Agama
Beranda » Berita » Ratusan Dai Dewan Dakwah Dilepas Wakil Ketua MPR

Ratusan Dai Dewan Dakwah Dilepas Wakil Ketua MPR

Ratusan Dai Dewan Dakwah Dilepas Wakil Ketua MPR 

sajada.id/, JAKARTA–Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia kembali melepas 225 dai dan daiyah ke 175 titik di seluruh penjuru negeri pada Jum'at (9/8) di Gedung Nusantara V DPR/MPR. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Dengan semangat kemerdekaan membangun peradaban dari pedalaman.”

Kegiatan bersama mahasiswa ini dihadiri tidak saja dari jajaran Pengurus Pusat DDII tetapi semua unit-unit yang ada di bawah naungan lembaga yang digawangi oleh Dr. Adian Husaini, M.Si.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Adian menyampaikan tentang optimismenya terhadap program pengiriman dai tersebut. Program yang diinisiasi sejak masa Pak Mohammad Natsir ini menjadi program berkelanjutan, “Pengiriman dai adalah melanjutkan kerja dakwah Pak Natsir dalam mengokohkan NKRI.”

Penyelenggaraan Wartawan Mengaji PWI Depok Berlangsung Sukses dan Lancar

Lebih lanjut Adian menyebutkan, “Indonesia itu disatukan oleh dua hal yaitu Islam dan Bahasa Melayu.” Alumni STID sudah membuktikan bagaimana menjadikan Islam ini sebagai wasilan tidak hanya dalam konteks dakwah ilallah, tetapi juga menjaga keutuhan negeri dari selururh penjuru wilayah.

Implementasinya nyatanya adalah dengan menerapkan 6 tahun di STID: 2 tahun di kampus; 2 tahun di masjid (putra) dan komunitas majelis taklim bagi mahasiswa; dan 2 tahun berikutnya melakukan pengabdian di berbagai wilayah Indonesia.Hadir pula dalam pelepasan dai hari ini Bupati Tabalong, Kalimantan Selatan, Bapak Ir. H. Muhammad Noor Rifani, S.H., S.T.

Selain menandatangani MOU dengan Dewan Dakwah terkait dengan program pengiriman dai, Noor Rifani juga mnyampaikan harapannya untuk menjadikan Tabalong sebagai kota yang religius.

“Kami menyambut baik program pengiriman dai ini. Berharap setiap daerah akan ada dainya. Kami mengalokasikan dari APBD insentif untuk mushola dan langgar, listrik dibayarin pemerintah, dan juga menerbitkan surat edaran bagi ASN ketika tiba waktunya sholat hasrus segera sholat berjama'ah.”

Sari Ramada Arafah Siap Beradaptasi dengan Program Umrah Mandiri

Dalam aspek ekonomi, Noor Rifani menyampaikan kerjasama dengan lembaga lain seperti BAZNAS untuk program Bela Tani (Beli Beras dari Petani. Beras ini nantinya akan dibagikan untuk kaum dhuafa dan kaum miskin. Bupati lain yang juga hadir adalah Dato’ Aneng dari Kabupaten Anambas Kepulauan Riau.

Anambas sebagai bagian dari NKRI yang letaknya paling ujung utara menyambut baik program pengiriman dai. Menurutnya, “Pembangunan daerah tidak berhenti pada infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga SDM yang memiliki akhlak mulia sehingga harus dibangun dengan pondasi moral dan spiritual, semoga kehadiran dai bisa mengatasi masalah ini.”

Juga hadir Prof. (H.C.) Dr. Zainulbahar Noor, SE, M.Ec, Pimpinan BAZNAS RI, Bidang Perencanaan, Kajian, dan Pengembangan.

Bukber TK Islam Nuurusysyifaa’ Tanamkan Kepedulian Sosial Sejak Dini

Dalam sambutannya, beliau memandang perlu kerjaama yang lebih dekat lagi dengan Dewan Dakwah karena BAZNAS membutuhkan informasi riil kondisi masyarakat untuk penyaluran dana. Sehingga dengan penandatanganan MoU antara Dewan Dakwah dengan beberapa lembaga yang hadir saat itu: BAZNAS, Kementerian Pertanian, Kemenkumham, Kemenag, dan beberapa daerah kabupaten berdampak positif ke depannya. Dalam distribusi zakat pun, BAZNAS tepat sasaran bagi masyarakat Indonesia.

Tak lupa menyelipkan pesan bagi para dai, “Tugas membina masyakarat bagian dari tugas dai, dan Dewan Dakwah secara konsisten ikut membangun masyarakat ini dari ketertinggalan.”

Perwakilan dari Kemenag, H. Muhammad Fuad Nasar, S.Sos., M.Sc. juga Dr. Zainal Abidin, S.P., M.P dari Kementerian Pertanian mewakili menteri-menterinya senada memberikan apresiasi ke DDII yg sdh stngh abad konen dalam kegiatan dakwah, ikut mengawaln tujuan dan cita-cita negara Indoensia.

Dalam pandangan Fuad, “Agama dan negara, pembangunan bangsa dan umat adalah satu nafas harus saling mengisi. Bentuk sinergi antara negara dan masyarakat – diantaranya Dewan Dakwah – bukti mmerawat negara yang berketuhanan, berkeadaban, dan kerkeadilan.”

Sari Ramada Arafah Berangkatkan Umroh Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H

Fuad menitipkan pesan pada dai yang akan berangkat, “Kami bangga terhadap Dewan Dakwah yang konsisten mengirimkan dai, ini bukan perjalanan biasa tapi perjalanan spiritual keagamaan dan kebangsaan Indonesia.”

Wakil Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Tamsil Linrung juga menyatakan bahwa dai dilepas ke wilayah ke daerah 3T, khususnya terdepan dari mengehadapi tantangan.

Sebagai eks Bendahara Umum Dewan Dakwah, ia sangat paham perjalanan Dewan Dakwah yang telah ikut menjaga keadilan sosial bagian seluruh rakyat indoneisa dari pinggiran sejak masa Pak Natsri.

UIN Ar-Raniry Targetkan Perolehan Dana Riset MoRA 2026 Meningkat

Ia mengisahkan diskusi Pak Natsir tentang dai di wilayah yang terpinggir, terluar, terdepan, dan teraleniasi diwujudkan dalam pengiriman dai yang berkelanjutan. Muakafah dai yang minim dan pengambilan mukafa’ah ke kota per 3 bulan karena waktu dan akses transportasi tidak menyurutkan kerja dakwah para dai. Kalaupun akhirnya ada dai-dai yang menjadi penjabat publik dipastikan bahwa bukan dengan transaksional melainkan dengan cara yang benar.

Sehingga ketika Tamsil menanyakan kepada dai, “Sudah berapa lama berdakwah?” Jawabannya bukan, “Sudah 40 tahun” melainkan “Baru 40 tahun”. Kata sudah menunjukkan indikasi dai akan menyudahi kerja dakwahnya, tapi dengan menjawab baru menunjukkan tidak ada kesudahan dalam berdakwah.


Di akhir sambutannya, Tamsil berharap, “Dai-dai yang hadir hari ini di ruang sidang Nusantara V MPR RI kelak akan kembali duduk untuk mengikuti sidang atau memimpin sidang di MPR untuk sehingga di gedung ini tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesiakan, tetapi semua persoalan negara bisa diselesaikan dengan keumatan keadilan.”

Menag: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Studi Al-Qur’an Dunia

Melengkapi sekaligus menutup acara pelepasan dai, Wakil Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid, Lc., MA. Beliau menegaskan bahwa dalam dakwah tidak ada dikhotomi antara beragama dan berbangsa atau dalam berIndonesia dengan menajalankan agama.

Hal ini sudah dibuktikan oleh Pak Natsir dalam menjaga keutuhan NKRI. 3 April 1950 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Mohammad Natsir, mengajukan gagasan penting, yakni kembalinya Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), setelah sebelumnya hidup dalam Republik Indonesia Serikat (RIS).

Natsir mengomunikasikan ke partai-partai yang ada pada masa itu, tidak hanya partai-partai Islam, tetapi juga partai nasionalis hingga partai-partai Kristen agar kembali pada bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Inilah yang kemudian dikenal dengan Mosi Integral Mohammad Natsir. Itulah sebabnya diusulkan kepada pemerintah untuk menetapkan 3 April sebagai hari NKRI.

Berkenaan dengan pengiriman dai ini, secara khusus, Dr. Hidayat juga mengingatkan bagaimana Rasulullah membangun masyarakat Madinah di awal hijrah, mengukuhkan bahwa,

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam,” (Al Anbiya’ “ 107).

Hidayat juga menyebutkan dalam konteks ini, Rasulullah telah memberikan pegangan yang konkret dalam berdakwah dengan satu hadist,

يا أيها الناس أفشوا السلام، وأطعموا الطعام، وصلوا الأرحام، وصلوا بالليل

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan (orang yang membutuhkan), sambunglah tali silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat,” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majjah).

Beliau jelaskan lebih lanjut, rujukan konkret bagaimana membangun masyarakat madani karena akar sejarahnya jelas, beda dengan civil society yang tidak memiliki rujukan konkret melalui beberapa hal berikut:

Pertama, penyebutan يا أيها الناس , ini menunjukkan pandangan yang visioner bahwa dalam membangun masyarakat harus memanusiakan manusia. Dalam dakwahnya, nabi tidak menyebutkan istilah ‘wahai yahudi, wahai nasrani, wahai kaum anshar, dan seterusnya, tetapi dengan panggilan ‘ya ayyuhannaas’ agar ada keakraban dalam berdakwah.


Kedua, أفشوا السلام. Frasa ini menununjukkan bahwa hadirnya Dai bukan utk permusuhan persoalan tapi menyelesaikan masalah tanpa masalah. Sehingga penting bagi dai membangun dakwah di negeri ini dengan selalu menghadirkan kedamaian, mengikis keterbelakangan, dan mengajarkan solusi.

Ketiga, وأطعموا الطعام. Ini merupakan akhlak mulia yang bisa menghantarkan pelakunya masuk surga. Orang yang memberikan makan kepada orang lain akan memiliki keistimewaan dan kedudukan di masyarakat.

Jika dai belum bisa melakukan ini, pihak-pihak lain yang memiliki punya kewajiban untuk sinergi dengan dai atau memfasilitasi dai agar para dai bisa menjalankan dakwahnya di tengah-tengah masyarakat yang juga mengalami kesulitan.

Keempat, وصلوا الأرحام. Dakwah bukan hanya berusaha menyelesaikan masalah atau pemenuhan kebutuhan fisik, tapi perlu dengan memperbanyak silaturahim. Dai perlu membangun relasi dengan mad’u, da’wahnya harus dengan semangat ayyuhannaas, bukan menjelekan satu dan lainnya. Dalam silaturahim ini basisnya adalah akidah, sehingga harus diawali dengan niat karena dai (umat Islam) adalah sebaik-baik umat,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ

Kelima, وصلوا بالليل. Jika poin kesatu hingga keempat kaitannya dengan hablum minannas, poin keempat adalah hablum minallah. Melakukan taqarraub kepada Allah dengan shalat akan melengkapi ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan melalui poin satu sampai empat.

Hidayat menutup pidatonya bahwa keberadaan dai dan dakwah adalah strategis dan tidak akan berkesudahan. Wafatnya Rasulullah bukan menyebabkan dakwah berhenti, tapi justru meluas ke seluruh penjuru. Dai datang bukan sekadar membebaskan manusia dari keterbelakangan dan kemiskinan, tapi membebaskan manusia agar tidak menjadi budak manusia apalagi budak nafsu.

(Ummu Ahya Giyanti/Staf Pengajar Kampus Putri STID Mohammad Natsir)