Hadits
Beranda » Berita » Hadits Arbain Nawawi No. 39: Allah Memaafkan Kesalahan, Lupa, dan Paksaan

Hadits Arbain Nawawi No. 39: Allah Memaafkan Kesalahan, Lupa, dan Paksaan

SAJADA.ID, JAKARTA— Islam mengajarkan bahwa Allah SWT memiliki kasih sayang yang sangat luas kepada hamba-Nya. Karena itu, Allah SWT memaafkan umat Nabi Muhammad SAW atas kesalahan yang mereka lakukan tanpa sengaja, kelupaan yang terjadi di luar kehendak, serta perbuatan yang mereka lakukan karena berada dalam tekanan atau paksaan.

Pesan tersebut terangkum dalam Hadits Arbain Nawawi ke-39. Hadis ini memberikan ketenangan sekaligus pelajaran penting bahwa manusia memiliki keterbatasan. Allah SWT tidak menuntut hamba-Nya atas sesuatu yang berada di luar kemampuan dan kesadarannya.

Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Rasulullah SAW bersabda:

Kemenag Depok Siapkan Acara Hari Santri 2026, Libatkan 144 Pesantren dan 5.000 Santri

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena kesalahan, kelupaan, dan sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan selain keduanya. Imam an-Nawawi mencantumkannya dalam Al-Arba’in an-Nawawiyyah sebagai hadis ke-39.

Allah Memaafkan Kesalahan

Pertama, hadis ini menjelaskan bahwa Allah SWT memaafkan al-khatha’, yaitu kesalahan yang seseorang lakukan tanpa sengaja.

Manusia tentu tidak pernah luput dari kesalahan. Seseorang terkadang bermaksud melakukan kebaikan, tetapi tindakannya justru menghasilkan kekeliruan. Dalam kondisi seperti ini, Islam tidak menyamakan kesalahan yang tidak disengaja dengan tindakan yang seseorang lakukan secara sadar dan sengaja.

Memilih Teman Saleh, Menjauhi Sahabat yang Merusak Hati

Namun demikian, prinsip tersebut tidak berarti manusia boleh menganggap ringan setiap kesalahan. Seorang Muslim tetap harus berhati-hati dalam bertindak. Ketika menyadari kesalahannya, ia perlu segera memperbaikinya, meminta maaf kepada orang yang dirugikan, dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Dengan demikian, hadis ini tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan kesalahan. Sebaliknya, hadis ini mengajarkan keseimbangan antara tanggung jawab dan kasih sayang Allah SWT.

Allah Memaafkan Karena Lupa

Kedua, Rasulullah SAW menyebut an-nisyan, yaitu lupa.

Setelah 35 Tahun, Indonesia Akhirnya Juara pada FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Taklukkan Thailand Lewat Adu Penalti

Lupa merupakan bagian dari sifat manusia. Seseorang dapat lupa terhadap suatu kewajiban, janji, ucapan, atau tindakan yang sebelumnya ingin ia lakukan. Dalam kondisi tertentu, Allah SWT memberikan ampunan atas kelupaan tersebut.

Al-Qur’an juga mengajarkan doa:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah SWT karena kelemahan dirinya. Bahkan, setelah menyadari bahwa dirinya lupa, seorang Muslim tetap perlu segera memperbaiki akibat dari kelupaan tersebut.

Puncak Hari Santri 2026, Kota Depok Hadirkan Gus Kautsar

Karena itu, jangan jadikan hadis ini sebagai alasan untuk meremehkan kewajiban. Seorang Muslim harus tetap berusaha mengingat, menjaga amanah, dan menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh.

Tidak Berdosa karena Paksaan

Ketiga, hadis ini menyebut مَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ, yakni sesuatu yang seseorang lakukan karena mendapat paksaan.

Islam memberikan perhatian terhadap kondisi seseorang ketika ia tidak memiliki kebebasan untuk memilih. Seseorang yang berada dalam tekanan atau paksaan tentu berbeda dengan orang yang melakukan suatu perbuatan berdasarkan kehendak sendiri.

Bukan Sekadar Rekreasi, 180 Warga RW 15 RJB-Depok, Perkuat Silaturahim di Anyer

Allah SWT mengetahui keadaan setiap hamba. Dia mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati, termasuk niat, kemampuan, tekanan, dan kondisi yang seseorang hadapi.

Karena itu, seorang Muslim tidak boleh tergesa-gesa menilai orang lain. Kita sering hanya melihat tindakan seseorang, tetapi tidak mengetahui seluruh keadaan yang melatarbelakanginya. Padahal, Allah SWT mengetahui segala sesuatu secara sempurna.

Islam Tidak Memberatkan di Luar Kemampuan

Hadis ke-39 ini juga memperlihatkan salah satu prinsip penting dalam syariat Islam: Allah SWT tidak bermaksud menyulitkan hamba-Nya.

SMKN 3 Kediri Rintis Bakeri, 144 Siswa Dapat Pembekalan dari Bogasari

Allah SWT berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Ayat tersebut memberikan keyakinan bahwa syariat Islam memiliki prinsip keadilan dan kemudahan. Allah SWT memberikan kewajiban sesuai kemampuan manusia dan memberikan keringanan ketika seseorang menghadapi kondisi tertentu yang menghalanginya menjalankan kewajiban secara normal.

Namun, kemudahan dalam Islam tetap memiliki batas. Seorang Muslim tidak boleh menggunakan alasan “lupa”, “tidak sengaja”, atau “terpaksa” untuk membenarkan perbuatan yang sebenarnya ia lakukan dengan sadar.

Tetap Bertanggung Jawab

Di sinilah pentingnya memahami hadis secara utuh. Allah SWT memang memberikan ampunan atas kesalahan, kelupaan, dan paksaan. Akan tetapi, manusia tetap harus bertanggung jawab terhadap dampak perbuatannya.

Jika seseorang secara tidak sengaja merusak barang milik orang lain, misalnya, ia mungkin tidak mendapatkan dosa seperti orang yang sengaja merusaknya. Namun, ia tetap perlu memperbaiki kerusakan atau mengganti kerugian apabila memang menjadi tanggung jawabnya.

Begitu pula ketika seseorang lupa memenuhi sebuah amanah. Ia perlu segera menunaikannya setelah mengingatnya. Dengan cara tersebut, seorang Muslim tidak hanya mengandalkan ampunan Allah, tetapi juga menunjukkan kesungguhan dalam memperbaiki diri.

Jangan Mudah Menghakimi

Hadis ini juga mengajarkan kita agar tidak mudah menghakimi orang lain.

Ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, kita perlu melihat persoalan secara proporsional. Apakah ia sengaja melakukannya? Mungkinkah ia lupa? Apakah ia keliru? Atau apakah seseorang memaksanya? Pertanyaan semacam ini penting agar kita tidak tergesa-gesa memberikan penilaian.

Allah SWT mengetahui keadaan manusia jauh lebih baik daripada manusia sendiri. Karena itu, kita perlu mengedepankan sikap tabayun, kasih sayang, dan nasihat dalam menghadapi kesalahan orang lain.

Sebaliknya, ketika seseorang melakukan kesalahan, ia tidak boleh menjadikan hadis ini sebagai tempat berlindung untuk menghindari tanggung jawab. Ia harus jujur terhadap dirinya sendiri. Jika kesalahan muncul karena kelalaian, ia perlu memperbaiki kelalaiannya. Jika ia menyakiti orang lain, ia perlu meminta maaf dan memperbaiki hubungan.

Kasih Sayang Allah Sangat Luas

Pada akhirnya, Hadits Arbain Nawawi ke-39 mengingatkan kita tentang luasnya rahmat Allah SWT. Manusia memang lemah, mudah lupa, dan tidak selalu mampu mengendalikan seluruh keadaan yang datang kepadanya.

Namun, Allah SWT tidak memperlakukan manusia dengan ketidakadilan. Dia mengetahui niat dan keadaan setiap hamba. Karena itu, seorang Muslim harus selalu berharap kepada ampunan Allah sekaligus berusaha menjalankan kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Hadis ini juga mengajarkan satu sikap penting: jangan berputus asa ketika melakukan kesalahan. Segera akui, perbaiki, minta maaf jika menyangkut hak manusia, dan mohon ampun kepada Allah SWT.

Dengan demikian, Hadits Arbain Nawawi No. 39 bukan sekadar berbicara tentang kesalahan, kelupaan, dan paksaan. Hadis ini mengajarkan keseimbangan antara rahmat Allah, tanggung jawab manusia, dan kehati-hatian dalam menilai sesama.

(Syahruddin El-Fikri/sajada.id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *