Pustaka
Beranda » Berita » Ihya Ulumuddin Menemukan Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati

Ihya Ulumuddin Menemukan Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati

Cover kitab Ihya Ulumuddin
Cover kitab Ihya Ulumuddin

Ihya’ ‘Ulumuddin

Menemukan Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati

Oleh Syahruddin El Fikri

sajada.id/—Sahabat yang dirahmati Allah SWT.

Kitab Tajul Arus: Kitab Tasawuf Praktis Jalan Menuju Allah

Di manakah kebahagiaan itu berada? Pada harta, kedudukan, atau kemewahan? Lalu, mengapa banyak di antara orang yang berlimpah harta sering kali terkena stres? Atau mengapa pula para pejabat dan pengusaha yang mempunyai karier dan kedudukan bagus terpuruk dalam kenestapaan?

Harta melimpah, rumah megah, mobil mewah, kedudukan tinggi, dan beragam kesenangan dunia lainnya, sering kali oleh kebanyakan orang diposisikan sebagai sumber kebahagiaan. Tak heran bila seluruh daya upaya, dari pagi hingga malam, dikerahkan untuk mewujudkan semua kesenangan tersebut tergenggam di tangan.

Baca Juga: Amalan dan Wirid Al Ghazali

Beragam cara dilakukan, beragam upaya diusahakan. Semua dikerahkan dengan satu tujuan, merengkuh kesenangan dunia yang diyakini dengan semua itu kebahagiaan akan diraih. Di sisi lain, kemiskinan ternyata juga menjerembapkan kebanyakan manusia pada kehidupan gelap penuh maksiat.

10 Rahasia Keutamaan Selalu Menjaga Wudhu

Banyak di antara mereka yang menghalalkan segala cara atas nama perut dan cari makan. Waktu seperti terbalik, malam merayap siang terlelap. Lalu, di mana sesungguhnya bahagia itu berada? Kecenderungan menomorsatukan kehidupan dunia dan menomorduakan kehidupan akhirat selalu muncul di sepanjang zaman.

Baca Juga: Ihya Ulumuddin Terjemah Lengkap Karya Imam Al-Ghazali

Tak terkecuali di masa Al-Ghazali, seorang pemikir yang banyak mewarnai perkembangan ilmu keislaman. Ia yang dikenal sebagai hujjatul Islam (pembela Islam) ini menilai, saat kehidupan akhirat dinomorduakan, hal itu merupakan pertanda pemahaman agama umat sedang merosot dan mandek.

Kebaikan! Lakukan Sekarang Jangan Ditunda

Keadaan ini menggerakkan Al-Ghazali menyusun sebuah karya yang kemudian ia beri nama Ihya’ ‘Ulumuddin atau Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama. Dalam buku yang kemudian menjadi karya masterpiece Al-Ghazali tersebut, dibahas empat tema besar.

Tema-tema itu mengenai ibadah, urusan dunia, atau pekerjaan sehari-hati, kejahatan yang merusak atau perbuatan yang membinasakan, dan kebaikan yang membangun atau perbuatan yang menyelamatkan. Al-Ghazali menempatkan pembahasan seputar ilmu yang masuk dalam tema ibadah diuraikan di awal.

Baca Juga: Bolehkah Minum Sambil Berdiri

Ia berkeyakinan, ilmu merupakan alat dan sarana pokok untuk menjadi bekal bagi manusia dalam menjalani kehidupan, baik dalam mewujudkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Pembahasan mengenai ibadah diuraikan dengan sangat perinci, termasuk tentang adab ibadah.

Dari Ketua Umum PBNU Hingga Mantan Menag Hadiri IBF 2023


Selain itu, dijelaskan juga apa saja yang disunahkan, hikmah perintah ibadah, serta dilengkapi dengan pengalaman para ulama dalam mengamalkannya. Di dalamnya juga ada bahasan soal ilmu, adab guru dan murid, rahasia dan keutamaan shalat, rahasia dan keutamaan zakat, dan lainnya.

Pembahasan kedua, tentang urusan duniawi. Dalam pembahasan ini, diuraikan hikmah hubungan antarmanusia, liku-liku yang menghiasinya, apa saja yang disunahkan dalam urusan duniawi, serta memelihara diri dari pengaruh yang berlebihan dalam setiap perbuatan. Bagian dari pembahasan itu adalah adab makan dan minum, adab berteman, adab mengasingkan diri, dan yang lainnya.

Baca Juga; A to Z Masalah Wudhu

Pengen Sehat? Yuk Amalkan Ajaran Islam yang Satu Ini

Pembahasan ketiga, berkisar kejahatan yang merusak. Ada penjelasan mengenai akhlak tercela juga definisi dan hakikat serta batasan akhlak yang tercela.

Tak ketinggalan juga uraian mengapa akhlak menjadi tercela, apa saja yang melatarinya, bahaya apa yang mungkin ditimbulkan oleh akhlak buruk, dan tanda-tanda yang bisa dilihat untuk mengenali gejala-gejalanya secara dini. Pun cara-cara efektif mencegah maupun mengobati jika akhlak kita menjadi buruk.

Di antara yang dibahas adalah keajaiban jiwa, bahaya marah, bahaya perut, dan nafsu seksual. Dalam pembahasan keempat, yaitu kebajikan yang membangun, dijelaskan perihal akhlak mulia, lembut, dan sangat diinginkan siapa saja. Selain itu, mengenai batasan akhlak terpuji, hakikatnya, dan apa saja yang mengantar kita ke arah itu.

483 Wartawan di Jawa Barat Dinyatakan Sangat Kompeten

Di uraikan pula manfaat yang bisa dipetik oleh mereka yang berakhlak mulia, tanda-tanda mereka yang sudah meraihnya, berikut keutamaan yang sanggup mengantarkan kita menuju jalan serta keridaan-Nya. Bagian dari pembahasan keempat itu adalah tobat, sabar dan sikap dermawan, serta sikap pasrah.

Baca Juga: Hadits ke-14 Arbain Nawawi


Menggapai kebahagiaan sejati

Menelusuri bab demi bab Ihya’ ‘Ulumuddin, kita diingatkan oleh Al-Ghazali bahwa kesenangan dunia bukanlah kesenangan yang pantas diburu dengan sepenuh tenaga. Ia meyakinkan, kesenangan dunia hanya mendatangkan kebahagiaan semu dan sementara. Seolah membahagiakan, tetapi kenyataannya jauh panggang dari api.

Melalui bukunya ini, Al-Ghazali menuturkan, kesenangan pada kehidupan akhirat justru akan membuahkan kebahagiaan abadi dan sejati. Untuk itu, Al-Ghazali mengajak kita berusaha sungguh-sungguh menjalani aktivitas akhirat. Juga membingkai aktivitas dunia dengan nilai-nilai akhirat sehingga seluruh aktivitas kita selama di dunia bisa menjadi bekal menghadapi kehidupan akhirat.

Oleh karena itu, meski Ihya’ ‘Ulumuddin disusun ratusan tahun lalu, tetapi tetap relevan dijadikan referensi untuk zaman sekarang. Atas dasar itulah, Republika Penerbit berupaya menghadirkan kembali mahakarya ini untuk pembaca.

Dengan harapan, buku yang dalam edisi Indonesianya akan diterbitkan dalam delapan jilid ini bisa menjadi teman dalam setiap usaha menggapai kesenangan kehidupan di akhirat. Kesenangan yang membuahkan kebahagiaan sejati yang bukan saja di akhirat kita nikmati, melainkan juga di dunia telah kira rasakan.Kebahagiaan yang tak lekang dimakan zaman tak habis ditelan waktu. Insya Allah. (sajada.id/)

Artikel Terkait:

Hadits Pertama Arbain Nawawi

Hadits ke-2 Arbain Nawawi

Hadits ke-3 Arbain Nawawi

Kisah-Kisah Islami dan Inspiratif

A to Z Masalah Wudhu

Tempat-Tempat Bersejarah dalam Al-Quran