SAJADA.ID — Muktamar Nahdlatul Ulama 2026 harus melampaui rutinitas lima tahunan. Forum ini menjadi momentum strategis untuk menegaskan arah organisasi, terutama dalam memperkuat posisi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di tengah perubahan zaman.
Suksesi kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 hanya sebatas pergantian figur, tetapi harus dengan penegasan agenda besar yang menjawab tantangan kekinian.
Arus digitalisasi bergerak cepat dan mengubah pola belajar generasi muda. Di saat yang sama, polarisasi ideologi kian tajam, sementara lembaga-lembaga Islam global terus memperluas pengaruhnya.
Dalam situasi ini, Aswaja tidak cukup dipertahankan sebagai identitas. Aswaja perlu diperkuat melalui langkah nyata berupa rebranding yang terarah dan berkelanjutan, agar tetap relevan dan berdaya saing.
Aswaja dan Tantangan Pertarungan Ideologi
Ruang kampus dan media sosial kini menjadi arena utama perebutan narasi keislaman. Berbagai paham hadir tanpa batas, mulai dari ideologi transnasional, ekstremisme, hingga liberalisme yang lepas dari pijakan tradisi.
Kondisi ini menuntut respons serius dari NU sebagai penjaga tradisi Aswaja. Aswaja tidak boleh berhenti sebagai simbol atau jargon. Ia juga manhaj berpikir yang mampu menjawab persoalan zaman secara argumentatif dan kontekstual.
Baca Juga: Muktamar ke-XXXV NU 2026, Ini Lokasinya
Rebranding menjadi langkah penting untuk memperkuat kembali posisi tersebut, sekaligus memastikan Aswaja tetap menjadi rujukan di tengah pertarungan ideologi yang semakin terbuka.
Digitalisasi dan Perubahan Otoritas Keagamaan
Generasi Z dan Alpha tidak lagi bergantung pada satu sumber belajar agama. Mereka mengakses pengetahuan dari berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, dan podcast. Perubahan ini membentuk pola baru dalam memahami otoritas keagamaan.
Jika Aswaja tidak hadir di ruang digital dengan pendekatan yang komunikatif dan visual yang kuat, maka jarak dengan generasi muda akan semakin lebar.
Karena itu, kepemimpinan NU ke depan harus mampu mengintegrasikan rebranding Aswaja dengan strategi digital yang efektif, sehingga pesan keislaman tetap tersampaikan dengan relevan dan menarik.
Membawa Aswaja ke Level Global
Perkembangan dunia Islam menunjukkan dinamika yang semakin kompetitif. Lembaga seperti Al-Azhar University dan International Islamic University Malaysia terus memperkuat pengaruhnya di tingkat global melalui pendidikan, riset, dan jaringan internasional.
Aswaja memiliki keunggulan sebagai representasi Islam yang moderat, toleran, dan berakar pada tradisi. Namun, potensi ini membutuhkan strategi yang jelas agar tidak berhenti sebagai wacana.
Rebranding harus juga dengan penguatan riset, kolaborasi global, dan pembangunan citra akademik yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Menghidupkan Warisan Ulama Nusantara
Pemikiran Hasyim Asy’ari, Wahid Hasyim, hingga Abdurrahman Wahid merupakan fondasi penting bagi Aswaja. Warisan tersebut tidak boleh berhenti sebagai arsip sejarah dan jadi kenangan. Tetapi juga harus terus hidup dalam konteks kekinian.
Rebranding menjadi sarana untuk menghadirkan kembali pemikiran para ulama dalam bahasa yang relevan dengan generasi saat ini. Pendekatan kontekstual akan menjaga kesinambungan intelektual, sehingga generasi muda tetap memiliki rujukan yang kuat dan sejalan dengan nilai-nilai Aswaja.
Transformasi Kelembagaan sebagai Kunci
Rebranding tidak cukup berhenti pada tataran gagasan. Banyak lembaga berbasis Aswaja menghadapi tantangan stagnasi dan kurang inovasi, sehingga sulit bersaing di tengah perubahan yang cepat. Kondisi ini menuntut pembenahan yang serius dan terarah.
Kepemimpinan PBNU 2026–2031 perlu mendorong transformasi kelembagaan secara menyeluruh. Pesantren, kampus, dan organisasi NU harus dikembangkan menjadi pusat keunggulan yang adaptif, inovatif, dan kompetitif.
Rebranding dalam konteks ini berarti perubahan cara kerja, pola pikir, serta orientasi gerakan yang lebih progresif.
Muktamar sebagai Penentu Arah
Muktamar NU 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan langkah tersebut. Rebranding Aswaja sebagai Islam moderat, adaptif, dan berdaya saing global harus ditempatkan sebagai agenda utama yang diperjuangkan secara serius.
Dengan arah yang jelas dan kepemimpinan yang visioner, NU memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya, baik di tingkat nasional maupun global.
Muktamar ini diharapkan mampu melahirkan keputusan strategis yang tidak hanya menjawab tantangan hari ini, tetapi juga mempersiapkan masa depan.
Bey Arifin
Pengurus IKAPETE Jombang






Komentar