Hikmah
Beranda » Berita » Makna Spiritual Haji Menurut Syekh Junaidi Al Baghdadi

Makna Spiritual Haji Menurut Syekh Junaidi Al Baghdadi

Penulis saat berada di Bukit Marwah (dokpri)
Penulis saat berada di Bukit Marwah (dokpri)

Makna Spiritual Haji Menurut Syekh Junaidi Al Baghdadi

Oleh Syahruddin El Fikri

sajada.id/–Melaksanakan ibadah haji dan mendapat predikat haji mabrur adalah impian setiap muslim yang mengerjakan haji. Mabrur artinya selalu istiqomah dalam menjalankan kebaikan (Al-Birru). Bukan sebaliknya, hajinya tertolak (mardud).

Perjalanan haji dalam setiap lakunya mengandung makna spiritual. Syekh Al Junaid Al Baghdadi, sebagaimana dikutip oleh Al Hujwiri dalam kitabnya Kasyf Al Mahjub, menjelaskan laku spiritual ibadah haji.

Lepas Petugas Haji 2026, Wamenhaj Dahnil Tekankan Kekuatan Mental dan Fisik

Diceritakan, ada seorang laki-laki datang kepada Syekh Al-Junaid. Beliau lalu bertanya pada si pemuda, dari mana ia datang. "Saya baru saja pulang berhaji," jawab laki-laki itu.

Lalu, Syekh Al Junaid memperdalam pertanyaannya;

"Dari saat pertama engkau meninggalkan rumahmu, apakah engkau sudah meninggalkan seluruh dosa?" tanya Al Junaid.

"Tidak," jawab si pemuda itu.

Haji Furoda 2026 Dipastikan Tidak Ada, Ini Penjelasan Resminya

"Kalau begitu," sambung Junaid, "kau belum pergi pada setiap pelabuhan di mana engkau bermalam."

Al Junaid bertanya lagi; "Apakah engkau juga telah melewati sebuah maqam di jalan Allah?"

"Tidak," jawab si pemuda. "Kalau begitu," lanjut Al Junaid, "kau belum melalui jalan tahap demi tahap."

Nasihat Mbah Moen: Jangan Bercerai Hanya Karena Takut….

Kemudian pertanyaan dilanjutkan; "Ketika engkau mengenakan baju ihram pada tempat yang telah ditentukan, apakah engkau sudah meninggalkan sifat kemanusiaan, sebagaimana engkau telah meninggalkan baju sehari-harimu?"

"Tidak," kata si pemuda. "Berarti, engkau belum mengenakan pakaian haji," kata Al Junaid.

"Ketika engkau berdiri di Padang Arafah untuk wukuf, apakah engkau melakukan kontemplasi kepada Tuhan?" tanya Al Junaid. "Tidak," jawab pemuda.

"Maka pada hakikatnya, engkau belum berwukuf di Arafah," ujar Al Junaid.

2.400 Calon Jemaah Haji Depok Ikuti Manasik, Jamaah Diingatkan Bahwa Haji Bukan Wisata Religi

Ia melanjutkan; "Ketika engkau bermalam di Muzdalifah dan mendapatkan semua yang kau inginkan, apakah engkau sudah mencampakkan semua nafsu syahwatmu?" Si pemuda menjawab; "Tidak."

"Maka engkau, belum bermalam di Muzdalifah."

Al Junaid melanjutkan; "Ketika engkau bertawaf mengelilingi Ka'bah dan berlari-lari antara Safa dan Marwah, apakah engkau sudah mencapai tingkat kesucian (Safa) dan kebaikan (muruwah)?"

Tetap Beristighfar Usai Berbuat Baik: Menyadari Keterbatasan Amal Manusia

"Tidak," jawab si pemuda.

"Kalau begitu, engkau belum melakukan sa'i."


"Kemudian, ketika engkau pergi ke Mina, apakah semua ingin munajatnya berakhir?" tanya Al Junaid. "Tidak," jawab pemuda itu.

Di Tengah Konflik Timur Tengah, Saudi Pastikan Haji 2026 Tetap Aman

"Maka engkau belum pergi ke Mina."

Al Junaid melanjutkan; "Ketika engkau sampai di tempat penyembelihan untuk melakukan kurban, apakah engkau telah mengurbankan semua obyek hewani?"

"Tidak," jawab si pemuda. "Maka engkau," kata Al Junaid, "belum berkurban."

"Ketika engkau melempar jumrah (batu-batu), apakah engkau juga telah mencampakkan segala pikiran jahat yang menyertaimu?"

"Tidak," jawab pemuda itu. "Maka engkau," kata Al Junaid, "belum melempar dan melakukan haji."

Atas seluruh pertanyaan yang disampaikan, maka Syekh Al-Junaid al Baghdadi mememerintahkan pada si pemuda. "Kembalilah dan lakukan haji sebagaimana telah aku uraikan sehingga engkau akan mencapai Maqam Ibrahim." (Kasyf al-Mahjûb).

Dari cerita ini, jelaslah bahwa melaksanakan haji bukan sebatas ibadah fisik jasmani, tapi juga perlu laku batin atau spiritual. Sebab, seperti diuraikan di atas, praktik jasmani tanpa laku spiritual hakikatnya seseorang belum berhaji. Wallahu a’lam.

(Syahruddin El Fikrisajada.id/)