Hikmah
Beranda » Berita » Jangan Menyerah, Nikmati Peranmu Saat Ini

Jangan Menyerah, Nikmati Peranmu Saat Ini

Ilustrasi 
Ilustrasi

Jangan Menyerah, Nikmati Peranmu Saat Ini

Oleh Syahruddin El Fikri

Sahabat yang dirahmati Allah SWT.

Kehidupan seseorang berbeda antara yang satu dengan lainnya. Semuanya takkan pernah sama. Mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga aktivitas pada malam hari.

Ramadhan dan Tazkiyatun Nafs

Banyak orang menganggap, hidup ini sangat susah. Berusaha semaksimal mungkin, namun hasilnya tak memuaskan. Beberapa di antara mereka akhirnya putus asa dan menyerah.

Sebagian lainnya tetap bertahan dan mencoba untuk bangkit, mencoba dan terus mencoba. Sebab, selalu ada kemungkinan dengan mencoba. Diam takkan membawa hasil, sedangkan mencoba ada kemungkinan berhasil dan ada kemungkinan pula untuk gagal. Tetapi, dia sudah mencobanya. Kalau berhasil tentu sangat membahagiakan, sebaliknya jika gagal takkan kecewa karena sudah mencobanya.

Yang pasti, semua memang sudah ditentukan oleh Allah. Manusia hanya berusaha, soal hasil kita pasrahkan pada Allah SWT.

Kita mungkin bisa mengambil iktibar dari contoh berikut ini.

Pentingnya Bersedekah


Hujan, dia tak pernah tahu, di mana dia akan turun. Di padang berumputkah, di gurun tanduskah, di tanah suburkah, ataukah di tanah yang berlumpur.

Hujan hanya menjalani perannya, tunduk dan patuh pada takdir yang telah ditetapkan untuknya. Dia berupaya menjalankan semua yang diamanahkan kepadanya, tanpa pernah menolakmya.

Seperti apapun jalan hidupmu, nikmati saja peranmu saat ini, karena engkau tak pernah tahu, ke mana takdir di hari esok kan membawa langkahmu.

Inilah Keutamaan Memberi Makan Orang yang Berpuasa

Oleh karena itu, berbahagialah. Karena pilihan untuk berbahagia masih ada di tanganmu.

Sebab, bahagia itu cukup sederhana, yakni dengan menikmati apa yang telah digariskan, dan tetap menjalani kehidupan apa adanya.

Kita tak perlu iri dengan orang lain, karena antara kita dan orang lain takkan pernah sama. Dan rezeki setiap orang berbeda. Takkan sama dengan yang lainnya.

Contoh kecil; dua pemancing di sebuah kapal, mencoba memancing ikan di laut. Mereka memakai jenis pancing yang sama, umpan yang sama, joran yang sama. Tapi ikan yang didapatkan, antara pemancing yang satu dengan lainnya berbeda. Ada yang mendapatkan ikan besar dan banyak. Sedangkan pemancing satunya lagi hanya mendapatkan sedikit dan ikannya pun kecil-kecil.

Kisah Pertobatan Malik bin Dinar

Pun demikian halnya dengan kita saat ini. Bisa jadi, kita masih lebih beruntung dari tetangga sebelah rumah, atau bahkan dengan teman sekantor kita. Sama-sama di posisinya yang sama, bisa jadi kebahagiaan yang dirasakan berbeda.

Ada contoh lain pula yang bisa dijadikan pedoman untuk kita. Begini kisahnya.


Ada pejalan kaki, iri dengan orang lain yang melintas di sampingnya dengan naik sepeda. Yang menurut dia, sangat asyik dan nyaman memakai sepeda.

Taubatnya Sang Perampok

Tak berselang lama, ada lagi yang naik sepeda motor. Oh, kayaknya asyik dan enak naik motor, tinggal duduk, tanpa mengayuh. Si pemotor pun bangga dan menyombongkan diri karena dia akan cepat sampai ke tujuannya.

Sesaat kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Si pejalan kaki berteduh di sebuah tempat. Dan tak lama, muncul para pemotor yang akhirnya juga ikut berteduh karena badan dan pakaiannya sudah basah kuyup.

Selanjutnya, ada mobil yang melintas hujan dengan santainya. Pejalan kaki, dan pemotor yang tadi sedang berteduh, menggumam dalam hati. 'Alangkah enaknya punya mobil bisa pergi ke mana saja, bahkan saat hujan lebat sekalipun.

Dunia Ladang Akhirat dan Pentingnya Menuntut Ilmu Agama dari Sanad yang Benar

Si pengemudi mobil seolah membusungkan dada karena bisa melewati genangan tanpa terganggu. Naasnya, beberapa saat kemudian, si pengemudi mobil berhenti di ujung jembatan. Dia menggerutu karena tak bisa melewatinya akibat jembatan yang terputus karena derasnya hujan sehingga mengakibatkan banjir.

Ia melihat ke atas. Hujan masih turun dengan lebatnya. Di atas sana, sebuah pesawat melintas. Si pengemudi mobil menggumam, andai dia ada di pesawat seperti itu, maka dia tak akan terjebak banjir seperti dialaminya saat ini. Kekesalan memuncak dalam hatinya dengan kejadian ini.

Sore hari, muncul berita. Pesawat jatuh dan menewaskan semua penumpangnya karena gangguan badai yang sangat dahsyat sehingga membuat pilot tak mampu mengendalikan laju pesawat dengan baik. Mengetahui hal itu, si pengemudi tersadar. Seandainya dia ada di pesawat itu, barangkali dia jadi salah satu korbannya.


Akhirnya, si pejalan kaki, pesepeda, pemotor, pengemudi mobil, berucap syukur atas apa yang dialami. Hujan lebat dan mengakibatkan banjir, serta badai yang menerjang, mungkin membuat mereka merugi. Tetapi, di sebuah tempat, karena hujan yang lebat dan banjir yang terjadi, begitu disyukuri, karena kapal yang tertahan berbulan-bulan akibat kekeringan aliran air, akhirnya bisa melaut kembali.

Sahabat, dari sejumlah kisah ini, hendaknya bisa jadi pelajaran untuk kita. Di atas langit masih ada langit. Maka tak perlu menyombongkan diri. Dan ketika berada di atas, nggak usah terlalu membanggakan diri, karena orang yang berada di bawah, belum tentu mengalami kesusahan dan kekalutan pikiran seperti orang yang punya jabatan. Semua ada hikmahnya.

Semoga bermanfaat. (sajada.id/)