Jangan hanya meminta fungsi sekunder dan tersier dari suami, sementara fungsi primer diabaikan. Apa Itu?
SAJADA.ID — Nama KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen bukanlah nama asing bagi umat Islam Indonesia, khususnya kalangan pesantren dan warga Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau dikenal sebagai sosok ulama kharismatik yang ilmunya dalam, nasihatnya menyejukkan, dan tutur katanya penuh hikmah. Mbah Moen merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, sebuah pesantren besar yang melahirkan banyak ulama, dai, dan tokoh bangsa.
Kealiman dan kebijaksanaan Mbah Moen membuat setiap nasihat beliau selalu dikenang. Bahkan hingga kini, banyak petuah beliau yang terus hidup dan beredar luas di tengah masyarakat, termasuk tentang rumah tangga, kesabaran, dan jalan menuju ridha Allah.
Mbah Moen wafat dalam keadaan husnul khatimah saat menunaikan ibadah haji, pada Selasa, 6 Agustus 2019, di Makkah al-Mukarramah. Kepergian beliau menjadi duka mendalam bagi umat, tetapi warisan ilmu dan hikmahnya tetap hidup di hati para santri dan kaum Muslimin.
Salah satu nasihat beliau yang kembali ramai diperbincangkan publik adalah kisah ketika ada seorang perempuan datang mengadu soal rumah tangganya.
Dengan hati penuh gundah, perempuan itu mengaku ingin berpisah dari suaminya. Namun jawaban Mbah Moen justru mengejutkan dan menggugah banyak orang.
Ada seorang perempuan mendatangi ulama kharismatik KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen. Dengan hati penuh gundah, ia mengadukan rumah tangganya yang sedang berada di ujung rapuh.
Kepada Mbah Moen, perempuan itu mengungkapkan keinginannya untuk berpisah dari sang suami. Alasannya bukan perkara kecil. Ia merasa sudah terlalu lama memikul beban rumah tangga sendirian, sementara suaminya dinilai tak lagi menjalankan peran sebagaimana mestinya.
“Saya sudah tidak kuat dengan suami saya. Saya ingin bercerai saja,” kata perempuan itu, sebagaimana dikisahkan dalam narasi yang beredar luas di media sosial.
Mbah Moen pun menatapnya tenang. “Memangnya kenapa, Bu?” tanya beliau.
Perempuan itu lalu menumpahkan isi hatinya. “Suami saya sudah tidak punya pekerjaan, tidak kreatif, dan tidak bisa menjadi pemimpin untuk anak-anak. Bagaimana nanti masa depan anak-anak saya kalau ayahnya seperti itu? Saya harus mencari nafkah capek-capek, sementara dia santai saja di rumah.”
Mbah Moen mendengarkan tanpa memotong. Setelah itu, beliau justru memberikan jawaban yang tak terduga.
Analogi Kulkas dan Lemari: Mbah Moen Mengubah Cara Pandang
“Begini,” ujar Mbah Moen. “Ibarat orang punya kulkas, tetapi dipakai sebagai lemari pakaian. Ya jelas tidak akan puas. Tidak muat banyak, tidak ada gantungan, tidak ada laci, tidak bisa dikunci, malah boros listrik.”
Beliau melanjutkan, “Nah, itulah jika sebuah produk digunakan tidak sesuai fungsinya. Sebagus apa pun, kalau tidak sesuai peruntukannya, tetap tidak akan memberi kepuasan.”
Sang perempuan tampak heran. “Hm… lalu apa hubungannya dengan suami saya?”
Mbah Moen lalu menjelaskan bahwa banyak orang, terutama dalam rumah tangga, sering keliru menempatkan fungsi utama dan fungsi sampingan.
“Ibu terlalu berharap suami menjalankan fungsi sekunder, bahkan mungkin tersier. Sementara fungsi primernya justru tidak digunakan,” kata beliau.
Perempuan itu pun membalas, “Saya tidak berharap berlebihan, Mbah Moen. Saya hanya ingin dia menafkahi keluarga dan menjadi pemimpin yang baik.”
Namun Mbah Moen kembali meluruskan sudut pandang itu.
“Itu justru fungsi sampingan dari seorang suami. Sayang sekali jika suami hanya diharapkan sebatas itu. Fungsi primernya yang paling utama malah tidak ibu kejar,” tutur beliau.
Apa Fungsi Primer Suami Menurut Mbah Moen?
Penasaran, sang perempuan pun bertanya, “Lalu, apa fungsi primer seorang suami?”
Di sinilah letak inti nasihat Mbah Moen yang kemudian viral dan menggugah banyak orang.
“Fungsi primer suami adalah menjadi tameng bagi dosa-dosa istrinya di neraka. Saat seorang istri memperoleh ridha suaminya, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah karena keridhaan itu,” ujar beliau.
Mbah Moen kemudian menambahkan nasihat yang sangat kuat maknanya.
“Jadi, meskipun suami hanya duduk diam di rumah, sejatinya ia sangat bermanfaat bagi istri—asal istrinya menggunakan fungsi itu dengan maksimal. Lakukan yang terbaik untuk mendapatkan ridha suami.”
Nasihat itu lalu diperkuat dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ yang sangat masyhur:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Perempuan mana saja yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga.” (HR. Tirmidzi)
“Suami Tidak Bekerja, Tidak Mengapa…”
Nasihat Mbah Moen kemudian berlanjut dengan kalimat yang paling banyak dikutip publik.
“Suami tidak bekerja, tidak mengapa. Yang penting ia masih menjadi suami ibu. Jangan dilepaskan, jangan dicerai. Biarkan ia menjadi tameng dari neraka,” ujar beliau.
Kalimat ini tentu mengejutkan. Sebab dalam logika kebanyakan orang, suami yang tak bekerja sering kali dianggap gagal menjalankan perannya. Tetapi Mbah Moen justru mengajak melihat sisi yang lebih dalam: nilai spiritual dalam ikatan pernikahan.
Beliau menegaskan bahwa selama seorang perempuan tetap berusaha menjaga rumah tangga, berkhidmat kepada keluarga, dan mencari ridha suaminya, maka semua jerih payah itu bukan sia-sia.
Ketika Istri Menjadi Pencari Nafkah, Itu Bernilai Sedekah
Perempuan itu masih menyimpan ganjalan. Ia mengaku lelah karena justru dirinya yang harus bekerja dan menafkahi rumah.
Mbah Moen pun menenangkan.
“Jika ibu yang mencari nafkah, itu tidak masalah. Semua harta yang ibu berikan untuk anak dan rumah tangga dihitung sebagai sedekah yang sangat mulia,” tutur beliau.
Ketika sang perempuan bertanya, “Kok bisa lebih mulia daripada sedekah kepada anak yatim?”, Mbah Moen menjawab dengan penuh hikmah.
“Karena anak yatim bukan bagian langsung dari hidup ibu. Sedekah kepada mereka hukumnya sunah. Sedangkan suami dan keluarga terikat akad nikah, sudah menjadi bagian dari diri ibu. Silakan bersedekah kepada siapa pun, tetapi sedekah kepada keluarga adalah yang paling utama.”
Nasihat ini selaras dengan ajaran Islam bahwa nafkah yang dikeluarkan untuk keluarga bukan sekadar pengeluaran biasa, melainkan ibadah yang bernilai besar di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau gunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim)
Bagaimana Jika Suami Zalim, Bahkan Melakukan KDRT?
Dalam kisah itu, sang perempuan belum selesai. Ia lalu mengajukan pertanyaan yang lebih berat.
“Tapi bagaimana jika suami zalim, bahkan melakukan KDRT?”
Mbah Moen menjawab dengan nada tegas namun tetap menyejukkan.
“Zalimnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Suami akan menanggung akibat perbuatannya. Siksa Allah sangat pedih bagi suami yang menyakiti keluarganya.”
Beliau lalu mengingatkan agar sang istri tidak kehilangan arah dalam ujian.
“Sementara itu, ibu tetap fokus mencari ridha suami. Pernah dengar istri Fir’aun masuk surga? Apa kurang zalim Fir’aun? Ia menyiksa istrinya, bahkan membunuh bayi-bayi. Namun istrinya, Asiyah, tetap bersabar.”
Mbah Moen kemudian mengingatkan doa agung Asiyah yang diabadikan Al-Qur’an:
رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-Tahrim: 11)
Bagi Mbah Moen, keteladanan Asiyah bukan semata soal penderitaan, tetapi tentang iman yang tetap tegak ketika diuji dengan pasangan yang sangat zalim.
Hikmah Besar: Jangan Ukur Rumah Tangga Hanya dari Materi
Nasihat Mbah Moen ini sesungguhnya mengajarkan satu hal yang sering dilupakan banyak pasangan: rumah tangga tidak boleh diukur hanya dari materi.
Suami memang penting sebagai pencari nafkah. Pemimpin keluarga juga penting. Namun dalam pandangan para ulama, ikatan pernikahan jauh lebih dalam daripada sekadar pembagian peran duniawi. Ada nilai ibadah, ada nilai kesabaran, ada nilai ridha, dan ada jalan menuju surga.
Bukan berarti persoalan ekonomi boleh disepelekan. Bukan pula berarti seorang suami bebas bermalas-malasan. Sebab Islam tetap menegaskan bahwa suami memikul tanggung jawab besar dalam rumah tangga. Allah SWT berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)
Karena itu, suami tetap wajib berusaha, bekerja, menafkahi, melindungi, dan memimpin dengan adil. Namun ketika ujian datang, Mbah Moen mengingatkan agar istri tidak terburu-buru melihat rumah tangga hanya dari satu sisi.
Ridha, Kesabaran, dan Jalan Menuju Surga
Kisah ini, betapapun sederhana, menyimpan pelajaran besar.
Bahwa ada kalanya seorang istri merasa paling lelah dalam rumah tangga. Ada kalanya suami jatuh, tak berdaya, atau tak lagi seperti dulu. Tetapi pada saat-saat seperti itulah, iman diuji: apakah pernikahan hanya dipertahankan saat semuanya nyaman, atau tetap dijaga saat badai datang?
Mbah Moen seolah ingin mengajarkan bahwa di balik suami yang tampak lemah, miskin, atau tak berdaya, bisa jadi masih ada satu pintu besar menuju ridha Allah—yakni kerelaan istri untuk tetap berbuat baik, selama tidak melanggar syariat.
Rumah tangga memang bukan hanya tentang cinta. Ia adalah ladang amal, tempat kesabaran diuji, dan jalan panjang menuju surga.
Dan dari kisah ini, satu kalimat Mbah Moen yang paling membekas adalah:
“Jangan dilepaskan, jangan dicerai. Biarkan ia menjadi tameng dari neraka.”
(Syahruddin El Fikri/sajada.id)






Komentar