombaan.
Memudahkan jamaah untuk mendengarkan dan memahami.
Memberi keseimbangan antara keindahan dan ketepatan bacaan.
3. Bacaan Hadr
Hadr adalah cara membaca dengan cepat namun tetap memperhatikan hukum tajwid. Dalam hadr, pembaca tidak berhenti lama di setiap ayat, dan mad dibaca sesuai kadar minimal yang dibolehkan. Cara ini biasa digunakan dalam khataman Al-Qur’an atau ketika membaca dalam shalat tarawih dan tahajud yang panjang.
Namun, kecepatan dalam hadr bukan berarti mengabaikan tajwid. Rasulullah ﷺ sendiri terkadang membaca Al-Qur’an dengan cepat, tetapi tetap menjaga kejelasan huruf dan hukum bacaannya.
Contoh qari atau imam dengan bacaan hadr:
Syaikh Ali al-Hudhaifi (Imam Masjid Nabawi) dan Syaikh Sudais (Imam Masjidil Haram). Keduanya sering membaca dalam tempo cepat saat shalat tarawih, tetapi bacaan tetap jelas, tartil, dan sesuai tajwid.
Manfaat bacaan hadr:
Cocok untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu singkat.
Efektif digunakan dalam bacaan shalat panjang.
Melatih kelancaran dan keistiqamahan membaca Al-Qur’an.
Ketiga cara ini — tahqiq, tadwir, dan hadr — merupakan warisan dari tradisi qira’at Rasulullah ﷺ yang dilestarikan oleh para ulama dan qari dunia. Tidak ada yang lebih utama secara mutlak, sebab masing-masing memiliki konteks dan tujuan.
Jika ingin belajar tajwid dan memperbaiki bacaan, gunakan tahqiq.
Jika ingin mendalami makna dan keindahan bacaan, pilih tadwir.
Jika ingin mengkhatamkan Al-Qur’an atau membaca dalam shalat panjang, gunakan hadr.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan sulit baginya, ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, apa pun cara yang kita pilih, yang terpenting adalah membaca Al-Qur’an dengan benar, tartil, dan penuh penghayatan — sebab di sanalah letak keberkahan dan petunjuk bagi orang beriman.
Wallahu a‘lam.


