
Tasawuf Menurut Syekh Zarruq
Oleh Dr. Heru Siswanto, M.Pd..I
sajada.id/– Dalam akhlak tasawuf, kehadiran seorang hamba dalam beribadah tingkatan ikhlasnya ada tiga macam, yakni: Pertama, ikhlasnya untuk kepentingan dunia seperti melaksanakan sholat duha dengan tujuan biar dagangannya laris manis, kariernya melejit dan lain sebagainya.
Kedua, ikhlasnya untuk kepentingan akhirat seperti melaksanakan sholat, puasa, zakat, menjaga hubungan dengan baik antar sesama dan lain sebagainya dengan tujuan biar bisa masuk surga-Nya Allah SWT dan dijauhkan dari neraka-Nya.
Ketiga, ikhlasnya dalam berbagai ibadah semata-mata untuk mendapatkan ridho-Nya Allah SWT dengan dasar atas nama cinta kepada-Nya. Terkait masuk surga atau neraka itu adalah urusannya Allah SWT. Ini adalah tingkatan ikhlas tertinggi dalam kajian akhlak tasawuf.
Dari ketiga tingkatan ikhlas tersebut paling tidak kita jadikan bahan renungan bersama untuk memperbaiki ibadah kita dihadapan Allah SWT. Sehingga nantinya kita bisa benar-benar menjadi insan kamil (menemukan relasi kesadaran dalam hidup dan kehidupan).
Lalu bagaimana dengan banyaknya orang beribadah tapi justru makin jauh dari Allah SWT?…… Ternyata ini Kesalahan yang fatal seorang hamba, sebagaimana yang pernah dibongkar oleh Syekh Zarruq kurang lebih 500 tahun silam.

Bahkan dalam kajian sederhananya, misalkan ada orang malamnya rajin shalat tahajud, siangnya rajin puasa Senin-Kamis, hari-harinya diisi baca Al-Qur'an tapi hatinya masih dipenuhi sifat iri, dengki, sombong, cinta dunia dan lupa kehidupan di akhirat kelak. Lalu apa yang salah ya?…….
Terkait akan hal ini, Syekh Zarruq dalam kaidah-kaidah tasawufnya pernah memberikan penegasan secara gamblang dengan untaian kalimat khasnya "Amal tanpa adab seperti bangunan tanpa pondasi, cepat atau lambat akan roboh".
Sehingga titik temu yang menjadi point rahasianya adalah tasawuf bukan tentang ngelmu tinggi atau semacam ritual aneh dan nyeleneh. Akan tetapi tasawuf adalah tentang bagaimana memperbaiki hati dalam setiap detik kehidupan kita (baik dalam hablum minallah, minannas maupun hablum minal alam).
Oleh karena itu ada tiga kunci tasawuf dalam kehidupan sehari-hari yang jarang diketahui oleh khalayak umum:
Pertama, benarnya niat kita dalam beribadah lebih berat daripada ibadah 1000 tahun lamanya. Sebagaimana penjelasan Syekh Zarruq dalam hal ini "Amal kecil dengan niat tulus mengalahkan amal besar dengan riya’."
Kedua, jangan sampai kita merasa paling suci diantara yang lain, sebab ini adalah pertanda bahaya yang mengintai kita. Terkait hal ini, sebetulnya banyak sekali orang yang terjebak dalam spiritual pride (merasa paling shaleh, paling benar, paling hebat). Sebagaimana penjelasan Syekh Zarruq "Orang yang mengenal Allah SWT, justru makin merasa tak tahu apa-apa."
Ketiga, tasawuf itu sangat praktis untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ambil satu contoh bersikap baik kepada tetangga itu lebih utama daripada dzikir 1000x tetapi masih senang menyakiti orang tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Dalam penjelasannya Syekh Zarruq mengatakan: "tasawuf adalah adab di setiap waktu, tempat, dan keadaan." Dan, ini bisa jadi, memaafkan orang yang menyakiti kita adalah dzikir terberat tapi paling bermakna dalam hidup. Bahkan terkadang Kita sering "ribet dan semrawut" dalam mencari cahaya lewat ritual-ritual tertentu. Padahal mungkin saja kita sedang lari dari kegelapan dalam diri sendiri yang selama ini membelenggu.
Untuk lebih jelasnya lagi, kita bisa membaca karyanya Syekh Zarruq, yakni "Kitab Qawa’id At-Tashawwuf" yang berperan penting dalam perkembangan ilmu tasawuf di zamannya dan masih relevan hingga saat ini.
Di mana kitabnya ini, selain sebagai landasan metodologis dan sistematis dalam memahami tasawuf, termasuk juga kitabnya ini berperan aktif mengembalikan hakikat tasawuf serta kaitannya dengan berbagai disiplin ilmu Islam saat itu. Dan, sangat membantu sebagai referensi tambahan dalam kajian PAI-BSI (Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner) saat ini.
Oleh karena itu, Qawa’id At-Tashawwuf adalah warisan intelektual yang patut dikaji untuk menjaga peradaban tasawuf dalam Islam.
Terakhir sebagai catatan harian kita hari ini, diantaranya: Pertama, kita jangan merasa lelah dengan agama yang terkadang terasa kaku dan formalistik dalam pandangan kita.
Kedua, pentingnya memotivasi diri untuk memahami tasawuf tanpa mistik yang berlebihan tentunya, melainkan jadikan tasawuf sebagai panduan hidup kita sehari-hari. Demi mendapatkan kemaslahatan baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Ketiga, jangan lupa selalu mengoreksi diri, jangan-jangan selama ini ibadah kita hanya untuk pamer semata, bukan untuk mendapatkan ridho-Nya Allah SWT.
Mari kita jadikan tasawuf sebagai laku-lampah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penuh riang dan gembira…nikmat mana lagi yang kita dustakan?…..
Semoga Bermanfaat…..
*Ketua Program Studi dan Dosen PAI-BSI (Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner) Pascasarjana IAI Al-Khoziny Sidoarjo; Dosen PAI-Terapan Poltek Pelayaran Surabaya; Pengurus Lembaga Takmir Masjid PCNU Sidoarjo; Ketua Lembaga Dakwah MWCNU Krembung.


