SAJADA.ID, DEPOK — Semaan dan Khotmil Al-Qur’an bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi menjadi momentum mempererat hubungan seorang hamba dengan Allah SWT sekaligus bentuk bakti kepada kedua orang tua, para guru, dan kaum Muslimin yang telah wafat melalui doa dan menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an.
Hal itu disampaikan Ust. H. Syahruddin El Fikri, Pengasuh Majelis Taklim Rumah Berkah, dalam tausiyahnya pada kegiatan Semaan dan Khotmil Al-Qur’an di Depok, Ahad (28/6/2026).
Menurutnya, membaca, mempelajari, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat dicintai Allah SWT.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).
“Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak diukur dari jabatan atau kekayaan, tetapi dari kedekatannya dengan Al-Qur’an. Karena itu, semaan dan khotmil Al-Qur’an hendaknya menjadi jalan untuk semakin mencintai Al-Qur’an, bukan sekadar menyelesaikan bacaan,” ujar Syahruddin.
Ia juga mengingatkan hadis Nabi ﷺ tentang keutamaan majelis Al-Qur’an.
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya, melainkan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dinaungi para malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim).
Menurut Syahruddin, salah satu niat mulia dalam semaan dan khotmil Al-Qur’an adalah menghadiahkan pahala bacaan kepada kedua orang tua, keluarga, guru, serta kaum Muslimin yang telah mendahului.
“Ini merupakan bentuk birrul walidain yang tidak terputus meski orang tua telah wafat. Kita memohon kepada Allah agar pahala bacaan Al-Qur’an menjadi hadiah yang bermanfaat bagi mereka,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa banyak ulama membolehkan menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang yang telah meninggal. Di antaranya adalah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab Ar-Rūḥ.
Dalam kitab tersebut, Ibnu Qayyim menulis:
وَأَمَّا وُصُولُ ثَوَابِ الْقِرَاءَةِ وَإِهْدَاؤُهُ إِلَى الْمَيِّتِ تَطَوُّعًا بِغَيْرِ أُجْرَةٍ، فَهَذَا يَصِلُ إِلَيْهِ، كَمَا يَصِلُ ثَوَابُ الصَّوْمِ وَالْحَجِّ
“Adapun sampainya pahala bacaan Al-Qur’an yang dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal secara sukarela tanpa imbalan, maka pahala itu sampai kepadanya, sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji.”
Ketua Umum Yayasan Rumah Berkah Nusantara ini mengatakan, pendapat tersebut menunjukkan bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang tua atau kerabat yang telah wafat merupakan amalan yang memiliki landasan kuat dalam khazanah fikih Islam, meskipun terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai rinciannya.
“Yang terpenting adalah kita terus mendoakan kedua orang tua, memperbanyak istighfar untuk mereka, bersedekah atas nama mereka, dan jika disertai hadiah pahala bacaan Al-Qur’an, kita berharap Allah SWT berkenan menyampaikannya kepada mereka,” ungkap pengisi kajian di beberapa majelis taklim ini.
Menutup tausiyahnya, Syahruddin mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan hanya dibaca ketika ada acara khataman.
“Semaan dan khotmil Al-Qur’an hendaknya menjadi awal lahirnya generasi Qurani, yaitu generasi yang membaca, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an. Semoga setiap huruf yang kita baca menjadi cahaya bagi kehidupan kita, menjadi pemberat timbangan amal, serta menjadi hadiah terbaik bagi kedua orang tua dan seluruh kaum Muslimin yang telah wafat,” ujar Syahruddin yang juga jurnalis senior ini.
Syahruddin menegaskan, semaan dan khotmil Al-Qur’an juga merupakan ikhtiar untuk menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan pribadi, keluarga, hingga masyarakat. Menurutnya, keberkahan sebuah negeri tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga oleh tingkat ketakwaan penduduknya kepada Allah SWT.
Ia mengutip firman Allah SWT:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96).
“Kalau kita ingin negeri ini diberkahi Allah, keluarga kita dipenuhi ketenangan, usaha dimudahkan, dan anak-anak tumbuh menjadi generasi saleh, maka kuncinya adalah iman dan takwa. Salah satu wujudnya ialah memuliakan Al-Qur’an dengan membacanya, mentadabburinya, mengamalkannya, dan menjadikannya pedoman hidup,” kata Syahruddin.
Menurutnya, semaan dan khotmil Al-Qur’an bukan sekadar mengejar target khatam 30 juz, melainkan juga menjadi benteng spiritual bagi keluarga dan masyarakat di tengah berbagai tantangan zaman.
“Al-Qur’an adalah benteng kehidupan. Ketika rumah-rumah kita hidup dengan bacaan Al-Qur’an, insya Allah rumah itu akan dipenuhi sakinah, dijauhkan dari berbagai keburukan, dan para penghuninya memperoleh ketenangan. Karena itu, semaan dan khotmil Al-Qur’an hendaknya menjadi budaya yang terus dijaga, bukan hanya saat ada peringatan kematian atau acara tertentu,” ujarnya.
Ia kemudian mengingatkan sabda Rasulullah SAW:
اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِ
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
“Jangan sampai Al-Qur’an hanya hadir di rak buku atau dibaca ketika ada musibah. Jadikan ia sahabat hidup, cahaya hati, penuntun keluarga, sekaligus benteng moral bagi masyarakat. Insya Allah, dengan Al-Qur’an, Allah akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi,” pungkasnya.
(SFR/Sajada.id)






Komentar