Tiga Tempat Bercahaya di Dunia
Para ulama menjelaskan bahwa ilmu adalah salah satu dari tiga cahaya besar di dunia, dan cahaya itu memancar dari tiga tempat.
SAJADA.ID— Dalam penjelasan ulama yang disampaikan melalui kitab I‘ānatut Thālibīn, juz 3 halaman 157, terdapat sebuah gambaran indah tentang tempat-tempat yang menjadi sumber cahaya di muka bumi. Cahaya yang dimaksud bukan cahaya fisik, tetapi cahaya petunjuk, cahaya keimanan, dan cahaya ilmu yang menerangi kehidupan manusia.
Dalam syarah hadis:
اتَّبِعُوا العُلَمَاءَ فَإِنَّهُمْ سُرُجُ الدُّنْيَا وَمَصَابِيحُ الآخِرَةِ
“Ikutilah para ulama, karena mereka pelita dunia dan lampu penerang di akhirat.”
Para ulama menjelaskan bahwa ilmu adalah salah satu dari tiga cahaya besar di dunia, dan cahaya itu memancar dari tiga tempat berikut:
1. Masjid — Cahaya Ibadah & Hidayah
Masjid adalah tempat pertama yang disebut para ulama sebagai pusat cahaya di bumi. Di sinilah: Zikir ditinggikan, Al-Qur’an dibacakan, Shalat ditegakkan, dan Ilmu dasar agama diajarkan.
Masjid menjadi “lampu” bagi siapa saja yang datang mendekat, sebagaimana firman Allah:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ
“Di rumah-rumah (masjid) yang Allah izinkan untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya.” (QS An-Nūr: 36)
Masjid adalah cahaya pertama — sumber ketenangan dan penegak syiar Islam.
2. Rumah Para Ulama — Cahaya Ilmu
Rumah para ulama atau pendidikan Islam atau majelis taklim, merupakan tempat kedua yang bercahaya. Pengarang Kitab I‘ānatut Thālibīn menjelaskan bahwa ulama adalah: “سُرُجُ الدُّنْيَا” — pelita dunia, dan “مَصَابِيحُ الآخِرَةِ” — penerang akhirat.

Dari tempat merek, atau lembaga tersebut, lmu disebarkan, fatwa diproduksi, kitab diajarkan, murid dibimbing.
Cahaya ilmu dari ulama: (a) Menghilangkan gelapnya kebodohan, (b) Menyelamatkan manusia dari kesesatan; (c) Menghidupkan hati yang mati; dan (d) Menjadi sebab hidayah satu zaman.
Rumah ulama atau majelis ilmu bukan hanya tempat tinggal, tetapi markas cahaya yang menerangi seluruh penjuru, dan selalu diberkahi.
3. Rumah Para Penghafal Al-Qur’an — Cahaya Kalamullah
Tempat ketiga yang bercahaya adalah rumah para huffazh, para penjaga dan penghafal Al-Qur’an.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ، كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ
“Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikit pun Al-Qur’an dalam hatinya, seperti rumah yang runtuh.” (HR. Tirmiżī).

Jika yang tak memiliki Al-Qur’an diserupakan dengan rumah gelap dan rusak, maka rumah yang di dalamnya ada hafalan Al-Qur’an adalah: (a) Rumah yang hidup; (b) Rumah yang bercahaya; (c) Rumah yang dijaga para malaikat; (d) Rumah tempat turunnya rahmat; dan (e) Rumah yang diberkahi.
Cahaya Al-Qur’an adalah cahaya paling murni, paling suci, dan paling kuat menerangi kehidupan.
Di tengah gelapnya zaman, tiga tempat inilah yang menjadi mercusuar bagi umat manusia. Siapa yang mendekat kepada tiga cahaya ini, ia akan mendapatkan hidayah, ketenangan, dan keselamatan dunia–akhirat.
Wallahu a‘lam.
(Syahruddin/sajada.id/)


