Hikmah
Beranda » Berita » Masih Adakah Kepedulian Itu?

Masih Adakah Kepedulian Itu?

Masih Adakah Kepedulian Itu?

Ramadhan telah berlalu, dan hari kemenangan telah tiba. Suara takbir, tahmid, dan tahlil, menggema ke seluruh alam jagat raya. Hiruk pikuk masyarakat muslim menyambut datangnya hari kemenangan itu.

Sahabat, kita semua tentu gembira dengan datangnya Hari Kemenangan setelah sebulan penuh kita berjuang, melawan hawa nafsu. Kita semua bahagia karena bisa merayakan Hari Kemenangan itu dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan bersama anggota keluarga serta orang-orang yang kita cintai.

Di seberang sana, di sebelah rumah kita, atau mungkin jauh di daerah sana, sebagian sahabat kita, masih belum bisa merayakan seperti kita yang bisa memakai pakaian baru, atau bahkan menikmati makanan enak. Mereka mungkin sedang kekurangan atau bahkan kelaparan karena tak ada yang bisa mereka nikmati saat Lebaran.

Taubatnya Sang Perampok

Lebaran memang bukan pakaian yang baru, bukan pula makan enak. Lebaran berarti bertambahnya ketaatan kita kepada Allah SWT.

Begitulah pepatah arab mengatakan. Laisal 'id liman labisal jadid. Wa lakinnal 'id liman tha'ata tazid.

Alangkah indahnya, alangkah bahagianya bila kita bisa merayakan kebahagiaan bersama mereka yang sehari-harinya sedang kekurangan dan memerlukan bantuan.

Sahabat, saat kita menikmati makanan yang enak, marilah kita tengok saudara kita, tetangga kita, barangkali mereka tidak memiliki pakaian atau makanan untuk dinikmati saat merayakan kebahagiaan Lebaran. Atau bahkan sesudah lebaran. Jangan-jangan mereka belum makan atau mungkin tidak memiliki sesuatu untuk dimasak.

Dunia Ladang Akhirat dan Pentingnya Menuntut Ilmu Agama dari Sanad yang Benar

Maka, marilah melalui momentum lebaran ini kita selalu berbagi. Harta yang kita miliki hanyalah titipan Allah kepada kita. Di sana ada hak saudara kita yang sedang kekurangan.


Kita mungkin terbiasa makan makanan enak hingga menghabiskan ratusan ribu atau bahkan jutaan sekali makan. Perut kita menerima apapun yang masuk ke dalamnya. Dia tak pernah memikirkan berapa harganya, tak pernah tau dari bahan apa. Yang terpenting jika sudah masuk ke dalam perut, maka tinggal dinikmati saja.

Tak ada bedanya makan di resto yang paling mewah dengan kaki lima, sebab yang dirasakan hanya sebatas di lidah semata. Saat sudah ke dalam perut, tak ada makanan berharga ratusan ribu atau bahkan jutaan. Padahal yang ribuan atau puluhan ribu, sama saja.

Mbah Moen: Tirakat Paling Mantap Itu Adalah…….

Karena itu, jika sedang berlebih, ingatlah diri kita saat kekurangan. Jika sedang di atas, ingatlah kala di bawah. Insya Allah, hidup akan lebih tenang.

Teruslah menebar kebaikan, dan jangan pernah lelah untuk berbuat baik. Sebab, bila hati dipenuhi iri dengki, maka yang baik bisa jadi buruk, dan sebaliknya yang buruk akan makin buruk.

Mari kita jaga makanan kita dari hal-hal yang diharamkan Allah. Jangan nodai atau bahkan menambah keburukan dengan sesuatu yang tidak dihalalkan oleh Allah.

Penulis teringat pesan almarhum Mbah Moen, ulama kharismatik asal Sarang, Rembang. Kata beliau: "Saat puasa tiba, banyak orang yang tidak mau menelan setetes air yang halal, demi menjaga dirinya supaya tidak membatalkan puasanya. Tetapi anehnya, banyak orang yang berani menelan hak-hak orang lain. Padahal yang demikian itu, justru merusak akhiratnya."

Khutbah Rasulullah Menjelang Ramadhan

Karena itu, jangan lelah untuk menjaga diri dari sesuatu yang diharamkan Allah. Berusahalah mencari rezeki yang halal. Dan jangan lupa, jika ada rezeki berlebih, bantulah tetangga atau orang-orang di sekitar kita yang sedang kekurangan.


Tak usah hirau dengan ocehan orang. Jangan terpengaruh dengan perkataan kotor orang lain. Jika kita berbuat baik, niscaya kebaikan juga yang akan kita dapatkan. Dan kebaikan yang kita tanam, bukan untuk orang lain, tetapi itu sesungguhnya untuk kebaikan diri kita sendiri. Man manna min mannin, munna min mannihi.

Simak Nasihat Mbah Moen

Ramadhan Bagi Sayyidina Hasan, Cucu Nabi SAW

Ini fakta. Banyak orang berbuat baik kemudian dibuli dan dianggap pamer. Jangan hiraukan. Teruslah berbuat baik.

Sebab, jika kita terpengaruh, maka kita akan malas. Terkadang, berbuat baik saja masih dianggap salah, apalagi jika kita berbuat buruk dan salah pasti akan makin disalahkan. Maka, jangan pernah lelah berbuat baik. Salam.

(Syahruddinsajada.id/)

Satu Butir Nasi untuk 2750 Orang