SAJADA.ID, DEPOK — Rasulullah SAW mengingatkan umat Islam agar menjalani kehidupan dunia seperti orang asing atau musafir yang sedang menempuh perjalanan. Pesan ini menegaskan bahwa dunia bukan tempat tinggal abadi, melainkan persinggahan menuju akhirat.
Nasihat tersebut termuat dalam Hadis Arbain Nawawi ke-40 yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA. Hadis ini mengajarkan pentingnya mengendalikan keterikatan terhadap dunia, memanfaatkan waktu, dan mempersiapkan bekal sebelum ajal tiba.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي، فَقَالَ: «كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ» وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: «إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW memegang pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
Abdullah bin Umar RA kemudian berkata, “Apabila engkau memasuki waktu sore, jangan menunggu datangnya pagi. Apabila engkau memasuki waktu pagi, jangan menunggu datangnya sore. Manfaatkan kesehatanmu sebelum datang sakitmu, dan manfaatkan kehidupanmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari, no. 6416).
Dunia Hanya Persinggahan, Bukan Tujuan Akhir
Pesan utama hadis ini terletak pada perumpamaan manusia sebagai orang asing atau musafir. Keduanya menggambarkan kehidupan yang tidak menetap dan suatu saat harus meninggalkan tempat persinggahan.
Orang asing mungkin tinggal sementara di suatu negeri. Namun, ia menyadari bahwa negeri tersebut bukan kampung halamannya. Sementara itu, musafir bahkan lebih jelas menunjukkan seseorang yang sedang menempuh perjalanan menuju tujuan tertentu.
Begitulah seharusnya seorang Muslim memandang kehidupan dunia. Ia boleh bekerja, membangun usaha, menuntut ilmu, memiliki rumah, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, semua itu tidak boleh membuatnya melupakan tujuan akhir kehidupannya.
Dunia bukan sesuatu yang harus dibenci. Harta bukan sesuatu yang harus ditinggalkan begitu saja. Persoalannya terletak pada bagaimana manusia memperoleh, menggunakan, dan menempatkan semua itu dalam kehidupannya.
Seorang Muslim menjadikan dunia sebagai sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan, bukan sebagai tujuan yang mengalahkan ketaatan kepada Allah SWT.
Jangan Menunda Kebaikan hingga Esok Hari
Nasihat Abdullah bin Umar RA, “Apabila memasuki waktu sore, jangan menunggu datangnya pagi,” mengandung pelajaran tentang keterbatasan umur dan pentingnya segera beramal.
Tidak seorang pun dapat memastikan bahwa dirinya masih memiliki kesempatan hidup esok hari. Karena itu, kebaikan yang dapat dilakukan sekarang sebaiknya tidak terus-menerus ditunda.
Jika ingin bertobat, jangan menunggu tua. Bila ingin bersedekah, jangan menunggu kaya. Jika ingin meminta maaf, jangan menunggu hubungan semakin jauh. Begitu pula dengan kewajiban yang belum ditunaikan, jangan sengaja menundanya tanpa alasan yang dibenarkan.
Pesan ini bukan berarti manusia tidak boleh merencanakan masa depan. Islam justru mendorong umatnya bekerja, menyusun rencana, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.
Namun, perencanaan masa depan tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kewajiban hari ini. Harapan untuk hidup lebih lama harus berjalan bersama kesadaran bahwa ajal dapat datang kapan saja.
Manfaatkan Kesehatan Sebelum Sakit
Rasulullah SAW memberikan nasihat melalui hadits ini mengingatkan pentingnya memanfaatkan kesehatan sebelum datang penyakit.
Ketika tubuh sehat, seseorang memiliki kesempatan lebih luas untuk beribadah, bekerja, belajar, membantu orang lain, dan menjalankan tanggung jawabnya. Kesempatan itu dapat berkurang ketika kesehatan terganggu.
Karena itu, kesehatan bukan sekadar modal untuk memperoleh penghasilan. Kesehatan juga merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal saleh.
Orang yang sehat dapat menggunakan tenaganya untuk membantu orang tua, merawat keluarga, mendampingi anak belajar, melayani masyarakat, dan meringankan beban sesama. Semua itu dapat bernilai ibadah apabila dengan niat yang baik dan cara yang benar.
Hadis ini juga mengajarkan agar manusia tidak menunggu kehilangan sesuatu untuk menyadari nilainya. Selagi sehat, gunakan kesehatan dengan bijak. Selagi mampu, lakukan kebaikan yang bermanfaat.
Bekali Kehidupan untuk Menghadapi Kematian
Bagian terakhir nasihat Abdullah bin Umar RA berbunyi, “Manfaatkan kehidupanmu sebelum datang kematianmu.” Kalimat ini mengingatkan bahwa kematian merupakan batas berakhirnya kesempatan manusia untuk beramal di dunia.
Selama masih hidup, manusia dapat memperbaiki kesalahan, memohon ampun kepada Allah SWT, menunaikan hak orang lain, dan memperbanyak amal saleh. Setelah kematian datang, kesempatan beramal sebagaimana di dunia telah berakhir.
Karena itu, persiapan menghadapi kematian tidak cukup hanya dengan mengingat kubur atau mengikuti pemakaman. Persiapan yang sesungguhnya adalah memperbaiki kualitas hidup atas usia yang Allah berikan.
Menunaikan salat, menjaga kejujuran, mencari rezeki yang halal, mendidik anak, merawat orang tua, membantu kaum dhuafa, dan menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian dari ikhtiar menyiapkan bekal akhirat.
Manusia juga perlu mengevaluasi dirinya: apakah hartanya diperoleh dengan cara yang benar, apakah lisannya menyakiti orang lain, dan apakah masih ada hak sesama yang belum ditunaikan?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena kesadaran akan kematian seharusnya mendorong perubahan perilaku, bukan sekadar menimbulkan kesedihan sesaat.
Zuhud Bukan Berarti Meninggalkan Dunia
Hadis ini memiliki tujuan bukan untuk menjauhi dunia. Namun, zuhud tidak berarti seseorang harus berhenti bekerja, meninggalkan keluarga, atau menolak kekayaan.
Zuhud lebih berkaitan dengan sikap hati. Seseorang tidak menjadikan harta, jabatan, popularitas, dan kesenangan dunia sebagai ukuran utama keberhasilan hidupnya.
Ia tetap berusaha mencapai kehidupan yang layak, tetapi tidak menghalalkan segala cara. Ia dapat memiliki kekayaan, tetapi tidak melupakan zakat dan sedekah. Selain itu, ia juga dapat memegang jabatan, tetapi tidak menyalahgunakan kekuasaan. Ia dapat menikmati kehidupan, tetapi tidak melupakan kewajiban kepada Allah dan sesama manusia.
Dengan sikap tersebut, dunia justru menjadi ladang amal. Kekayaan dapat menjadi sarana membantu orang lain, ilmu menjadi jalan memberikan manfaat, dan jabatan menjadi kesempatan menegakkan keadilan.
Sebaliknya, ketika dunia menguasai hati, manusia dapat menghabiskan hidupnya untuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya harus ditinggalkan.
Menjadi Musafir yang Tidak Kehilangan Arah
Hadis Arbain Nawawi ke-40 mengajak umat Islam menjalani kehidupan dengan kesadaran bahwa waktu terus berjalan dan kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Menjadi musafir bukan berarti berjalan tanpa tujuan. Seorang musafir justru harus mengetahui arah perjalanannya, mempersiapkan bekal, dan menghindari hal-hal yang menghambatnya sampai ke tujuan.
Demikian pula seorang Muslim. Ia perlu mengetahui tujuan hidupnya, menjaga amalnya, dan menggunakan nikmat dunia untuk memperoleh keridaan Allah SWT.
Kesadaran terhadap kematian tidak seharusnya membuat seseorang putus asa atau kehilangan semangat. Sebaliknya, kesadaran itu mendorongnya hidup lebih bertanggung jawab, menghargai waktu, dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa lama seseorang tinggal di dunia atau seberapa banyak harta yang dikumpulkannya. Yang lebih penting adalah bagaimana ia menjalani kehidupan dan bekal apa yang dipersiapkannya untuk menghadap Allah SWT.
Pesan Hadis Arbain Nawawi ke-40 jelas: jangan terlena oleh kehidupan dunia, jangan menunda amal saleh, dan jangan menyia-nyiakan kesehatan serta umur yang masih diberikan Allah SWT. Sebab, dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat merupakan tempat kembali yang sesungguhnya.
(Syahruddin El Fikri/sajada.id)






Komentar