Oleh Bey Arifin, Pengurus IKAPETE Jombang
SAJADA.ID–Literasi santri hari ini tidak lagi sebatas kemampuan membaca kitab kuning atau memahami teks keagamaan klasik. Di era globalisasi dan Generasi Z, literasi harus dimaknai lebih luas sebagai kemampuan membaca realitas dan merespons perubahan zaman.
Santri dituntut tidak hanya memahami teks, tetapi juga mampu menafsirkan dinamika kehidupan dengan pijakan nilai yang kokoh. Inilah tantangan utama yang dihadapi dunia pesantren hari ini.
Dunia bergerak sangat cepat, sementara tradisi pesantren dibangun di atas kedalaman, ketekunan, dan kesinambungan sanad. Ketika kedalaman bertemu kecepatan, sering kali yang muncul adalah ketegangan, bukan dialog.
Perluasan Makna Literasi Santri
Perubahan zaman menuntut perluasan cara pandang terhadap literasi. Santri tidak cukup hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga harus mampu membaca konteks dan realitas sosial.
Literasi dalam arti luas mencakup kemampuan memahami informasi, mengolahnya, lalu meresponsnya secara bijak. Dengan demikian, literasi menjadi alat untuk menghadirkan nilai Islam dalam kehidupan yang terus berubah.
Ragam Tantangan Literasi di Era Digital
Tantangan pertama adalah literasi digital. Generasi Z hidup dalam ekosistem algoritma, yakni saat informasi datang tanpa diminta dan tidak semuanya dapat dipercaya.
Otoritas keilmuan kini harus bersaing dengan viralitas dan popularitas. Karena itu, santri harus mampu memverifikasi, mengkritisi, dan menyaring informasi secara bijak.
Tantangan kedua adalah literasi kritis. Pesantren sebenarnya memiliki tradisi kuat dalam berpikir kritis melalui bahtsul masail, munazharah, dan kajian lintas kitab.
Namun, metode tersebut perlu diaktualisasikan dalam menjawab isu-isu kontemporer. Misalnya kecerdasan buatan, bioetika, ekonomi digital, hingga krisis lingkungan yang semakin kompleks.
Tanpa kemampuan ini, santri berisiko menjadi penjaga teks yang terputus dari realitas. Padahal, tantangan zaman membutuhkan jawaban yang kontekstual.
Tantangan ketiga adalah literasi budaya. Arus globalisasi membawa budaya yang cepat, instan, dan sering kali tanpa filter.
Jika tidak memiliki fondasi nilai yang kuat, santri bisa mengalami keterasingan budaya. Ia tidak sepenuhnya memahami tradisinya, namun juga tidak utuh dalam budaya global.
Tantangan keempat adalah literasi komunikasi. Gagasan yang baik tidak cukup hanya benar, tetapi juga harus disampaikan dengan cara yang tepat.
Banyak pemikiran santri yang mendalam, tetapi belum mampu menjangkau ruang publik. Keterampilan menulis populer dan memanfaatkan media digital menjadi kebutuhan penting.
Tantangan kelima adalah literasi integratif. Dunia modern menuntut pendekatan multidisipliner dalam memahami berbagai persoalan.
Santri tidak cukup hanya memahami fikih atau tafsir, tetapi juga perlu memiliki wawasan tentang sains, teknologi, ekonomi, dan sosial. Dengan begitu, pemikiran keislaman tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Peluang dan Arah Transformasi
Di balik berbagai tantangan tersebut, tersimpan peluang besar. Pesantren memiliki kekuatan pada kedalaman spiritual, adab, dan kesinambungan sanad keilmuan.
Jika kekuatan ini dipadukan dengan literasi modern, akan lahir generasi santri yang cerdas sekaligus matang secara moral. Inilah modal penting untuk menghadapi masa depan.
Teladan seperti KH Hasyim Asy’ari menunjukkan bahwa ilmu harus berjalan seiring dengan adab. Sementara KH Abdurrahman Wahid membuktikan bahwa santri mampu berdialog dengan dunia modern tanpa kehilangan jati diri.
Karena itu, yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar peningkatan kemampuan teknis. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang dalam memahami literasi itu sendiri.
Santri harus bergerak dari pembaca teks menjadi penafsir zaman. Dari konsumen informasi menjadi produsen gagasan yang memberi arah bagi peradaban.
Jika hal ini terwujud, santri tidak hanya akan bertahan di era globalisasi. Ia justru akan menjadi aktor penting dalam menghadirkan Islam yang ramah, mendalam, dan relevan bagi masa depan.
(Syahruddin/sajada.id)






Komentar